WeLcoMe 2 my BloG

for all the humans,witches,planet things and all God's creatures..welcome to my blog and read my ordinary write with ordinary ideas...coz this is so far of puuurrrfect..aniwei enjoyyy..^^

Jumat, 08 April 2011


**A POSTCARD FROM HEAVEN**

Siang ini udara terasa sejuk, mungkin karena pagi tadi hujan terus saja mengguyur puncak bukit di pemukiman ini. Jangankan dingin karena hujan, hari biasa pun di musim panas, udara di kota kecil ini yang dekat dengan daerah pegunungan tetap terasa dingin walaupun tidak terasa menusuk tulang seperti hari ini.

Maurie, gadis berusia 22 tahun yang beberapa tahun ini bermukim di daerah puncak yang sejuk ini, tampak sedikit kedinginan. Hari ini selain memakai cardigan rajut yang biasa ia pakai, ia menambahkan sehelai syal agak tebal untuk menghangatkan leher dan tengkuknya. Dengan memeluk beberapa kuntum bungan crisan berwarna putih dan kuning cerah, Maurie seperti biasa melangkah menuju toko buku tua yang terletak tak jauh dari pusat kota, dan sudah menjadi toko buku langganannya.

Toko buku tua yang bertuliskan “ Florence Books” di papan yang terpampang tepat di atas toko yang tidak berpintu itu. Maurie masuk ke dalam toko dan menyapa seorang bapak tua yang sedang duduk di meja kasir di temani secangkir kopi hitam pekat yang hangat dan sebuah buku setebal kamus yang sedang di bacanya.

“ Halo..selamat siang Pak Atma...”, sapa Maurie ramah. Bapak tua yang biasa di panggil Pak Atma’pun menoleh dan balas menyapa dengan tersenyum. “ Siang, Maurie..”, sapanya.

“ Mau membeli kartu pos lagi..?”, tanya Pak Atma sambil menyeruput kopinya, “ Hmm..iya, apa ada kartu pos gambar terbaru?”, tanya Maurie sambil memilih-milih kartu pos yang tersimpan rapi di dalam rak besi. dari berpuluh-puluh kartu pos yang ada di rak itu, ia tampak belum menemukan selembar kartu pos yang menarik perhatiannya. Maurie kembali membolak-balik kartu pos-kartu pos di tangannya, dari yang bergambar lukisan bunga matahari, pemandangan pantai sampai kartu pos yang bergambar kota-kota tua di dunia. Tapi tak satupun ada yang menarik minatnya.

Kartu pos-kartu pos tadipun kembali ia simpan di dalam rak dengan rapih, dan sebelum Maurie melangkahkan kakinya menuju rak buku yang lain, Pak Atma menghampirinya dengan membawa beberapa lembar kartu pos di tangannya.

“ Ini..beberapa kartu pos yang baru saja di kirim putriku...”, kata Pak Atma seraya menyerahkan kartu pos-kartu pos itu pada Maurie. “ Waah..kartu pos ini bagus-bagus sekali..”, pikir Maurie dalam hati. “ Bagaimana? bagus-bagus kan?”, tanya Pak Atma. “ Bagus-bagus banget, Pak...rasanya saya ingin beli semuanya..”, seru Maurie. Pak Atma hanya tersenyum mendengar pujian dari pelanggan setianya itu, walaupun kedatangan Maurie kadang hanya untuk membeli selembar kartu pos do tokonya.

Dan setelah menghabiskan tak lebih dari satu jam di toko buku tua milik Pak Atma, Maurie melangkah pulang dengan membawa enam lembar kartu pos dari sepuluh kartu pos yang tadi di tawarkan Pak Atma. Dengan senyum puas yang tersungging di wajahnya, Maurie kembali melihat-lihat kartu pos-kartu pos itu di dalam bus menuju rumahnya. Rasanya ia puas sekali melihat kartu pos-kartu pos yang dikirim putri Pak Atma yang sedang menetap di Florence, kota kecil di Italia. Dan dengan melihat kartu pos-kartu pos yang bergambar keindahan dan keromantisan kota-kota di Itali, Maurie akhirnya tahu betapa Italia begitu melekat di hati Pak Atma.

Mendengar kata Florence, memang tak akan jauh dari Pak Atma. Yaa..Pak Atma memang punya banyak kenangan manis di kota itu. Dari kenangan masa mudanya dulu, perkenalan dengan almarhumah istrinya yang memang warga asli Florence, sampai kenangan bersama putri semata wayangnya yang kini juga menikah dengan penduduk kota yang pernah di tinggali oleh maestro dunia Michaelangelo itu. Oleh karena itu Florence begitu lekat di dalam hidupnya, dan untuk tidak melupakan kota kenangannya itu, Pak Atma sampai memakai nama Florence untuk toko bukunya.

Dan selepas kepergian istrinya yang menderita kanker, Pak Atma memutuskan kembali ke tanah air dan membuka usaha toko buku, dan untuk menghabiskan masa tuanya, Pak Atma memilih untuk tinggal di Puncak ini. Ia sama sekali tidak memilih tinggal di kota-kota besar di Indonesia, yang bisa menawarkan banyak kemudahan untuk hidupnya. Tapi yang di carinya kini hanyalah ketenangan dan ketentraman hidup. Dan berbekal kemandirian di negeri orang dulu selama berpuluh-puluh tahun, Pak Atma kini tidak mengalami banyak kesulitan hidup seorang diri.Dan ia memilih daerah kecil sejuk ini, sama seperti Maurie.

Sesampai di rumah bertingkat tiga yang memang di sewakan untuk para pelancong dan orang-orang yang ingin tinggal lebih lama lagi di sini, Maurie merebahkan tubuhnya di atas sofa putih di ruang tengah. Dan setelah melepas lelah beberapa menit, ia mengambil bunga-bunga crisan yang tadi di belinya ke dalam dapur, Maurie mencucinya sampai bersih dan memasukkannya ke dalam vas kaca bening di atas meja, tepat bersebelahan dengan sofa. Setelah puas merangkai rapih bunga-bunga itu, Maurie masuk ke dalam kamarnya, dan tak lupa ia mengambil kartu pos-kartu pos tadi dari dalam tas dan menaruhnya ke dalam laci kayu mungil bertingkat dua berwarna coklat, tempat ia menyimpan kartu pos-kartu pos yang di belinya. Dan hari itu Maurie berniat akan mengirimkan kartu pos esok pagi, seperti biasanya.

Setelah kemarin pagi hujan, hari ini langit terlihat cerah, warna biru laut dan putih memang perpaduan indah untuk menikmati sinar matahari pagi ini. Jam weker yang setia membangunkannya setiap jam tujuh pagi langsung di matikan, mata yang terasa masih sangat mengantuk di lawan Maurie agar bisa segera bangun, dan untuk melepas sisa-sisa kantuknya, ia menguap sepuas-puasnya. Untunglah pagi ini tidak hujan, jadi Maurie bisa bangun tanpa harus mengenakan jaket atau sweater tebal.

Sambil mencari-cari sandal berbulu lembut berwarna pink yang biasa ia pakai di dalam rumah, Maurie mengucek-ucek mata dan menggaruk-garuk rambutnya, entah karena gatal atau kebiasaan saat bangun tidur, yang pasti tanpa harus mencari lebih lama lagi, sandal berbulu pink sudah ia kenakan dan langsung menuju kamar mandi untuk membasuh muka.

Akhirnya setelah semua nyawa terkumpul dan sudah sadar penuh dan tidak lagi bermimpi, Maurie membuat secangkir susu coklat panas, dan ia membawa cangkir itu ke ruang tengah dan duduk di sofa. sambil meniup-niup susu yang masih panas, ia mengambil kartu pos di atas meja dan membaca beberapa baris tulisan yang semalam ia tulis di sana.

“ Dear Jefry...,

Ini adalah kartu pos’ku yang ke dua puluh, aku harap kamu tidak akan pernah bosan menerimanya. Setiap tanggal dua belas aku selalu berharap kartu pos ini akan sampai padamu. Karena aku ingin kita selalu saling mengingat semua kenangan. Dan aku tidak akan pernah lupa, akan selalu mengirimkan kartu pos padamu...

PS : Oya..kebetulan hari ini di bulan November adalah hari jadi kita, kamu masih ingatkan? Happy Anniversary..”

Love..,

Ur eM

Setelah membaca tulisan di kartu pos itu, Maurie masuk kembali ke dalam kamar, ia membuka laci bawah mungil coklat tempat ia biasa menyimpan kartu pos, ternyata Maurie tidak hanya menyimpan kartu pos di sana, ia juga menyimpan berhelai-helai pita kecil berwarna hijau dan beberapa balon yang belum ia tiup, dan semua balon itu juga berwarna hijau. Dan setelah mengambil pita dan balon yang sudah menggelembung, Maurie menuju ke arah balkon, tak lupa ia juga membawa kartu pos yang tadi di bacanya di sofa, juga secangkir susu coklat yang belum di habiskannya.

Walaupun pagi ini cerah, tapi semilir angin pagi masih begitu terasa, sampai menghempaskan rambut hitam Maurie pagi itu. Sambil menghirup udara pagi yang sejuk, tangan kanan Maurie memegang balon hijau yang sudah berbenang, di bawah benang itu terselip kartu pos yang sudah di kaitkan dengan pita warna senada.

“ Tuhan..tolong sampaikan kartu pos ini padanya....”, doa Maurie dalam hati yang kemudian melepas balon ber’kartu pos itu terbang di atas awan dan dengan bantuan angin, balon itu perlahan pergi meninggalkan Maurie yang berdiri di atas balkon sambil menatap ke arah langit sampai balon hijau ber’kartu pos itu menghilang tertutup awan.

“ Maaf Pak.., saya mencari buku-buku tua karya Ken Follet, apa di sini ada ?”, tanya seorang pemuda pada Pak Atma. “ Tapi saya mencari yang asli, maksud saya bukan yang terjemahan, tapi yang masih berbahasa inggris..”, kata pemuda itu lagi. Dan sebelum Pak Atma turun dari bangku kasirnya dan membantu mencarikan pemuda itu buku yang sedang di carinya, ia kembali mengoceh, “ kalau ada yang The Pillar of The Earth yah Pak atau Lie Down with Lions..oya juga buku-bukunya Paulo Coelho”, pintanya lagi. Pak Atma dengan tersenyum berkata ramah pada pemuda yang mungkin akan menjadi pelanggan barunya ini. “ Saya bantu carikan..”

Pak Atma kemudian menuju rak buku paling belakang di tokonya di ikuti pemuda itu, rak tempat ia menyimpan buku-buku lama yang sudah terbaca. Di rak itu memang tersimpan buku-buku asli berbahasa inggris, dari novel sampai biografi. Dan semuanya buku-buku second yang masih banyak di cari oleh para kurator buku-buku antik. Semua buku-buku tua itu adalah koleksi Pak Atma selama ia tinggal di Italia ataupun bahkan beberapa ia dapatkan saat sedang melancong ke negara lain. Semua di bawa Pak Atma saat kembali ke Indonesia. Dan kini di jualnya di toko buku miliknya.

Setelah selama tidak lebih dari dua puluh menit mencari, Pak Atma memberikan buku karya Ken Follet yang di minta oleh pemuda itu. Pemuda berkulit putih dan tinggi itu kemudian tersenyum puas setelah melihat buku yang di carinya itu sudah ada di depan mata. “ Akhirnya..akhirnya gue temukan juga buku ini “, serunya sambil membolak-balik halaman buku yang berjudul The Pillar of The Earth itu. “ Oya..tadi kamu juga cari buku-bukunya Paulo Coelho kan? judul apa yang kamu cari?”, tanya Pak Atma ramah. Pemuda yang masih kegirangan tadi kemudian tersadar, “ ooohh iya..itu Pak..yang judulnya The Zahir, The Fifth Mountain sama...adduuh apa yaa?? yang sungai Piedra gitu lho Pak..saya lupa judul lengkapnya..”, jelas pemuda itu kebingungan.

“By The River Piedra I sat down and wept?”, tanya Pak Atma. “ Betul..betul Pak..iya..iya yang itu...”, seru pemuda itu lagi. Tapi sebelum Pak Atma membantu mencarikan buku-buku yang di pinta pemuda, bel di meja kasir tempat Pak Atma duduk berbunyi, menandakan ada pelanggan lain yang baru datang.

“ Hmm..maaf Nak..di depan ada pelanggan lain, di rak ini ada beberapa buku-buku Paulo Coelho, kamu bisa coba cari judul-judulnya di sini, maaf sekali saya harus ke depan..”, kata Pak Atma santun. “ Oiya..Pak, engga apa-apa saya coba cari sendiri...”, jawab pemuda itu. Dan tak lama Pak Atma segera menuju ruang depan tokonya.

Setelah kurang dari satu jam, pemuda yang tadi kembali ke meja depan, tepat di dekat pintu masuk, tempat biasa Pak Atma duduk. Ia datang kembali dari rak-rak buku dengan membawa setumpuk buku-buku di tangannya. “ Maaf Pak..saya jadi beli buku-buku ini “, katanya sambil terengah-engah seperti habis membawa sekarung beras. Pak Atma kemudian mengumpulkan buku-buku itu. The Zahir, The Fifth Mountain, juga By The River Piedra I sat down and wept, semua buku-buku karangan Paulo Coelho itu di rapikan dan di hitung jumlahnya oleh Pak Atma.

“ Hmm..kalau tahu di toko buku ini lengkap, mungkin saya bisa ke sini saja setiap hari Pak..”, seru Pemuda itu senang. Pak Atma hanya tersenyum mendengarnya. “ Kamu tinggal di daerah sini?”, tanya Pak Atma. “ Baru dua minggu Pak, sebelumnya saya tinggal di Jakarta. Oya..saya Rangga “, jelas pemuda itu memperkenalkan dirinya dengan ramah. Pak Atma membalas menjabat tangannya. Setelah Rangga berlalu dengan mobil Ford tahun 2000’nya dari toko, Pak Atma masih memandanginya dari balik jendela. “ Hmm...,laki-laki yang baik “, pujinya dalam hati.

“ Halo Maurie...”, sapa Ken sambil melambaikan tangannya. Ken, anak laki-laki yang baru saja berumur 17 tahun itu selalu menyapa Maurie. Setiap hari, setiap ia bertemu dengannya, atau jika seharian ia tidak bertemu Maurie, maka Ken akan setia menunggunya sampai ia benar-benar bertemu dengan gadis pujaannya itu, menunggu di toko Pak Atma atau di depan rumah Maurie.

Ken berlari menghampiri Maurie yang membalas lambaiannya. “ Hai Ken....”, Maurie balas menyapa.

“ Masih mengirimkan balon dan kartu pos itu lagi? “

“ Yaa....”, senyum Maurie.

“ Kamu kan enggak bakalan tahu, laki-laki itu menerima kartu pos’mu atau enggak “, ujar Ken serius. Maurie hanya tertawa kecil. “ Pasti dia menerimanya..”.

“ Sudahlah Maurie..., lupakan laki-laki itu, aku yakin banget, dia enggak bakalan kembali, dia udah punya kehidupan lain...”, Ken masih saja tetap berusaha membujuk Maurie siang itu di dalam toko buku Pak Atma seperti biasanya. “ Kamu mau kan Maurie...nge’lupain laki-laki itu ? iya kan..? maukan..? “, bujuk Ken sekali lagi. Maurie yang sedang duduk di bangku tepat di depan jendela sekali lagi hanya manggut-manggut, bahkan sesekali ia hanya tertawa kecil melihat tingkah Ken dari dulu di awal perkenalan mereka sampai detik ini, masih saja terus merayu dan membujuk agar Maurie mau membuka hatinya untuk cowok lain.

“ Seandainya Maurie mau berhubungan dengan laki-laki lain, aku rasa ia enggak bakalan memilih kamu, Ken...”, tiba-tiba Pak Atma menghampiri mereka. “ Lhoo..kenapa Pak..? aku kan sudah 17 tahun, tahun ini adalah awal masa dewasa aku, dan aku udah siap membina hubungan dengan seorang wanita, dengan SERIUS...”, bela Ken dengan semangat. “ Ken..., walaupun sudah 17 tahun bahkan sudah mimpi basah pula, kamu masih pakai baju putih abu-abu sih..”, Pak Atma mulai menggoda Ken yang masih menatap wajah Maurie dengan terpesona.

“ Sekarang memang masih putih abu-abu Pak.., tapi setahun lagi, aku dan Maurie bukan hanya sekedar adik dan kakak, atau guru dan murid, tapi kita berdua hanyalah seorang laki-laki dan wanita dewasa...”, jelas Ken sambil mengerdipkan sebelah matanya. Maurie yang sedang di perbincangkan terlihat tidak menanggapi adu argumentasi Ken versus Pak Atma. Ia tetap serius membaca salah satu seri Shopaholic, buku karya Sohie Kinsella favoritnya.

Bab terakhir buku Confession of Shopaholic hampir selesai di baca, saat Pak Atma menghampiri dan duduk tepat di depan Maurie. Ken sudah pulang dari dua puluh menit yang lalu, ia pulang setelah Mamanya menelepon untuk minta di antar ke kota.

“ Sudah kamu kirim kartu pos itu hari ini, Maurie ? “, tanya Pak Atma seraya meletakkan secangkir cappuccino hangat untuk seorang gadis cantik dan semampai yang sedang duduk di hadapannya. “ Sudah Pak...”, jawab Maurie pelan.

“ Hmm..Maurie, Bapak bukannya ingin mencampuri urusanmu, tapi....itu sudah sudah lama terjadi, sudah hampir dua tahun bukan..? “, Pak Atma bertanya pelan, dan berusaha agar tidak menyinggung perasaan gadis itu. Maurie menyeruput cappuccino di cangkir mungil berwarna jingga.

“ Yaa..., sudah hampir dua tahun...”, desah Maurie dan menutup bukunya.

“ Sudah lama berlalu..., apa kamu tidak mau melanjutkan hidupmu..?”

“ Maksud Pak Atma, kembali ke karir yang hampir menghancurkan masa depanku ?”

“ Bukan..bukan itu Maurie “, Pak Atma berusaha memperlurus maksud perkataannya.

“ Tapi..., melanjutkan kembali kehidupan percintaanmu, dengan.....orang lain “.

Maurie tertunduk. Dalam hatinya ia merasa sedikit sedih dan teringat akan masa lalu. Masa lalu yang seharusnya bisa membahagiakannya dengan seseorang. “ Tata kembali hidupmu Maurie.., selama ini aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri. Karena itu Bapak ingin melihat kamu bahagia dan jatuh cinta kembali...”.

Maurie masih teringat terus akan pesan Pak Atma. Jatuh cinta.., yaa jatuh cinta lagi.., kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinga Maurie. Tiba-tiba ia tersadar, selama ini ia begitu terpuruk dan masih terus di selimuti kisah cinta lama. Kisah lama yang dulu begitu membuatnya bahagia. Dan kesempurnaan kebahagiannya harus terenggut dan membuat Maurie terus menjerit dan begitu menyesalinya. Dan jatuh cinta lagi.., mungkin itu yang bisa mengobati luka lamanya. Mungkin itu yang bisa membangkitkan kembali semangat hidupnya yang selama ini hampir pudar.

“ Cari buku Paulo Coelho atau Ken Follet lagi..? “, tanya Pak Atma ramah dan menjamu Rangga dengan secangkir cappuccino andalannya. Rangga tersenyum. “ Bukan Pak.., saya cuma mau melihat-lihat buku-buku yang lain “, ucapnya. “ Silakan...”, ujar Pak Atma. Sebelum Rangga melangkah masuk menuju rak-rak besar yang berjejer rapih di sudut ruangan, pintu toko terbuka. Semilir angin dari arah pintu seketika masuk dan menggoyangkan lonceng-lonceng kecil yang tergantung di atas kusen pintu. Teeeng..teeeng..., lonceng-lonceng yang tertiup angin mengeluarkan suara. Rangga menoleh ke arah suara lonceng.

“ Maurie..., bagaimana kabarmu ? sudah dua bulan ini Bapak kehilangan pelanggan setia pembeli kartu pos...”, sapa pak Atma kaget saat melihat Maurie masuk kedalam tokonya lagi. Ya.., dua bulan lalu setelah perbincangannya dengan Pak Atma, Maurie memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia hanya bilang akan menyusuri kembali kisah lamanya untuk yang terakhir kali. Dan Maurie berjanji akan kembali ke kota kecil yang sudah di anggapnya sebagai kampung halaman. Dan kini ia kembali, dan orang pertamanya yang di temuinya Pak Atma.

“ Aku baik-baik saja pak...”, jawab Maurie seraya memeluk Pak Atma.

“ Syukurlah..., Bapak selalu berdoa untukmu...”.

“ Oya..bagaimana dengan Ken ? “, tanya Maurie tiba-tiba.

“ Heemm...ia selalu bertanya setiap menit dan detik, kapan kamu kembali? Ken juga pernah nekat mau menyusulmu ke Jakarta. Tapi untunglah ia mau ujian semester, jadi ia menunda niatnya itu sementara...”, jelas Pak Atma sambil tertawa. Maurie tertawa lepas mendengar cerita Pak Atma tentang Ken yang selalu memusingkannya setiap hari. “ Ya sudah Pak.., aku harus membereskan rumah, aku sudah kangen berat dengan kamarku..”, pamit Maurie. Pak Atma mengantar sampai depan toko dan melambaikan tangannya ke arah Maurie yang sudah berlalu dari hadapannya.

“ Siapa gadis itu Pak..? “, tanya Rangga menghampiri Pak Atma yang baru saja melangkah masuk dan menutup pintu. “ Namanya Maurie, dia gadis yang cantik bukan..? “, puji Pak Atma. “ Cantik dan karismatik..., tapi dia enggak terlihat seperti gadis desa ini, Pak..”, tanya Rangga penasaran. “ Memang bukan.., dia sama denganmu kok.., Maurie juga dari Jakarta “, jawab Pak Atma. “ Pantas..dia cantik tapi bukan seperti kembang desa, wajahnya kelihatan elegan.., malahan dia kelihatan seperti model “, Rangga berpendapat dan di angguki oleh Pak Atma. “ Dia memang model.., tepatnya mantan model...”.

Rangga yang penasaran dengan sosok Maurie terus seksama mendengarkan cerita Pak Atma. “ Karena itu, dia pindah ke kota kecil ini..”, ucap pak Atma mengakhiri ceritanya.

Tertarik dengan Maurie sejak pandangan pertama, membuat Rangga semakin rajin mengunjungi Florence Books. Dulu jika dalam seminggu ia hanya datang sekali, tapi kali ini ia bisa berkunjung tiga atau empat kali, demi bertemu dengan Maurie dan ingin mengenalnya lebih jauh. Ia beruntung Pak Atma bersedia mengenalkannya suatu hari di dalam toko saat hujan deras mengguyur Puncak. Rangga maupun Maurie yang tertahan hujan, mau tidak mau menunda pulang ke rumah dan menghabiskan banyak waktu di sana. Mereka berkenalan, berbincang dan saling tertawa. Dan tertawa lepas juga senyum manis Maurie masih terus mengembang di wajah cantiknya setelah tiga bulan perkenalannya dengan Rangga. Senyuman yang lebih sering di lihat Pak Atma pada sosok Maurie saat ini, membuatnya semakin yakin kalau gadis yang sudah di anggap putrinya itu akan terobati dari luka lamanya. Dan Rangga.., benar sekali insting Pak Atma tentangnya. Ya.., saat pertama kali bertemu, ia yakin Rangga adalah sosok yang cocok untuk kehidupan baru Maurie.

Tapi saat bertemu dan menatap Maurie, Rangga melihat pandangan mata gadis itu terkesan memendam kesedihan. Sinar matanya tersirat sesuatu yang tidak akan pernah di lupakan olehnya. Tapi Rangga tidak mengindahkan sama sekali, ia cukup puas dengan hubungannya dengan Maurie yang semakin dekat. Ia memang belum menyatakan tentang perasaannya, ia tidak ingin buru-buru. Ia membiarkan perasaan Maurie berkembang sedikit demi sedikit. Karena Rangga tidak ingin gadis yang di pujanya itu terluka dan mengingatkannya akan masa lalu.

“ Apaa..? Rangga ? cowok kutubuku tetangga sebelahku itu ? “, Ken yang kaget hampir saja di omeli oleh Maurie, karena membuat semua pengunjung di Florence Books menoleh ke arahnya dan memasang wajah sebal karena suaranya yang melengking. Ken kaget campur kesal mendengar Maurie banyak bertanya tentang Rangga, tetangga baru sebelah rumahnya.

“ Yaa..Rangga, kamu tahu enggak kalau dia...hhmm, maksudku..apa pernah ada cewek yang main ke rumahnya ? “, Maurie bertanya dengan sedikit malu. Ken mendengus. “ Mana ada cewek yang mau main ke rumah kutubuku yang kamarnya saja penuh dengan buku-buku setebal kamus...”, dengan nada sinis dan ekspresi wajah di lipat-lipat Ken menjawab.

“ Maurie..apa kamu enggak mau menungguku setahun lagi ? “, pinta Ken memohon.

“ Ken sayang......”, Maurie berusaha membujuk.

“ Aku senang kalau kamu sudah mau membuka hati lagi, tapi aku pikir orangnya bukan si kutubuku itu.., maksudku kenapa bukan seorang Ken yang jantan dan bisa bersenang-bersenang? seharusnya aku yang kamu pilih Maurie...”, mohon Ken dengan memelas.

“ Ken..., aku tahu kita berdua bisa bersenang-senang, tapi aku sudah menganggapmu seperti adikku..”, Maurie mencoba menjelaskan dengan lembut agar ken tidak merasa terlalu kecewa. “ Dan kita masih bisa tetap dekat seperti ini...”, bujuknya sambil mengusap punggung Ken yang masih saja cemberut. “ Oke..., tapi aku mohon.., jangan sama si kutubuku aneh itu, pleaseee...”. Entah kenapa Ken begitu sebal dengan Rangga. Mungkin ia merasa sosok Rangga yang serius dan profesinya sebagai editor sekaligus penyadur novel berat di Penerbit ternama, tidak cocok dengan Maurie yang cantik dan menyenangkan.

Rok sedengkul berwarna soft pink yang di kenakan Maurie sore ini membuat kakinya terlihat semakin jenjang. Apalagi warna lipstick dan blush on warna senada membuat wajahnya merona dan terlihat cerah. Secerah hari itu, dimana ia dan Rangga bertemu dan makan siang bersama. Walaupun sudah sore, perona pipi pink rose yang ia pakai masih memancarkan aura cantiknya. Ia dan Rangga menghabiskan hari dengan mengobrol dan berjalan ke taman bunga. Saat melihat kebun bunga crisan, langkah kaki Maurie terhenti. Ia menatap lekat bunga-bunga itu. Bunga yang dulu sering di belinya. Bunga yang selalu ia pajang di saat ia mengirimkan balon kartu pos. Ia sesaat tersadar, sudah beberapa bulan ini ia tidak pernah lagi membeli bunga crisan. Vas bunga tempat di mana crisan dulu tersimpan, kini di ganti dengan bunga mawar. Entah kenapa semenjak ia dekat dengan Rangga, Maurie jadi ingin sekali membeli bunga mawar. Padahal crisan adalah bunga favorit Jefry, si penerima kartu pos.

Tiba di depan rumah, Maurie mengajak Rangga masuk untuk sekedar minum teh dan membalas kebaikan hatinya karena mau mengantar pulang. Di ruang tengah Maurie mempersilakan Rangga untuk duduk di sofa putih. Saat Maurie sibuk membuatkan secangkir teh hangat, Rangga berkeliling melihat-lihat suasana ruang tengah Maurie. Semua furniture berjejer rapih, cat tembok yang berwarna biru lembut semakin menyejukkan ruangan yang bersih itu. Tak sedikitpun debu yang menempel atau tank top kotor yang terselip di atas sofa atau meja. Rangga kini mengerti kenapa Maurie selalu berpenampilan rapih dan dandy, rumahnya saja begitu bersih.

Pandangan mata Rangga terhenti saat ia melihat beberapa balon yang sudah di tiup tergantung di sisi atas kursi kayu di sudut ruangan. Balon-balon itu berwarna-warni. Baru ingin melangkah mendekat ke kursi kayu, Maurie mempersilahkan Rangga untuk mencoba teh buatannya.

Mereka kemudian mengobrol dan memperbincangkan banyak hal. Saking terhanyut dengan obrolan yang nyaman, Maurie dan Rangga sadar akan kedekatan hubungan mereka, Rangga merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk melangkah lebih jauh lagi, ia merasa saat ini Maurie sudah bisa menerima hatinya. Ia pun memberanikan diri menggenggam tangan halus Maurie, ia menatap lekat ke arah gadis itu. Tatapan penuh arti, bukan tatapan pertemanan, tetapi tatapan penuh cinta.

Terhanyut akan sikap Rangga, Maurie membalas tatapan lembutnya. Tetapi di saat Rangga ingin mencium, sontak Maurie menolak. Ia memalingkan wajahnya, ia tertunduk malu. Ia hanya merasa saat ini bukan saat yang tepat untuk menerima ciuman orang lain. “ Oh iya Maurie.., kamu mau jualan balon yah..? “, tanya Rangga bercanda, mencoba menghilangkan suasana kaku. Senyum di wajah Maurie seketika terhenti dan mengalihkan pandangan ke arah balon-balon yang semalam ia tiup. Sadar akan bercandaannya tidak lucu, Rangga mencoba untuk tidak membuat Maurie tersinggung. “ Maaf Rie..., maksudku untuk apa balon-balon itu ? “.

Maurie kembali melihat ke arah Rangga dengan tersenyum. “ Aku hanya senang dengan balon. Tidak ada maksud lain..”, Maurie beralasan. “ Oohh..., dari tadi aku berpikir, untuk apa balon-balon itu ?. Oiya.., apa kamu tahu, beberapa kali pernah ada balon nyasar ke pohon di atas balkon kamarku. Anehnya lagi ada selembar kartu pos terlilit di balon itu, kayaknya sih itu kartu pos cinta. Aku pikir cuma orang iseng yang engga ada kerjaan yang mau mengirimkan surat cinta lewat balon “, Rangga bercerita dengan serius. Dari perkataannya terlihat ia tidak mengada-ada. Ia memang tidak sedang mengarang cerita. Karena di akhir ceritanya ia bilang kalau si pengirim berinisial “ Em “, hanyalah seorang gadis kesepian.

Rangga datang ke Florence Books dengan tergopoh-gopoh, napasnya tersengal-sengal seperti habis berlari. “ Pak..., apa Maurie kemarin-kemarin sering ke sini ? “, tanyanya langsung saat melihat Pak Atma yang sedang menyusun beberapa buku ke dalam rak di bantu oleh Ken.

“ Hmm.., belakangan ini Maurie memang jarang datang. Bapak pikir dia sering bersama kamu...”, jelas Pak Atma. “ Sudah beberapa minggu ini saya enggak bisa menghubungi Maurie, Pak “, terang Rangga. “ Rumahnya juga selalu tertutup...”.

“ Apa yang terjadi dengan kalian berdua..? “, tanya Pak Atma bingung.

“ Saya juga enggak tahu.., terakhir kami bertemu waktu saya ke rumahnya. Memang saat saya cerita tentang balon kartu pos yang nyasar ke rumah, ekspresi wajahnya berubah. wajah Maurie kelihatan memerah saat saya bilang, si gadis pengirim hanyalah seorang yang kesepian.....”, cerita Rangga sambil meminum teh manis yang di suguhkan Pak Atma agar membuatnya tenang.

“ Apa..?? cewek kesepian maksud lo..? “, tiba-tiba Ken menghampiri dan menarik kerah baju Rangga. Ekspresi sebal semakin terpancar di wajah Ken. Rangga yang kaget menepis tangan Ken dan membalas tatapan kesal. “ Sudah..sudah....!! ”, Pak Atma melerai mereka berdua dan mencegah pertumpahan darah di dalam tokonya.

“ Rangga..., apa di kartu pos yang kamu temukan itu ada nama pengirimnya ? “, Pak Atma mencoba untuk meluruskan masalah yang membuat Rangga bingung. “ Tidak ada namanya Pak.., hanya inisial..eM...”, terangnya. Pak Atma menghela napas dengan berat. “ Dasar bodoh....”, cela Ken.

“ Heii..anak kecil, kalau enggak tahu apa-apa, sebaiknya jangan coba berkomentar..”, Rangga membalas dengan kesal. “ Siapa bilang gua enggak tahu apa-apa..??, emangnya elo tahu kalo inisial eM itu nama siapa ? “, Ken tak mau kalah berargumen. Rangga menoleh ke arah Pak Atma dengan bingung. Ia semakin tidak mengerti. Apa hubungannya antara balon kartu pos, inisial eM juga Maurie ??.

“ eM itu..., inisial dari Enggita Maurie.., ya itu adalah nama Maurie. Gadis si pengirim kartu pos, Rangga....”, terang Pak Atma. Rangga terduduk dengan lemas, ia merasa menyesal, hatinya kalut karena tanpa sadar ia telah membuat gadis yang di cintainya itu menjauh. Tapi ia benar-benar tidak tahu jika si pengirim balon kartu pos adalah Maurie. Pak Atma tidak pernah cerita akan maksud Maurie mengirimkan balon kartu pos itu, apa tujuannya? kenapa ia selalu rajin mengirimkan berlembar-lembar kartu pos untuk seseorang tanpa alamat ?.

Saat berbaring di tempat tidur, Rangga masih mengingat jelas cerita Pak Atma tentang Maurie dan kartu posnya. Beberapa tahun lalu, sebelum Maurie pindah ke kota kecil ini, ia adalah seorang model yang laris di catwalk. Karirnya menanjak setelah sukses memperagakan pakaian-pakaian mewah di fashion show desainer ternama. Kehidupan percintaannya dengan Jefry pun semulus karir modelnya. Jefry yang sudah lima tahun menjadi kekasih setia Maurie. Tapi saat Maurie sedang ada pesta dengan teman-teman modelnya setelah fashion show, ia bertengkar dengan Jefry yang memaksa mengajaknya ke suatu tempat. Tapi Maurie memilih untuk bersama teman-temannya.

Belum acara pesta berakhir, seorang polisi menghubungi Maurie tentang kecelakaan mobil yang menimpa kekasihnya. Dan di saat pemakaman, salah seorang sahabat memberitahu Maurie akan niat sebelum Jefry kecelakaan. Sahabat itu memberikan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam yang berisikan cincin berlian. Kini Maurie tahu kenapa Jefry begitu memaksanya untuk pergi dari pesta. Dan mungkin jika saat itu Maurie mau pergi dengannya, saat ini ia sudah berbahagia dengan kekasih hatinya.

Karena begitu terpukul akan musibah ini, Maurie berhenti dari modeling yang telah membesarkan namanya. Ia memilih pergi dari hiruk pikuk perkotaan, dan tinggal di kota kecil yang aman dan tentram. Dan demi mengingat Jefry, kekasih yang begitu mencintainya, setiap tanggal dua belas, tanggal hari jadi mereka, Maurie selalu mengirimkan balon kartu pos. Jefry memang tidak mungkin akan menerima, membaca bahkan membalas kartu pos itu. Tapi hal ini cukup untuk terus mengingat cinta kekasihnya itu di hatinya.

Dan kini Rangga, yang hampir saja menggantikan posisi Jefry di hati Maurie, membuat gadis itu tersinggung, atau mungkin Maurie tidak akan mau kembali padanya lagi. Tapi Rangga bersikeras untuk terus membujuk agar Maurie mau menerimanya kembali.

Ia terus datang ke rumah Maurie dan menunggunya untuk meminta maaf secara langsung. Pak Atma juga membantu dengan berbicara dari hati ke hati dengan Maurie. Bahkan Ken, yang kini mengerti akan kesungguhan cinta rivalnya itu, turut membantu mempersatukan mereka.

“ Maurie please...., aku sama sekali enggak tahu siapa sebenarnya si pengirim kartu pos itu...”, bela Rangga saat ia berhasil menemui Maurie. “ Maafkan aku yang sudah membuat kamu kecewa...”. Maurie hanya memandang sekilas wajah Rangga dan pergi dari hadapannya. “ Maurie tunggu..., enggak seharusnya kamu menghukum aku seperti ini, aku tahu kamu akan selalu mengenang Jefry, dan aku sudah mengerti semuanya....”, Rangga terus menjelaskan sambil menarik tangan Maurie agar ia tidak pergi lagi. “ Kamu enggak kenal dengan Jefry, dan kamu juga enggak seharusnya membicarakan dia...”, ucap Maurie akhirnya.

“ Dia sudah pergi selamanya Maurie..., dia sudah berada di dunia yang tenang, aku yakin Jefry juga pasti ingin agar kamu bahagia. Tetapi tidak dengan cara terus mengurung hatimu untuk orang lain. Aku menerima akan kenanganmu dengan dia,

tapi buka hatimu untuk aku.., Maurie. I love you.....”. Rangga menyatakan perasaannya sesaat sebelum Maurie melepaskan tangannya dari genggaman Rangga.

Dan ia pergi tanpa berkata apapun. Meninggalkan Rangga yang masih terus menatapnya sampai bayangan gadis yang di cintanya itu hilang.

“You and me together..

Through the days and nights

I don't worry 'cause

Everything's going to be alright

People keep talking they can say what they like

But all I know is everything's going to be alright

No one, no one, no one

Can get in the way of what I'm feeling

No one, no one, no one

Can get in the way of what I feel for you, you, you

Can get in the way of what I feel for you…” ( Alicia keys – No One )

Suara Rangga memang tidak sebagus Glenn Fredly atau Rio Febrian. Tapi ia masih saja menyanyikan lagi Alicia Keys favorit Maurie bermodalkan gitar akustik di depan rumah gadis yang belum memaafkannya itu. Maurie hanya melihat dari balik jendela yang tertutup gorden. Dalam hati ia ingin sekali keluar menemui Rangga yang selalu bersusah payah mendapatkan cintanya. Tapi hatinya masih saja bimbang. Ia takut terluka lagi untuk yang kedua kali. Dan saat ia memalingkan wajahnya dari balik jendela, tanpa sengaja ia melihat sekuntum mawar berwarna merah pekat di atas vas kaca tumbuh mekar dan harum. Padahal sewaktu ia beli, mawar itu masih kuncup, beda dengan kuntum-kuntum mawar lainnya yang sudah berbunga.

Lagi…, seperti biasa udara dingin masih saja menusuk tengkuk di kota ini. Apalagi semalam sempat hujan. Rangga dengan malas membuka pintu balkon kamarnya. Sebelum sempat membalikkan badan, dengan kesadaran penuh ia berbalik arah menuju balkon. Di lihatnya sebuah balon berwarna biru terikat di atas ranting pohon yang tumbuh persis di sebelah balkon kamar. Ia membuka lilitan benang balon biru itu. Dan di ujung benang terselip kartu pos. Di bacanya kartu pos itu kata demi kata.

“ Dear Rangga…,

Terima kasih atas cintamu yang tulus padaku.., aku seharusnya bahagia ada seseorang yang mau menerimaku apa adanya..Dan aku rasa kartu pos ini adalah permulaan. Karena kini kartu pos’ku ada alamatnya..” ^_^

With Love..

-eM-

Setelah membaca tulisan di kartu pos itu, Rangga merasa itu adalah sebuah kartu pos dari surga, kartu pos yang menjawab doanya selama ini, doa di mana ia ingin di pertemukan dengan kekasih sejatinya. Dan belum sempat loncat kegirangan akan kartu pos yang di kirim Maurie, ternyata saat Rangga melihat ke arah bawah rumahnya, Maurie sudah berdiri. Menunggunya untuk turun. Menunggunya untuk memeluk cintanya yang baru. Menunggunya untuk menerima kekasih yang akan menemani hari-harinya. Dan tanpa harus menunggu berlama-lama, Rangga segera turun menemui gadis yang akhir-akhir ini hampir membuatnya gila. Dan tanpa harus berlama-lama pula ia segera memeluk gadis itu dan mencium keningnya.

“ Good morning Postcard Girl….”, sapanya lembut yang di balas dengan senyum penuh arti dari gadis berinisial “ eM“

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar