CINTA DI PETAK SEMBILAN
“ Koh..,lihat tuh anakmu...”,ujar seorang ibu paruh baya bermata sipit dan berkulit putih pucat pada seorang lelaki yang sedang mengiris daun bawang di atas talenan. Laki-laki berjanggut putih dan mengenakan kaos oblong juga celana katun hitam sontak melirik ke arah bangku plastik kecil berwarna merah yang berjejer di depan warung mie bernama “ Mie Ayam Liem”. Si Ibu yang sedari tadi menyusun gulungan mie kering ke dalam etalase tak luput terus memperhatikan Jimmy, anak laki-lakinya yang terus duduk di depan warung. Ia duduk di
“ Bawa saja ke Hongkong, ia
“ Edward’kan sudah lama tinggal di Hongkong, siapa tahu Jimmy bisa punya teman baru, tempat tinggal baru,pokoknya suasana baru lah.., biar cepat lupa dia sama si Jenny Yeung itu...”, ujar Lenny lagi dengan nada kesal.
Koh Liem bukannya tidak mau mengirimkan anaknya ke Hongkong untuk tinggal dengan keponakannya. Tapi bagaimana jika Jimmy tidak betah di
Tapi jika ia terus melihat Jimmy yang hidup tapi seperti orang mati, tentu ia tidak tega. Koh Liem dan juga istrinya serta Lenny tidak habis pikir dengan Jimmy. Dulu ia seorang laki-laki yang pintar, murah senyum,bersemangat dan rajin. Ia juga tak segan membantu orang tuanya di warung mie. Melayani pembeli dengan ramah, padahal Koh Liem punya dua pelayan lain dan tak ogah menggantikan membuat mie ayam jika Koh Liem sedang tidak enak badan. Tak heran makin banyak saja pelahap setia Mie Ayam Liem yang terletak di Petak Sembilan.
Tapi itu dulu, dan selama tiga bulan terakhir ini Jimmy berubah total menjadi laki-laki yang pemurung, pelit senyum dan tanpa semangat hidup. Kerjanya hanya melamun, kadang menatap tinggi ke arah langit. “ Apa dia sedang menunggu Dewi Kuan Im turun?“, tanya seorang ibu, pembeli mie ayam saat melihat Jimmy.
Belum lagi di saat hari minggu, saat di mana warung mie Ayam Liem penuh dengan pembeli. Biasanya setelah mengikuti misa di gereja, para jemaat menyempatkan diri dulu untuk makan di
Melihat adiknya yang seperti mayat hidup, Lenny kesal bukan main. Bagaimana ia tidak kesal?, sudah tiga bulan ini Jimmy lulus dengan prestasi yang memuaskan dan berhasil mengantongi predikat mahasiswa terbaik sebagai sarjana tehnik industri. Tapi bukannya cepat-cepat mencari kerja, malah terbuai dengan lamunan rutinnya setiap hari di depan warung mie. Lenny pernah sampai memaksa Jimmy untuk membantunya bekerja di toko elektronik miliknya dan suami. Tapi yang di lakukan adiknya itu hanya menatap lekat televisi dan terus menonton serial
Dan ia jadi tahu, kenapa Jimmy jadi begitu berubah. Itu semua karena Jenny Yeung, gadis yang di pacari adiknya sejak masih SMU. Lenny juga ingat, tiga bulan yang lalu, tepat setelah kelulusan Jimmy, Jenny memutuskannya saat mereka candle light dinner merayakan kelulusan Jimmy di sebuah restoran.
Jenny yang cantik dan semampai, serupa dengan Ruby Lin, beralasan ia sudah di jodohkan oleh keluarganya. Gadis Singkawang itupun pulang kembali ke rumah orang tuanya di Kalimantan dan menikah dengan pengusaha kaya dari
Lenny sudah mencoba membangkitkan kembali semangat hidup Jimmy. Berkali-kali pula ia bilang kalau di dunia ini masih banyak perempuan cantik seperti Jenny Yeung atau Ruby Lin, bahkan ada yang lebih cantik. Dan adiknya itu bisa leluasa memilih. Tapi Jimmy sudah terlanjur cinta mati dengan Jenny. Dan jika habis kesabaran, tak jarang Lenny menjitak kepala adiknya agar Jimmy bisa lebih tersadar.
“ Jangan-jangan gadis itu sudah mengambil “keperjakaan”nya si Jimmy..”, Rudy, suami Lenny tak kalah berkomentar soal perubahan adik iparnya itu.
“ Huss...memangnya Jimmy itu perempuan apa? yang bisa syok kalau “keperawanannya di rampas pacar ? ”, bela Lenny sambil menyisir rambut panjang hitamnya. Rudy tertawa lepas dan berkali-kali menggeleng heran.
“ Tapi ada juga lho Len.., laki-laki setia yang syok kalau sudah tidak perjaka lagi, apalagi dengan pacarnya, yaa..kayak adikmu itu...”, Rudy kembali melontarkan candaan.
“ Yaa mungkin..., memangnya kamu, jadi bangga setengah mati kalau sudah tidak perjaka lagi...”, balas Lenny seraya menyusup ke dalam selimut dan bersiap tidur. Tawa suaminya lalu kembali terdengar. Kali ini tertawa bangga. “ Yaa..Jimmy hanya karena cinta mati dengan seorang gadis..bukan karena hal lain...”, Rudy berkata dalam hati.
Kalau bukan hari Minggu, gereja terlihat sepi. Yang terlihat hanya satu-dua orang saja yang sedang menyapu halaman atau membersihkan gereja katolik Maria De Fatima di Petak Sembilan ini. Sesekali Romo lewat keluar gereja, menyapa Jimmy sebentar dan kembali masuk ke dalam kantornya. Kalau sedang sepi seperti ini Jimmy suka merenung di halaman gereja berarsitektur Cina seperti kelenteng ini. Ia duduk di dekat patung Bunda Maria dan patung anak-anak kecil yang terlihat begitu indah dikelilingi oleh tanaman-tanaman. Gereja ini sudah berdiri sejak keluarga Liem pindah ke Jakarta Barat sejak belasan tahun lalu. Dan dulu waktu kecil Koh Liem pernah cerita kalau gereja Maria De Fatima ini sudah ada sekitar tahun 1952, dan tanpa adanya sebuah salib seperti gereja-gereja yang lainnya. Di sisi kanan dan kiri atap gereja tersebut terdapat “Pelana Kuda” dan di posisi atap tengah bangunan tersebut terdapat “Walet” yang menandakan rumah tersebut adalah rumah keluarga Bangsawan. Dan juga dilengkapi patung singa sebagai simbol penjaga rumah.
Banyak orang mengira kalau bangunan ini sebuah kelenteng, padahal bangunan bekas sebuah rumah yang pemiliknya adalah tuan tanah yang baik hati di kawasan pecinan
bernama Kapitan Cio, sekarang berfungsi sebagai rumah ibadah umat katolik.
Saat sedang memperhatikan sekeliling halaman gereja, tak sengaja Jimmy melihat seorang gadis muda sedang khusyuk berdoa di patung Yesus yang tergantung di sebuah menara. “ Jenny.....”, panggil Jimmy pelan sembari memperhatikan punggung gadis itu.
Ia memang hanya melihatnya dari arah belakang. Dari tinggi badan dan rambut coklat sebahu gadis itu mirip dengan Jenny Yeung. Jimmy memberanikan diri melangkah pelan mendekati. Tapi baru beberapa langkah, gadis itu masuk menuju ke dalam gereja.
“ Angeline....”, panggil Romo dari arah depan pintu kantor. Gadis itupun menoleh dan tersenyum menghampiri Romo. “ Bukan Jenny, tapi Angeline...,nama gadis yang juga hampir mirip dengan Ruby Lin.”
“ Koh...coba lihat si Jimmy, ngapain dia melongok-longok ke dalam gereja..”.
“ Cie..., lebih baik ia melongok-longok dari pada melamun, bukannya ini namanya kemajuan? “, Koh Liem mencoba menghentikan kekhawatiran istrinya. Tapi Enci Liem terus mencubit lengan suaminya, memaksa untuk bertanya pada Jimmy.
“ Jim..,apa yang lu lihat di
Tapi Jimmy berhenti mengelap meja saat gadis yang kemarin ia lihat memasuki halaman gereja. Dan mengikuti gadis itu. Di tunggunya gadis berkulit bersih dan bermata coklat yang sedang berdoa khusyuk di tempat Jimmy pertama kali melihatnya. Di pandanginya dari kejauhan saat gadis bernama Angeline itu sedang berbincang dan tertawa dengan Romo atau petugas kebersihan gereja juga saat gadis itu memandu paduan suara anak-anak. Semua di lakukan Jimmy setiap waktu, setiap saat Angel datang ke gereja. Namun ia tidak berani mendekat. Sampai saat Romo datang ke warung mie untuk makan siang dam mengenalkan keponakannya yang bernama Angeline pada Koh dan Enci Liem juga Jimmy.
Koh Liem, istrinya juga Lenny tersenyum puas melihat Jimmy berangsur membaik dari “penyakit”nya. Sedikit demi sedikit anak laki-laki satu-satunya Koh Liem itu kembali seperti Jimmy yang dulu. Semua itu karena Angeline. Semenjak perkenalannya dengan gadis baik hati, penyayang dan santun itu. Tak jarang mereka berdua sering bertemu, bahkan Jimmy sering membantu Angeline di setiap kegiatan gereja. Mereka cukup bersenang-senang menghabiskan hari-hari berdua. “ Jenny Yeung..selamat tinggal..”.
“ Kok sepi.., Koh Liem dan Enci kemana?”, tanya Angeline lembut sambil melahap mie ayam buatan Jimmy. “ Ke pasar beli keperluan Imlek..”, jawab Jimmy sambil me’lap patung kucing hoki yang sedikit berdebu yang terpajang di atas meja kasir. Sebulan lagi mau Tahun Baru Cina, dari dulu setiap menjelang Imlek, Koh Liem dan istrinya selalu sibuk membeli ornamen dan aksesoris khas Tahun Baru Cina di pasar terdekat. Alhasil di rumah maupun warung mie pada saat perayaan pasti penuh dengan lampion, amplop ang pao, kue keranjang juga bonsai sakura. Dan Jimmy berniat mengajak Angeline berkeliling melihat atraksi Barongsai saat Imlek nanti.
Vihara Dharma Jaya atau yang terkenal dengan nama kelenteng Toa Sai Bio hari ini penuh dengan pengunjung. Asap hio mengepul di sekeliling ruangan. Banyak yang datang untuk berdoa. Konon Klenteng ini lebih banyak didatangi oleh pedagang dan pengusaha-pengusaha Cina, mereka berdoa semoga di berikan berkah dan di limpahkan rezekinya karena kelenteng ini adalah kelenteng keberuntungan bagi para pedagang. Angeline dan Jimmy menikmati atraksi Barongsai di halaman vihara dan mengikuti langkah barongsai menuju Museum Fatahillah. Hari ini adalah perayaan Imlek yang menyenangkan bagi Jimmy, karena di temani oleh Angeline.
“ Hari terbahagiaku sama seperti dulu...”, ucap Jimmy tersenyum.
“ Seperti saat bersama Jenny..?? “, tanya Angeline pelan. Jimmy spontan mengarahkan pandangannya ke arah gadis manis itu. “ Aku bukan Jenny Yeung, Jim...”.
“ Aku Angeline.., gadis yang sebentar lagi akan pergi...”, ujar Angeline serius.
“ Pergi...? tapi..tapi....kemana..?”, dengan terbata-bata Jimmy berusaha untuk bertanya.
“ Aku akan sekolah biarawati, untuk itulah aku sering ke gereja, bertemu pamanku untuk meminta pendapatnya. Maaf..aku baru memberitahumu sekarang, Jim...”. Jimmy menelan ludah dalam-dalam. “ Tapi..., aku suka dengan kamu, Lin...,bahkan sudah terlanjur sayang dan kenapa baru sekarang kamu bilang mau jadi biarawati? “, Jimmy terus menatap serius ke arah Angeline yang tertunduk.
“ Karena kamu terus menceritakan tentang Jenny, terus terang aku suka denganmu Jim.., kamu adalah pria terbaik dan pintar yang pernah aku temui. Tapi..setelah kamu terus bercerita tentang Jenny, aku jadi mengerti kalau kamu suka denganku hanya karena aku mirip dengan dia. Jim.., jangan buang waktu berhargamu dengan memikirkan orang lain yang belum tentu memikirkanmu juga. Juga jangan membuang pengorbanan Koh Liem membangun warung mie demi masa depanmu. Sudah seharusnya kamu membalas budi pada orang tuamu, Jim..”, Angeline menjelaskan tanpa harus menyakiti perasaan Jimmy. Ia juga sayang dengan laki-laki ini. Tapi ia tetap akan meneruskan niatan hatinya di jalan Tuhan. “ Cintamu bukan satu-satunya untuk Jenny, Jimmy Liem.., tapi seharusnya untuk keluargamu juga untuk Tuhan...”.
Ternyata ini memang sudah rencana Tuhan untuk “menyembuhkan” Jimmy. Angeline seperti malaikat yang di kirim Tuhan untuk menyadarkan cinta laki-laki ini. Gadis itu cepat datang dan juga pergi tanpa harus tinggal lebih lama. Dan sepercik cinta dan perhatiannya membuat Jimmy sadar kalau hidup ini harus di jalani dengan baik dan bermakna. Sekarang Koh Liem, istrinya juga Lenny bisa berbangga hati dengan keberhasilan Jimmy menaklukkan dunia juga hati salah satu gadis pelanggan setia warung Mie Ayam Liem. Bahkan ia dan juga istrinya melebarkan usaha warung mie keluarga Liem ke beberapa wilayah.
“ Terima kasih, Lin..., ternyata cinta di Petak Sembilan, bisa menyadarkanku akan arti cinta yang sesungguhnya....”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar