WeLcoMe 2 my BloG

for all the humans,witches,planet things and all God's creatures..welcome to my blog and read my ordinary write with ordinary ideas...coz this is so far of puuurrrfect..aniwei enjoyyy..^^

Jumat, 25 Maret 2011

Nyoba cerpen sedih....

Short story ini bukan cerita cinta anak Adam dan Hawa..
Sooo jangan tertipu dengan judulnya yuuaah..
Waktu gue baca ulang cerpen ini, gue dengan tersentuh,terenyuh,terpana sekaligus bangga luar dalem karena bisa bikin cerita yang menurut gue sad enough...hikzz..hikzz
rencananya cerpen ini mau gue bikin trilogi, tapi baru mau finishing chapter ke 3'nya, gue nge'stuck.
Udah coba nyari inspirasi di balik WC sambil nge'den pun gue teteup nge'blank.
Alhasil gue mau tidak mau harus cukup puas dengan dwilogi cerpen ini.
(tapi chapter ke'duanya harus kudu gue cari dulu nih..belum nemu soalnya..huuuffttt)
Penasarannnnn...??? read it please......................................


PELUKAN TERAKHIR ( THE LAST HUG )

“ Aku sayang banget sama kamu May...”, Itulah kata-kata tanda cinta yang sering di ucapkan Bian, cowok yang sudah enam bulan ini ku pacari. Bian.., cowok romantis yang pertama kali kutemui di pasar malam di alun-alun kota. Sebagai pacar pertama di hidupku yang tak jarang menunjukkan rasa cintanya padaku.

“ May..., kamu sayang sama aku engga sih ? “, tanya Bian suatu ketika, di malam pertemuan kami di puncak gunung, di temani jagung bakar manis dan segelas bajigur hangat. “ Aku sayang kok sama kamu...”, aku memberikan jawaban serius padanya. Bukannya mengekspresikan wajah gembira akan pengakuan rasa cintaku, tapi Bian malah menunjukkan rasa tak percayanya. Dahinya sedikit mengkerut, pandangan matanya curiga denganku.

“ Kamu enggak percaya yah..? “, tanyaku sambil memandanginya. Ia menggeleng.

“ Buktikan padaku....”, ujarnya sambil mengelus rambut panjangku.

“ Enggak cukup kalo aku bilang... I love you ? “,tanyaku lagi. Ia kembali menggeleng.

“ Aku ingin keseriusan kamu malam ini May....tunjukkan rasa cintamu sama aku...”, bisiknya lembut di telingaku. Sambil menggenggam erat kedua tanganku, Bian mencium keningku.

Pipiku malam ini basah oleh butiran air mata. Aku tidak mampu menahannya. Aku merasa menyesal, tapi aku harus membuktikannya, jika tidak Bian tidak akan percaya padaku, dan aku takut ia akan meninggalkanku. “ Thanks sayang...., kalau begini, aku tidak ragu lagi....”, desahnya seraya mencium rambut dan memeluk tubuhku yang hanya di tutupi selembar selimut.

“ Malam ini lagi ? “

“ Ya..., Nenekmu kan sedang tidak ada sayang, dan...di sini hanya ada kita berdua...”

“ Tapi Bian...kemarin kita sudah melakukannya.....”

“ Aku tahu sayang...., tapi hari ini aku kangen banget sama kamu...”

“ Aa..aaku......”.

Bian kembali memakai baju dan celananya di dalam kamarku. Aku masih terpaku di atas tempat tidur. “ Oke..aku harus pulang sekarang....”, ucapnya sambil menciumku dan keluar dari kamar, suara mesin motornya perlahan menjauh dan pergi dari rumahku.

“ Periksa lagi..!! kali ini periksa yang benar..”, bentak Bian.

“ Aku sudah mencobanya berkali-kali Bian...dan hasilnya...hasilnya positif...”. Bian mengambil test pack dari tanganku. Ia melihatnya dengan seksama seakan-akan ia mengerti betul arti tanda plus di ujung test kehamilan yang baru ku beli. “ Bullshit !! “, ucapnya dan melempar test pack itu ke atas tanah.

“ Kenapa ini bisa terjadi Nduk...? kenapa ?? “, Nenek terus mengguncang-guncangkan tubuhku, wajahnya yang sudah di penuhi oleh banyak kerutan tersiram air mata yang terus mengalir deras dari kedua matanya. Saking tak percaya dengan kejujuranku, tubuhnya tiba-tiba melemas dan tersungkur di atas lantai.

Aku tidak bisa menjawab. Aku terdiam, membisu. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan Nenek yang sudah merawatku dari umur dua tahun ini. Aku tak kalah menangis, air mataku juga sama derasnya dengan Nenek, dan air mata ini tidak mau berhenti. Kedua mataku sudah tidak kuat menampung air mata yang membendung.

Dari kejauhan aku melihat sosok Ibu yang sudah tujuh tahun ini tidak pernah mengunjungiku lagi. Terakhir aku bertemu dengannya, saat aku pulang sekolah. Ia datang ke rumah Nenek bersama seorang pria yang terlihat lebih muda darinya. Sebelum pulang Ibu berkali-kali mengecup kedua pipiku, ia juga terus memeluk tubuhku dengan erat. Dan memberikanku sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru muda.

Sejak itu, Ia tidak pernah datang lagi. Bahkan tidak pernah menghubungiku. Dan saat ini, saat kulihat Ia yang sedang menyisiri seorang anak perempuan kecil dan memakaikan pita merah di rambutnya, kulihat raut wajah Ibu yang begitu bahagia. Tak lama pria yang dulu datang bersamanya, menghampiri dan menggandeng seorang anak laki-laki. Mereka tertawa bersama. Dan aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan.

“ Bian...please.....”, aku memohon dengan sangat padanya. Dari wajahnya aku tahu ia tidak akan tega. Aku masih terduduk di lantai sambil memegang erat kakinya. Dengan wajah penuh ingin di kasihani, aku terus memohon pertanggung jawabannya. Dan ia hanya terdiam. Tak lama ia membantuku berdiri dan memelukku.

Aku terhenyak kaget. Kakiku lemas dan tak sanggup lagi berdiri.

“ Bian sudah pergi dari kemarin, ia sudah tidak tinggal lagi di kota ini..”, jelas seorang wanita paruh baya dari balik pagar rumah. Tanpa menyuruhku untuk duduk dan masuk ke rumahnya dengan baik-baik, wanita itu langsung menutup pintunya dan tidak menoleh lagi ke arahku yang terkulai lemas di depan pagar rumah Bian yang besar.

Alisnya tebal dan hitam, persis alis ayahnya. Matanya yang bulat dan besar, sangat terlihat tak berdosa. Hidungnya mancung. Ku rasa itu seperti hidungku. Ia terus menguap. Sesekali mengedipkan kedua matanya yang mengantuk. Bibir manisnya yang berwarna pink begitu mungil. Tak jarang ia menangis karena haus atau ingin tidur di atas pangkuanku. Sambil menyanyikan lagi nina bobo, aku mengelus lembut kepalanya. Mengecup kening dan pipinya. Dan ia sekarang terlihat terlelap. Nyaman berada di gendonganku.

“ Maafkan Ibu sayang....maafkan Ibu yang harus melahirkanmu tanpa seorang Ayah..”, aku membisikinya. Ia hanya menggerakkan kepala dan tangannya dengan pelan, seakan ia mengerti akan perkataanku. Aku memandang keluar jendela. Melihat bayiku, aku jadi teringat akan diriku dulu sekali. Aku lahir dengan mempunyai Ayah. Tapi tidak tumbuh besar dengan kasih sayangnya. Bahkan aku tidak pernah ingat akan wajahnya sama sekali. Yang aku tahu, ia pergi setelah kelahiranku. Pergi entah kemana, Nenek hanya pernah bilang kalau Ayah tidak akan pernah kembali.

“ Maya....”, panggil Nenek dan Bu Yati, bidan yang membantu persalinanku.

“ Mereka sudah datang, Nduk....”, ujar Nenek pelan. Aku bangkit dari kursi kayu. Saat aku keluar kamar dengan menggendong bayiku, di ruang tamu sederhana rumah Nenek sudah duduk seorang wanita muda cantik dan seorang pria gagah dan tampan. Mereka berdua sangat kelihatan mapan dan sempurna sebagai pasangan.

“ Ini Tante Ross dan Om Danoe dari Jakarta “, kata Bu Yati memperkenalkan kami. Pasangan yang bernama Soebrata itu tersenyum padaku. Aku membalas senyum mereka. Tante Ross melangkah mendekatiku. “ Ya Tuhan...bayi perempuan yang cantik sekali...”, pujinya saat melihat bayi di gendonganku . Raut wajahnya yang elegan semakin terlihat cantik, saat ia tersenyum lebar penuh kasih saat memandangi bayiku.

“ Sudah saatnya May....”, ucap Bu Yati pelan. Ia kemudian meminta bayiku ke gendongannya. Aku ragu. Hatiku terasa berat. Aku...aku tak sanggup...

“ Maya.....”, lirih Nenek merengkuh hangat bahuku. Tante Ross dan Om Danoe memberikanku beberapa menit lagi. “ Sayangku....maafkan Ibu, Nak...., Ibu selalu mencintaimu....”, aku berkata dalam hati. Tangis dan air mata kembali membuncah dari kedua mataku. Aku menciumi bayiku berkali-kali. Memeluknya erat seakan tak akan ku lepaskan. Tapi aku harus........

“ Kami berdua sangat berterima kasih padamu Maya..., sudah bertahun-tahun kami sangat menginginkan hal ini “, ucap Om Danoe. “ Dan...untuk biaya sekolah juga kuliah selama lima tahun sudah kami persiapkan. Saya sudah bicara langsung dengan kepala sekolah, dan pihak mereka sudah bersedia menerima kamu kembali..”, jelas Om Danoe lagi padaku. Aku hanya tertunduk malu.

Sebelum mereka pergi dan masuk ke mobil mewah yang terparkir di halaman. Tante Ross menghampiriku. “ Kamu bisa menggendongnya lagi sebelum kami pergi, Maya...”, tawarnya sambil menyerahkan bayiku dari pelukannya. Saat aku memandang wajah lucu dan tak berdosa bayiku, lagi-lagi air mataku menetes. Tetesan penuh lara, karena di umurku yang baru 17 tahun, aku harus menyerahkan darah dagingku untuk orang lain.

Aku tersenyum dan kembali mencium dan memeluknya, Karena aku tahu, ini adalah ciuman hangatku untuknya yang terakhir kali. Ini adalah pelukan kasih sayangku untuknya yang terakhir kali...Bayiku tersenyum, matanya yang tadi terpejam, sekejap terbuka dan memandangiku. Boneka lumba-lumba biru muda yang ku berikan untuknya, masih di dekapnya.

“ Namanya Asa, Tante....”, ucapku sebelum Tante Ross masuk ke mobil. Ia menggangguk dan tersenyum. Sambil mengusap air mata yang terus jatuh di pipi, aku melambaikan tangan. Selamat tinggal bayiku, kamu akan mendapatkan kehidupan layak yang seharusnya kau dapatkan, Sayang..., Dan pelukan terakhirku padamu, akan selalu kurasakan. Dan akan terus kurasakan sampai suatu saat aku bertemu kembali denganmu...


Cerpen favorit gue jugaaa...

Yaaaaiiiiyyy...gue nemu lagi salah satu cerpen yang dulu pernah gue tulis. Ini juga salah satu favorit gue, dan ini terinspirasi waktu gue dengerin lagunya Gita Ketawa eehh..Gita Gutawa feat.Maia.
Enjoooyyyyy............................


MAU TAPI MALU.

“ Aku sudah enggak bisa lagi sama kamu...”. Klik SEND. Mesagges is delivered.

“ Raa...!! “. Oyan berlari tergopoh-gopoh mengejar Raia di koridor sekolah. Tapi Raia enggan menoleh. Ia terus saja berjalan santai sambil memegang beberapa LKS di tangannya. “ RAIA...!! “, panggil Oyan lagi dengan nada agak keras setelah berkali-kali ia memanggil cewek manis yang sudah enam bulan ini jadi kekasihnya, tapi gadis tinggi semampai itu tidak juga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Oyan.

“ Raa....!! please.., apa maksud dari sms kamu tadi malam? “, tanya Oyan dengan napas tersengal-sengal karena berlari mengejar Raia. “ Kamu tahu kan itu artinya apa..? “, Raia malah bertanya balik dengan nada santai. Oyan yang bingung mengeryitkan dahinya. Ia benar-benar enggak mengerti. Sebenarnya Oyan tahu sms yang di kirim Raia malam itu adalah sms putus. Tapi yang Oyan enggak mengerti, kenapa tiba-tiba Raia minta putus?. Padahal selama ini hubungannya dengan Raia baik-baik saja. Enggak ada masalah. Bahkan mereka terlihat mesra di depan teman-teman sekelas.

“ Aku udah enggak mau pacaran sama kamu lagi, Yan..”, Raia mulai berkata dengan ekspresi serius. Matanya memandang sayu ke arah wajah bingung Oyan. Pandangan sayu khas Raia adalah ia memohon untuk segera melepas masa pacarannya dengan Oyan.

“ Taa..tapi...”, Oyan enggak mampu berkata-kata. Ia menangkap ekspresi memelas Raia.

“ Yan.., thanks yah.., selama ini kamu udah jadi cowok yang baik, tapi kita udah enggak bisa bersama-sama lagi...”, ucap Raia lembut sambil terus menatap Oyan. Dan Oyan yang luluh dengan tatapan Raia hanya bisa mengangguk dan terus memandangi gadis itu melangkah pergi meninggalkannya.

“Gila lu, Ra..., segampang itu Oyan mau di putusin sama elo? “, tanya Gilli kaget saat mendengar cerita kandasnya hubungan asmara Raia dengan Oyan kemarin. “Dashyat Man..,Ra..., gue acungin lima jempol buat sobat gue ini..,dua jempol kaki gue,duanya lagi jempol tangan gue sama satu jempol hasil minjem jarinya si Kosdut,kucing kampung gue..”, decak kagum Gilli sambil menepuk-nepuk bahu Raia yang sedang asyik update twitter di Blackberry’nya. Raia hanya senyum-senyum mendengar pujian dari Gilli, sahabat kentalnya sejak TK. Karena pujian putus cinta ala Raia yang sering di lontarkan Gilli sudah sering di dengarnya sejak SMP. Yaa..Raia bisa di bilang paling gampang menggaet cowok bahkan gampang pula memutuskannya. Raia bukan playgirl. Ia selalu setia dengan satu cowok. Tapi selalu tidak bertahan lama. Ia memang cewek yang gampang bosan. Satu-satunya yang tidak pernah di boseninya adalah menggaet plus merayu cowok yang sedang di incarnya.

Raia juga mudah jatuh cinta. Mudah pula merayu cowok dan membuat para cowok-cowok lajang itu bertekuk lutut padanya. Raia punya seribu cara untuk meluluhkan mereka. Dan itu salah satu keahlian Raia yang selalu di kagumi oleh Gilli. Gilli tahu betul sifat sahabatnya itu. Jika Raia sudah putus dengan satu cowok, itu bisa di pastikan Raia sedang mengincar seseorang. “ Sooo....who’s the guy?”, tanya Gilli menyelidik. Ia terus menatap serius ke arah Raia. Tapi gadis yang di tanya itu malas mesem-mesem. “Hmm....Ivan!“, jawab Raia tersenyum. “Whaaattt....?,gila Ra...,si Ivan kan baru seminggu putus sama Donna..”, celoteh Gilli. Raia manggut-manggut. Ia sudah tahu kabar putus Ivan. Karena itulah ia akan gencar mengejar cowok basket yang sekarang berstatus single itu. Raia memang sudah lama naksir Ivan, tapi ia mengurungkan niatnya mengejar kakak kelas yang terkenal keren di sekolah itu, karena ternyata Donna sudah menyambarnya lebih dulu. Dan sekaranglah peluang Raia untuk melancarkan niat untuk menjadi “Pacar Ivan “, yang sudah lama tertunda itu.

“ Aku...., sudah lama suka sama Kak Ivan, tapi aku belum berani bilang..”, ucap Raia malu-malu. Ivan yang baru saja selesai latihan basket terlihat terkejut, tiba-tiba Raia sudah menunggunya di dekat lapangan dan memberinya sekotak bekal untuk makan siang juga sebotol air mineral segar. “ Makanya Kak.., aku selalu pakai gelang yang sama kalau Kak Ivan sedang bertanding..”, ucap Raia lagi seraya memperlihatkan gelang anyaman berwarna merah hati yang terlilit di tangan kanannya. Ivan bengong sambil menatap gelang di tangan Raia. Gelang merah hati itu mirip sekali dengan gelang yang sering di pakainya kalau sedang bertanding basket. Dan Ivan menganggap itu gelang keberuntungan. Dan sekarang di hadapannya sudah ada cewek cantik yang terlihat benar-benar menyukai dan nge’fans berat dengan dirinya. Sampai-sampai cewek itu punya gelang yang sama.

“Ra...,nanti malam aku telpon kamu lagi yah..”,kata Ivan tersenyum.Raia mengangguk. Pipinya masih merah merona. Karena tadi sepulang nonton film di bioskop,Ivan mencium keningnya. Dan Raia menyambut ciuman itu dengan terus menggandeng mesra lengan Ivan yang sekarang sudah menjadi pacarnya. Misi berhasil..!!.

Raia dan Gilli berkeliling ke berbagai rak novel di sebuah toko buku di mall. Mereka sibuk mencari novel teenlit terbaru. “Ra...,gue cari komik aja deh..”, kata Gilli yang belum menemukan teenlit yang menarik minatnya dan beralih pergi ke arah rak komik di ujung ruangan. Raia masih sibuk di rak yang menyediakan banyak novel. Ia teliti satu-persatu teenlit yang terlihat seru dan membaca sinopsis novel-novel remaja itu. Semuanya bagus-bagus. Dan rata-rata tema novel itu percintaan. Sesuai selera remaja. Saking banyaknya pilihan teenlit yang bagus, Raia jadi bingung memilih. Sudah ada enam novel yang ada di genggamannya, tapi ia harus memilih tiga di antaranya. Karena Mama tadi pagi sudah memberikan peringatan agar irit membeli novel. Karena novel-novel yang sudah Raia punya menumpuk dan memenuhi kamarnya. Mama pernah mengancamnya agar novel-novel itu di jual di loak atau di berikan ke perpustakaan sekolah. Tapi Raia menolak mentah-mentah. Karena ia begitu gemar membaca teenlit, karena menurutnya di novel-novel itu ia bisa mempraktekkan cara jitu punya pacar ideal.

“Pilih yang ini saja....”. Tiba-tiba ada suara cowok terdengar lembut di telinga Raia. Raia mendonggakkan kepala mencari si empunya suara. Dan bagai di sengat listrik, ia terdiam terpaku. Mulutnya terkunci rapat, tak mampu berkata untuk merespon suara cowok itu. Entah sekarang ada dimana? Raia tak ingat kalau sekarang ia berada di toko buku. Saat ia melihat sosok cowok tak di kenal itu, ia merasa ada di surga. Dan sekarang ada seorang bidadara berada di hadapannya. Atau mungkin cowok itu malaikat?. Entahlah...tapi yang pasti Raia terpana. Terpesona. Dan ada rasa suka yang menggila memenuhi hatinya.

“ Hah..? masa sih? kok gue enggak lihat? “, celoteh Gilli saat Raia menceritakan pertemuannya dengan cowok yang di sangka malaikat berwujud manusia itu. “Yaa ampun Gil...,cowok itu....”, Raia meringis. Bukan meringis kesakitan. Tapi ringisan penyesalan. Karena saat cowok itu berusaha berbicara dengannya, Raia hanya mampu berdiri terpaku dan sama sekali tidak merespon. Dan akhirnya pergilah cowok itu meninggalkannya sendiri di tengah novel-novel yang mengelilingi Raia siang itu. Dan Raia menyesal. Ia pasti tidak akan pernah bertemu dengan cowok tadi. Namanya saja ia enggak tahu, apalagi nomor handphonenya. Dan saat ini Raia hanya sibuk mengutuk dirinya yang begitu bertingkah bodoh di hadapan cowok yang benar-benar mempesona dirinya.

Ada anak baru. Pagi ini Bu Santi wali kelas Raia mengumumkan ada anak baru pindahan dari Singapura. “ Paling anak perempuan “,Raia melengos malas. Memang dari tiga bulan yang lalu, ada dua anak baru yang datang di sekolah. Tapi dua-duanya murid perempuan. Dan Raia tidak tertarik. Dia sudah punya Gilli, sahabat perempuan sejatinya yang bisa menyanyikan lagu sebelum tidur seperti baby sitter, yang bisa menyetir mobil dengan ngebut bila sedang di kejar waktu seperti supir angkot, bahkan bisa menjadi tumbal jika Raia mulai kena omel Mama karena pulang malam.

“ Waaaaahhh.....Uuuhh...hhhoooo...”, tiba-tiba semua murid perempuan di kelas Raia

bergemuruh berisik. “ Ada apaan sih..? “, pikir Raia sambil menolehkan kepalanya ke kanan-ke kiri. Dan saat kepalanya tertuju ke arah cowok yang sudah berdiri di samping Bu Santi. Ia tersenyum lebar memandangi seluruh kelas. Dan Raia tak mampu lagi menggerakkan kepalanya. Mulutnya kembali membisu, tapi kali ini dengan sedikit menganga. “ Cowok itu..., dia ada di sini”.

“ Dandy...namanya Dandy....”, bisik anak-anak cewek di kelas. Tapi bisik-bisik tentang Dandy si anak baru bukan hanya terdengar di kelas Raia saja. Tapi sudah terdengar di seluruh sekolah. Semua anak cewek di sekolah Raia sibuk membicarakan tentang Dandy. Tentang ketampanannya, sifatnya yang ramah, senyumnya yang karismatik dan yang pasti tentang keputusannya untuk pindah sekolah di Singapura ke sekolah SMU Raia dan Gilli. Semua berita tentang Dandy tersebar ke seluruh pelosok sekolah. Dan yang paling gencar di bicarakan adalah statusnya yang single.

Dandy sekelas dengan Raia. Dan duduk tepat di sebelahnya. Untunglah teman sebangku Raia sedang ikut pertukaran pelajar di Thailand. Jadi untuk sementara keberuntungan berpihak pada Raia yang sedang tidak ada teman sebangku. Tapi duduk tepat bersebelahan dengan Dandy membuatnya salah tingkah. Ia banyak bungkam dan tidak sering bercerocos seperti biasanya. Saat Dandy bertanya hal sepelepun tentang mata pelajaran, Raia tak sanggup untuk menoleh ke arahnya. Raia hanya mampu menjawab pelan sambil tertunduk. Dan ia jadi bingung sendiri, kenapa jadi begini?.

Dulu Raia punya banyak cara untuk mendekati cowok. Dengan lincah dan manja ia akan sukses menggaet lawan jenis. Tapi kini, di depan Dandy, ia jadi begitu pemalu. Padahal tak bisa di pungkiri, Raia suka semua yang ada di Dandy. Dari senyumnya yang ramah, matanya yang bermakna, hidung bangir khas Shahruk Khan, gayanya yang cool, tingkahnya yang kadang penuh perhatian dan wajahnya Dandy yang begitu mempesona. Dan Raia begitu terhipnotis. Raia ingin selangkah lebih maju dekat dengan Dandy, tapi rasa malu begitu kuat menghalangi langkahnya. Dan Raia selalu bertanya-tanya, apa Dandy sudi berteman dengannya?, padahal mereka sudah berkenalan. Apa Dandy ingin mendekatinya?, kalau di lihat dari senyumnya, seakan bermakna Dandy mau punya hubungan dekat dengan Raia. Aaggh...Dandy, aku mau jadi milikmu..dan aku rasanya sudah gila memikirkan kamu..., ooh Tuhanku tolong aku mengapa ku jadi malu...

“aku yg selalu punya sejuta cara

cara tuk merayu tapi yang terjadi kini aku seperti ini ku bingung sendiri

di kepalaku ada suka yang menggila..sudikah kamu mengenalku mendekati aku...

aku mau tapi maluuu..,ku suka gayamu, tingkahmu,senyummu tapi ku maluuu

tuk katakan padanya...”

“ Raa.., jangan cuma bisa dengerin lagu Gita Gutawa aja dong.., usaha dulu “, nasehat Gilli serius. Gilli memang jadi terheran-heran, kenapa Raia yang dulunya begitu fasih mendekati cowok, jadi minder dan tak ada nyali sama sekali berhadapan dengan Dandy.

Padahal dua bulan sebelumnya saat berkenalan dengan Dandy, Raia dengan mantap mengakhiri cerita cintanya dengan Ivan. Dan hari itu Ivan melepasnya dengan nyanyian Cinta ini membunuhku, milik D’Masive. Dan sekarang Gilli harus berusaha keras membangkitkan kembali gairah Raia merayu cowok pujaan. Setelah bersusah payah, akhirnya Raia mau berhadapan dengan Dandy sepulang sekolah di kantin. Gilli mendukungnya di balik dapur tempat biasa penjaga kantin membuat mie instant.

“ Fighting Ra...”, ucap Gilli menirukan semangat ala film korea.

“Dandy.., aa..aku...”. Raia berhenti berkata-kata. Jantungnya berdegup kencang. Dandy tersenyum memandang Raia dengan mimik heran. “Ada apa Ra..? kamu mau ngomong sesuatu..?”,tanyanya lembut. “Dan...,aku suka, aku mau, tapi sungguh aku malu..,aku diam, aku bingung, aku harus bagaimana?, ooh Tuhanku tolong aku, mengapa ku jadi malu? ku tak tahu kenapa aku jadi malu..ku tak tahuu..tak tahu.....”. Bukannya berkata tegas dan lugas, Raia spontan malah menyanyikan sebait lagu Gita Gutawa yang sering ia dengarkan tiap hari. Lagu Mau tapi Malu itu memang mengena di hati Raia. Itu isi hatinya tentang Dandy. Dan ia hapal luar dalam. Dandy kemudian hanya tertawa dan menggenggam tangan Raia. “ Thanks Ra.., tapi maaf.., aku sudah punya cewek..”. Raia hanya melongok. Siapa ceweknya Dandy? Bukannya dia masih single?.

“ Aku baru saja jadian....sama Donna ”, sahut Dandy dengan senyumnya yang menawan. Raia tambah malu minta ampun. Ia sudah bertingkah bodoh. Dan sekarang Donna, mantannya Ivan yang memenangkan kompetisi ini.Dan sekali lagi Raia hanya mampu bernyanyi.

Aku yg selalu punya sejuta cara..,cara tuk merayu..

tapi yang terjadi kini aku seperti ini ku bingung sendiri..,

di kepalaku ada suka yang menggila.., sudikah kamu mengenalku mendekati aku...

aku mauuu..tapi maluuu..,ku suka gayamu,tingkahmu,senyummu..

tapi ku malu.., tuk katakan padanya....”

my NexT ceRpen

VANILLA

“Es krim medan..es krim medan.., ada rasa duren, coklat, jeruk, vanilla..., es krim medan..es krim medaaaan....” suara tukang es krim medan selalu setia terdengar di lapangan komplek rumah gue setiap sore jam 16.00 sore dan di situ setiap harinya hampir semua anak kecil di komplek udah setia menunggu kedatangan si abang tukang es krim dan hampir setiap jam 17.00 semua dagangannya ludes di amuk massa cilik yang tergila-gila sama es krim medan itu, mungkin karena harga murah dan rasa yang cukup maknyus bisa memuaskan dahaga anak-anak di sini dan termasuk gue sebagai anak muda umur 16 tahun yang hobi makan es krim dari umur 3 tahun dan bercita-cita menjadi penemu es krim, engga akan mau kalah sama segerombolan anak-anak kecil yang juga fans berat es krim medan itu, hampir semua es krim di dunia ini pernah gue coba dan selalu gue tulis di list ,dari rasa es krim yang paling dasar banget kaya coklat, strawberry, vanilla, es krim ungu rasa ubi yang kini sedang booming atau sampai rasa eksotis kaya moccacinno atau bluberri,dari harga yang termurah sampai yang termahal, dari es krim yang di jual di warung, pasar, gerobak lewat sampai kedai ekslusif yang ada di mall.

Untuk melampiaskan hobi gue itu, gue harus punya modal yang kuat, makanya gue selalu menyisihkan uang 5 ribu perak tiap harinya dari uang jajan gue dan gue masukkan ke box andalan yang bertuliskan “ MODAL PENEMU ES KRIM “, dan nantinya uang ini bakalan gue pake di saat pakar es krim dunia menemukan rasa baru yang eksotis, bombastis dan fantastis. Dan sekarang gue lagi gencar- gencarnya mengincar satu- satunya rasa yang belum pernah gue coba di es krim medan itu yaitu rasa vanilla, karena vanilla es krim favorit anak-anak komplek gue, dan sialnya selama berminggu-minggu gue selalu keabisan terus, dan selalu pulang dengan tangan dan lidah hampa, padahal jiwa gue yang selalu bergelora dan merasakan semangat hidup yang luar biasa setiap melahap es krim sudah seminggu ini memendam rasa penasaran, pengen mencoba, menjilat dan merasakan setiap gigitannya sampai terbawa mimpi. Dan gue bakalan bisa mati penasaran kalo sampai gue engga dapet es krim medan rasa vanilla itu.

Pernah gue sampe berebutan es krim terakhir yang tersisa di gerobak si abang sama anak kecil, gue nyaris dapet satu cone terakhir rasa vanilla yang terlihat penuh dengan bintang-bintang di atasnya, anak cowok kecil di samping gue engga mau kalah juga mau nge’rebut satu cone itu, gue dan dia teriak-teriak ke si abang, “ Baaang..buat saya aja baaang...”, kata gue penuh emosi, “ jaangan bang..jangan kasih buat anak gede, kasih buat saya aja..!!”, balas si anak kecil engga mau kalah sama sekali. Dengan gaya Lara Croft merebut benda pusaka di kuil, dengan sigap gue meraih cone yang sudah terisi penuh dengan es krim vanilla dari tangan si abang, dan haaap...penuh sujud syukur cone es krim itu mantap ada di genggaman tangan gue, dengan mulut ternganga plus mata membesar sambil memamerkan gigi-gigi gue yang gede, gue tertawa penuh kemenangan, tapi belum sampe lima detik gue menggigit es krim itu, tiba-tiba kepala gue di geplak dengan suatu benda keras seperti batu bata, otomatis kepala gue keliyengan, dengan mata morat-marit gue menengok ke arah si pemukul.

Dan seorang Ibu ber’bodi ala Pretty Asmara dengan bajunya yang terlihat berlabel “ Tjap Gentong “ melotot ke arah gue, si ibu terlihat engga terima dengan aksi rebut es krim gue dengan anaknya yang ternyata terjatuh di depan gue dengan tangis se’kejer bak aer penuh. Akhirnya dengan muka di tekuk sepuluh lipatan, es krim medan yang sudah gue menangkan harus di berikan ke si anak kecil tadi dengan tidak ikhlas, dan sambil menjilat es krim dengan senyum meledek, si anak menjulurkan lidahnya tanda kemenangannya.

Tapi gue engga bakalan mau menyerah, besoknya gue dengan aktif mengumpulkan banyak strategi untuk perebutan es krim medan berikutnya. Di kamar tepatnya di meja belajar depan komputer, gue nge’pending acara download wallpaper boy band korea favorit gue dan up date status dan ngasih comment temen-temen di Facebook, rutinitas ngerjain PR tiap jam tujuh malem, gue kerjain lebih awal tadi siang pas pulang sekolah sambil ngopi-ngopi di temani kue pancong yang di beli si bibi tadi pagi. Makan siangpun gue rapel sekalian sama makan malem dengan waktu tak kurang dari lima belas menit. Hap..hap...hap...tempe bacem, sayur lodeh dan ikan tongkol pedas, gue lahap dengan secepat-cepatnya. Si bibi sampe kasih komentar gaya makan gue yang kayak tentara di tunggu perang, “ Yaa elaaah Non..pelan-pelan napa?! keselek lho entar..emang makan cepet-cepet mau buka-buka Muka Buku yah Non?? ”, tanyanya polos, gue’pun engga kalah nanya balik dengan polos, “ Muka buku..?? apaan tuh ? “, “ Ittuuu....Pesbuk, kata si pembantu sebelah, artinya pesbuk muka buku Non, dia tiap hari liat pesbuk di hapenya yang dia beli waktu kerja di arab loh Non..bahasa inggrisnya juga jago..!”, terang si bibi takjub.

Setelah sempat dengar cerita si bibi tentang muka buku’nya si pembantu sebelah, gue segera ngeloyor pergi ke kamar, berbagai ide dan strategi gue pikirkan dengan sematang mungkin, bermacam-macam masukan dari temen-temen gue kumpulkan di otak gue, dengan mengantisipasi manjur atau tidaknya ide-ide mereka yang terasa mutakhir dan brilian. Ide dari pergi langsung ke rumahnya si abang penjual es krim, beli se’gerobak penuh es krimnya dengan bayar DP setengah harga sampe merayu si abang dengan bermodal rok mini dan tank top pink berdada rendah biar dapet es krim vanilla incaran gue dengan gampang, mudah dan gratis. Tapi akhirnya...yesss!! gue dapat solusinya, gue dapet idenya, dan gue merasa cara ini cukup ampuh buat menyingkirkan pesaing-pesaing cilik gue itu !, dan cara ini bakal gue coba besok, dan dengan tak sabar gue harus menunggu hari berganti untuk mempraktekkan ide gue itu, dan sebagai anak gadis beriman, gue minta pertolongan sama Tuhan, gue berdoa sebelum tidur agar ide gue ini berjalan lancar dan semulus pahanya Miyabi idola plus artis cantik favorit yang film-filmnya ada di koleksi Papa.

Dan saat ini, hari yang sudah di nanti-nanti, gue sudah stand by di tengah lapangan, dengan memegang uang tiga lembar ribuan di tangan, sambil menunggu kedatangan si abang es krim, gue melakukan pemanasan, gue renggangkan tangan gue ke atas, gue tarik jari-jari gue tanda siap siaga, sandal jepit yang biasa gue pake ke warung, gue ganti dengan sepatu olah raga andalan. Di lapangan sudah berkumpul anak-anak kecil yang minggu-minggu ini jadi saingan gue,mereka juga sibuk melakukan pemanasan, ada yang bolak-balik main perosotan, ada yang dorong-dorong temannya yang main ayunan, “ Hhmm...mungkin dia lagi menguatkan tangannya buat nge’dorong badan gue nanti..”, Gue berpikir picik,dan gue lihat jam di tangan, jam 15.45..,ok...lima menit lagi, gue udah ancang-ancang bersiap melakukan sprint, si abang es krim belum terlihat batang hidungnya, kuping gue berusaha konsentrasi mencari suara bel dari gerobak yang biasa berbunyi tanda kedatangan si abang tukang es krim. Mata gue pun engga kalah memincing mencari-cari sosok si abang yang akrab dengan topi berwarna sorbet lengkap dengan t-shirt warna senada. Dan engga lama terdengar..., “Es krim medan..es krim medan.., ada rasa duren, coklat, jeruk, vanilla...es krim medan..es krim medaaaan....”

Semua mulai bersiap berlari sekencang-kencangnya, gue yang engga mau kalah dan sudah bertekad baja untuk mendapatkan es krim vanilla juga segera berlari dan kali ini gue engga sendirian, gue di temani anjing golden retriever tetangga yang memang sengaja gue pinjem, si anjing juga ikut berlari mengikuti langkah gue sambil menggonggong, dan seketika anak-anak kecil yang dari tadi sudah berlarian bergerombol di depan gue langsung kaget dan membelokkan langkahnya menjauhi si abang es krim dan mencari perlindungan sambil berteriak “ addaaaaa annjiiinggggg........”, sebagian ada yang berlari sambil menangis menghampiri ibunya, “ oohh..maaf sobat..kali ini aku harus menang..” pikir gue sambil melambai ke arah mereka dan memberikan kiss by penuh nafsu.

Dan akhirnya gue sampai di gerobak dan mengeluarkan uang tiga ribu ke si abang sambil ngos-ngos’an, “ vanilla bang...vanilla yah....beli dua deh.....” kata gue sambil menambahkan selembar lima ribu’an. Dua cone es krim sudah gue dapatkan, sambil duduk di taman dengan rasa kemenangan yang tiada tara, gue lahap tiap gigitannya dengan konsentrasi penuh, si anjing juga terlihat menikmati es krim yang tadi gue beri sebagai rasa terima kasih karena turut membantu aksi gue tadi. Ffyyuuuhhh.....rasa bangga masih menggelora di dada, malam ini gue bakalan bisa tidur nyenyak dan engga bakalan di takuti mati penasaran lagi.

Es krim medan rasa vanilla..ada di urutan terbaru di list es krim yang selalu gue tulis setiap gue udah mencoba rasanya. Dan gue berkata dalam hati, “gue bukan ice cream freak namanya kalo belum mencoba semua rasa vanilla di dunia ini, karena vanilla berhubungan dengan nama gue..”, sambil melihat Kartu Pelajar yang bertuliskan :


Nama : Siti Vanilla Sari

Kelas : XI Tata Boga Satu

Kamis, 24 Maret 2011

cerpen favorit

kemarin malem gue iseng berat karena di tinggal meeting mantan doi,alhasil gue buka file2 lama di laptop dan guepun menemukan kumpulan cerpen yang dulu pernah gue tulis. Dulu sih berniat buat bikin KumCer dan mencoba nawarin ke beberapa publisher. Tapi sampe sekarang kumcer gue ini masih anteng di flashdisk. Ya sutra gue coba publish ning kene wae'laaahhhh...

Dan gue pun nemuin salah satu judul cerpen yang favorit gue banget!!,sampe2 adeku tercinta dan tersayang Alm. Indy ngakak2 bacanya (yang bener sih baca sambil di todong golok,jadi dia ngakak dengan super duper terpaksa kekekeke...). Hmmm judulnya, yang ini nih frenss....."SEANDAINYA DADAKU MEYEMBUL SEPERTI JULIA PEREZ.."

Ini cerpen "gue" banget..whyyy?? karena dulu gue begitu mendambakan Jupe, eeh yang bener dadanya..
coz my dada ini so minimalis, dan guepun takjub mampus waktu ga sengaja nonton gosip tentang Jupe dan Gaston Castanyo yg lagi heboh di infotainment. Dan tiba2 terinspirasi aja gue buat nulis cerpen ini..............................


SEANDAINYA DADAKU MEYEMBUL

SEPERTI JULIA PEREZ...

“Hhmmmm.......” aku bergumam sendiri, di depan kaca sambil memandang tubuhku, kuputar badanku ke kiri dan ke kanan, menegaskan bentuk dadaku yang cukup....hhmmm...yaahhh..kurang lebih seperti jambu klutuk......, hhhhhh....aku menghela napas tanda tak puas..ku letakkan ke dua telapak tangan ke dada, ku pastikan kembali bentuk dan ukurannya...sesaat ku terbelalak, kok mengecil???lhaaa...kok jadi mungil gini??? pikirku terkaget-kaget, oooohhhh...hanya sugesti....pikirku menenangkan diri, ok..ok...masih sama seperti kemarin.., masih aman...pikirku lagi...., selama setengah jam aku mengecek pertumbuhan dadaku, setiap hari tanpa terlupa seharipun. Aku menghempaskan badanku ke tempat tidur, mengingat kembali perkataan kakakku tentang “payudara”, katanya normal untuk anak seumur 16 tahun sepertiku khawatir tentang pertumbuhan dadanya, dan setiap saat bisa saja semakin tumbuh dan membesar dan itu akan berhenti sendiri saat berumur 18 tahun.Dan untuk umur-umur selanjutnya semua perempuan harus puas dengan ukuran dada yang di dapatnya, hhuuuhh...pantas saja ada banyak perempuan yang mengoperasi untuk memperbesar buah dadanya, karena dada yang mereka punya tak cukup untuk dipuji laki-laki, kasihan sekali mereka-mereka yang harus cukup puas mempunyai dada yang “ sekedarnya” saja.

Lihat saja dadaku ini, saat ini di umurku yang ke 16, dadaku masih sebesar jambu klutuk, tepatnya lagi sebesar “ jambu klutuk busuk ” yang jatuh dari pohon, dan waktuku tinggal 2 tahun lagi untuk memperbesar dadaku secara alamiah. Hal ini bukan karena aku tergila-gila dengan Pamela Anderson atau Julia Perez yang terkenal dengan Fabolous Boobs’nya,tapi karena aku belum merasa sebagai cewe sempurna jika belum memiliki ukuran dada yang se’standar’nya.

Pantas saat aku dan teman-teman sekelas berganti baju, mereka selalu menertawakan bentuk dadaku itu, menurut mereka seharusnya seumur ini dada kami berukuran buah melon, atau kalau ada yang beruntung sebesar buah papaya mengkel atau nangka. Dan aku hanya diam saja dan mengutuk mereka dalam hati.Adduuuhhh...kenapa aku harus pusing sih memikirkan buah dada?? toh nanti dadaku juga akan membesar dengan sendirinya, kan sudah keturunan, mama dan kakak-kakakku semua buah dadanya berukuran jumbo, oma’ku saja yang sekarang sudah tak peduli dengan ukuran payudaranya masih semontok buah semangka yang lama di pohon, tapi kenapa dadaku masih saja berukuran S???, jangan-jangan aku punya kelainan? atau jangan-jangan aku bukan anak kandung mama?, aku berpikiran ekstrim. Uppss....tiba-tiba ada yang iseng menyentuh dadaku, aku menoleh secepat kilat, Siaauull...Mala sahabatku memang iseng sering menyentuh dadaku secara tiba-tiba bahkan jika dia beruntung kadang meremas cepat dadaku, alasannya karena dia gemes dengan dadaku,padahal ukuran dadanya juga tak beda jauh denganku, hanya saja dia sedikit beruntung karena dadanya lebih besar ¼ daripada punyaku , cewe mungil ini hanya mesem-mesem, ngikik melihatku terkaget-kaget dengan ulahnya.

“Hee..heeeh..hee..masih mikirin dada aja , neng..” canda Mala. aku hanya mendengus.Sambil melihat-lihat majalah, Mala berceloteh ,” oya Run..beha’ku sekarang 34 lho...heeheee..” katanya mesem-mesem. Aku terbelalak dan langsung memandang serius ke arahnya,” beneran mal..???” tanyaku.

“ yap..yaaappp.....” kata Mala singkat.

“ kok bisa...??? elo apain? pake apaan? kan kemaren lo masih pake beha ukuran 32? sama ma gue..., kemaren-kemarennya lagi, malahan elo cuma pake miniset!” tanyaku sedikit membabi buta.

“ pake resep kuno dari nenek moyang...” tatap Mala misterius ke arah wajahku.

hah?? resep kuno? resep apaan? , pikirku aneh.

“ tapi gue ga tau deh..elo bakalan berani apa engga...” kata Mala.

“ emang resep apaan sih..??” tanyaku penasaran.

Mala ngikik sambil berusaha bersikap serius.Aku yang penasaran hampir saja mau menampol wajahnya. “ Rahasianyaaa....di pijat mesra sama laki-laki, Run...sehari 2 kali selama 20 menit cukup...., terbukti ampuh dan bisa membesar seketika...”.

aku terbelalak sambil menganga, refleks aku pegang dadaku tanda waspada, seakan-akan ada segerombolan laki-laki bertangan kuat dan berminyak yang siap siaga memijat dadaku, mereka senyum-senyum dan siap menerkamku,

“ Aaaarrgghhh...mamaaaaaaa......” teriakku sekencang-kencangnya, Mala langsung menutup mulutku pakai bantal, aku gelagapan dan tersadar..” wuuuhaaahaaaa......Mala ngakak sambil nahan sakit perut.., haaahhhh??? aku melihat sekeliling...ga ada laki-laki beringas yang tadi...ooow..ooww.. hanya khayalanku ternyata. Pleetaakkk...aku sigap menjitak kepala Mala, awwww....dia meringis kesakitan.

“ Lu..becanda kan mal..??” tanyaku.

“ hiihiiiihiii......” mesem Mala seperti mba kuntilanak di siang bolong.

“ lagian lo percaya...pake ngayal lagi....haahaaaa” tawa Mala.

“ udah ah...serius nih....” kataku kesal, karena ketahuan aku ternyata suka mengkhayal.

“ pake minyak tempurung kura-kura sama buah pinang, cuuy...” katanya lagi.

Waakksss.....??? minyak tempurung kura-kura???? pikirku penuh tanda tanya, emang kura-kura berminyak?, “ ini resep dari temen kantor tante gua..ada yang jual kok, kalo miyak kura-kura di jual 50 ribu per’botol kecil, di impor langsung dari pontianak” terang Mala yang kali ini terlihat serius. “ tapi kalo buah pinang, ga ada yang jual yang langsung jadi, lo harus cari sendiri, gua aja dapetnya di pasar kaget, termasuk buah langka sih....” terang Mala lagi. Hmmm.....aku bergumam.

“ Lo..kalo mau bisa gue pesenin ke tante gue tapi yang minyak kura-kura aje yee..oya fyi...kalo lo mau pake harus tahan banting ma baunya, gillaaa..baunya ga enak banget, gue aja kalo make harus pake masker plus minyak wangi, kalo engga bisa-bisa gue muntah di tempat dehh.....” saran Mala. Ok...gue harus coba ah... pikirku mantap.

Sore ini biasanya mama lagi menyiram bunga anggrek koleksinya di halaman depan,aku segera mencari-cari sosok perempuan berumur 40’an yang masih terlihat awet muda ini, benar saja..di pojok teras dengan mengenakan long dress bali berwarna merah marun, mama sedang asyik menyiram anggrek-anggrek kesayangannya, seakan-akan sedang berada di taman bunga indah yang di penuhi beragam anggrek dari seluruh dunia, mama tidak mengindahkan panggilanku. “ Maaaa.....” panggilku lagi yang ke 20 kalinya sambil mencolek bahu mama. “ Haa..??” mama kaget sambil menoleh ke arahku..., “ Adduuhh...Runa..., bikin kaget aja aah....” terang mama sambil merapihkan selang air yang tadi di pakainya untuk menyiram. “ Ma...beliin aku minyak tempurung kura-kura dong...” pintaku ke mama.

“ Minyak apaan..???” tanya mama heran.

“ Minyak tempurung kura-kura...”

“ iddiiihh..minyak buat apaan tuh...emang kura-kura berminyak?” tanya mama lagi.

“ buat....hhmm....”, aduh.., aku harus bilang ga yah ke mama?

apa bohong aja kali yah? buat antisipasi kalo ga di beliin sama mama.

“ buat ini mah...hhmm...kulit kaki’ku nih...”, kataku ngibul sambil menunjukkan kaki’ku yang penuh bercak-bercak merah gigitan nyamuk.

Mama melongok ke arah kaki’ku, “ aahh..itu mah bisa ilang, pake bodi lotion aja..”

“ engga mau ah mah...lengket”, sergahku menolak saran mama.

“ lulur aja kalo gitu...”, ya ampun..banyak akal banget sih mama’ku ini.

“ ga mau juga ah mah..kelamaan kalo pake lulur, kan malu kalo aku lagi renang, kaki’ku serem banget banyak besetnya, belom lagi kalo bercaknya udah lama ga ilang-ilang terus warnanya jadi item, kan malu banget mah...belom lagi kalo aku mau pake rok mini, celana pendek”, aku ga kalah nge’les.

“Ckk...ck..ckk..., emang berapaan harga minyak kura-kuranya?” tanya mama.

Yeesss....finally nyerah juga, pikirku senang. “ 50 ribu se’botol mah..”

“ appaaaa...? mahal banget? lagian kamu dapet darimana sih info tentang minyak begituan? mama aja baru denger, beneran manjur bisa ngilangin bercak?” serbu mama bertubi-tubi, aku cukup gelagapan, “ hmm...eehhh...itu dari tantenya Mala, katanya beneran bisa cepet ngilangin bercak mah..bekas luka juga bisa..bekas luka gigitan ulat bulu,anjing, kucing, luka bakar,luka kena tampar....” kataku tambah ngibul.

“ gigitan ulet bulu..?” tanya mama heran, aku mengangguk-angguk saja dan berencana tidak banyak omong, biar ngibul’ku engga ketahuan.

Aaahhh....senangnya hatiku sambil menimang-nimang sebuah botol kecil berwarna coklat transparan berukuran 50ml, hatiku sudah ga sabaran pengen cepet-cepet mengoleskan isinya ke dada’ku..aku berencana memakainya rutin sehari 3 x, atau kalo perlu 4-5 kali saja biar cepet terbukti ke’ampuhannya. Aku’pun segera membuka kaos oblong kesayangan yang bertuliskan “ My boobs..extra large”.., aku oles perlahan-lahan minyaknya...hyyuuhh...jijik juga, minyaknya lengket banget, lebih lengket dari minyak bulus,mana bau lagi..baunya lebih amis dari pada bau pasar ikan, hhuueekk..aku hampir saja muntah,untunglah aku sudah antisipasi dengan memakai masker yang sudah di semprot cologne, sesuai anjuran Mala. sambil mengoles tak lupa aku berdoa dalam hati, “ ya Tuhan...semoga minyak ini bener-bener ampuh, dan saya akhirnya bisa mendapatkan payudara impian..aamiiinnn...” , dengan penuh keyakinan aku mantap berdoa dan berharap jika kita sebagai umatnya minta sesuatu ke Tuhan dengan bersungguh-sungguh pasti akan di kabulkan..Hiihhiihiiii...aku senyum-senyum sendiri, rasanya aku harus cepat-cepat beli bra baru yang ukuran 34 atau kalo perlu 36 saja sekalian..hiihhiiihiii.....dan mulai berkhayal, jika dada impian sudah ku dapatkan, dengan pede’nya aku akan membuka bajuku dengan seksi di ruang ganti di depan teman-teman saat olahraga nanti, aku akan banyak berlagak seperti Dewi Perssik, melanggak-lenggok memamerkan dadaku yang sudah berisi dan sekel bahkan kalo perlu sambil ku nyanyikan saja lagu munajat cinta plus gaya’nya Dewi Perssik.

Uppss...uppsss...karena asik menyusun rencana, minyak yang sudah ku olesi tumpah ke sekujur tubuhku...adduuhh..kebanyakan lagi pakenya, pikirku. Tubuhku’pun jadi lengket..tapi engga apa-apa biar cepet bereaksi, hiburku dalam hati, padahal aku menyesal banget sudah hampir setengah isinya ku habiskan. Setelah menunggu setengah kering, aku segera memakai kaos oblongku lagi, kelamaan topless jengah juga..bisa-bisa nanti masuk angin. Setelah mencuci bersih tangan, aku merebahkan badan ke tempat tidur sambil membaca-baca majalah, kulihat halaman per’halaman

dan terhenti saat ku lihat ada gambar Julia Perez terpampang di salah satu rubrik yang berjudul’kan “ The Hottest Women of The Year”, di situ Julia Perez yang terkenal dengan nama Jupe mengenakan bikini merah saat berfoto di pantai, bikini itu tampak sempurna dan sangat seksi, buah dada Jupe yang terkenal indah dan alami terlihat menyembul di belahan bikininya di tambah gaya berfoto Jupe yang memang sudah terkenal sensual dan HOT..! Uugghh...aku iri..!!!! dan tiba-tiba aku membayangkan wajahku terpampang di majalah itu dengan tubuh ala Julia Perez, di sebelah foto Jupe terpajang juga foto Rahma Azhari dan Sarah Azhari dari klan Azhari sister, mereka memakai Mini dress ketat berwarna gold dan putih, dan tak kalah buah dada kebanggaan ikut meyembul tak mau ketinggalan di foto. Selain artis lokal terpasang pula artis Hollywood yang memang di kenal seksi, sensual dan mempunyai buah dada idaman semua wanita di dunia.., Mariah Carey, Kim Kadarsian, Beyonce...semua sangat seksi..dan tiba-tiba semua wanita-wanita itu dengan di pimpin Julia Perez yang mendendangkan lagu Belah Duren, sudah berkumpul di atas kepalaku memamerkan keseksian mereka, mataku perlahan memejam dan majalah yang tadi kubaca terjatuh ke bawah tempat tidur.

“Waw..waaaaw..OMG....what a perfect boobs...!!!!” seru Mala.

“Look at you girl....montok,seksi, sekel...perfecto..!!!” seru Mala kedua kalinya.

aku bingung dengan seruan Mala yang tiba-tiba itu, dan tiba-tiba seperti biasa Mala yang iseng, ingin memegang dadaku. “ it’s real...so reaaaalll..!!” katanya berkali-kali

dan yaa ampun..dia sudah meremas-remas dadaku ingin membuktikan ini palsu atau bukan. Aku langsung menepis tangannya, wajah Mala masih terlihat terkagum-kagum

aku menunduk , melihat ke arah tubuh ingin mencari tahu ada apa dengan dadaku.

Yaa Tuhan.....aku tersentak kaget dan hampir saja ingin melompat, iii...iinni..ini..inii..betulan? ini beneran? ini ga palsu?? ya Tuhan..sekali lagi aku menyebut-nyebut nama Tuhan, aku pegang dadaku perlahan-lahan, ini beneran..!!! ini bukan balon aer, bukan silicon, bukan juga gumpalan kaos kaki...ini dadanya Julia Perez...!!!!!!!! Ciihhuuuyy..akhirnya payudara impian sudah kudapatkan.., doaku terkabul, minyak kura-kuranya juga mujarab..aku melompat-lompat kegirangan, tak ku lupa memeluk Mala, “ so many..many thanks ya mal....” kataku berterima kasih. Kami berduapun berjoget-joget kegirangan, ku condongkan dadaku ke depan dan bergoyang ke kanan dan ke kiri...dan ajaibnya dadaku bergerak ke san-sini mengikuti arah badanku..yaa..yaaa bergerak..dan sebelumnya dadaku belum pernah sekalipun bergerak atau goyang sekalipun, dengan gembira kami berdua berjoget di iringi lagu wannabe’nya spice girl yang sudah punah itu.

Besoknya di sekolah aku dan Mala berjalan dengan pede, dengan langkah bak model badan ku tegapkan, tubuhku yang dulu kutilang darat ( kurus, tinggi langsing,dada rata) kini berubah menjadi kutilang air (kurus, tinggi,langsing,dada mutakhir).Semua pandangan mengarah ke arahku, semua memperhatikan perubahanku, hampir semua anak laki-laki melongo ga berkedip...sepertinya mereka takjub...!. Dan rencana memamerkan dadaku yang baru ke semua teman-teman cewe saat olah ragapun tak luput ku laksanakan. Sampai jam sekolah bubarpun mereka masih saja memperhatikan diriku..bahkan beberapa ada yang tak sadar sudah mengikuti langkahku. Hiihiihiii...kayanya mereka iri deh.....

Dan sudah beberapa minggu ini aku masih saja menikmati perubahan drastis diriku, yesss...rasanya nyenengin banget, aku dan Mala sangat-sangat menyukainya, apalagi sekarang-sekarang ini banyak cowo yang menegurku, padahal dulu melihatku’pun mereka melengos, sssttt....bahkan banyak juga yang mau jalan atau sekedar mampir ke rumah, sms dan telpon ga henti-hentinya berdering, aku tiba-tiba jadi merasa sangat terkenal seperti Manohara Odelia Pinot. dan kabarnya di sekolah, semua anak cewe bahkan beberapa guru perempuan berusaha mencari tahu keberhasilanku dalam menumbuhkan buah dada, dan hal ini aku dan Mala sudah sepakat menjadi top secret kami berdua.

Semakin lama semakin banyak saja cowo-cowo yang mengincarku, mama sampai gerah tiap hari harus mengangkat telpon misterius dari seseorang yang mengaku fans ku, dan ga sedikit pula ada yang berani terang-terangan menyatakan rasa sukanya padaku sambil memandang ke arah dada. Ga cuma cowo-cowo di sekolah saja yang sering tanpa sadar menatapku, di mall, di angkot, di tempat les, di kafe dengan mata nakalnya mereka melirik-lirik ke arah dadaku, bahkan beberapa cowo yang tidak berani mendekati hanya bisa memandangku dengan ekspresi nafsu,dan sekali lagi mencuri-curi pandang ke arah dadaku yang sedikit menyembul bahkan kadang secara tidak sadar mereka sampai meneteskan air liur seperti siap menerkamku. Iiihh..lama-lama aku jadi risih..dan ketakutan sendiri. Seperti saat ini aku yang biasanya pulang renang bersama dengan Mala,kini harus pulang sendirian karena Mala di jemput oleh cowonya, dan tumben banget sore-sore gini jalanan udah sepi, mana mendung lagi, angin sorepun terasa dingin dan membuat leherku bergidik, dengan waspada aku melirik ke kanan dan ke kiri,memastikan tidak ada orang yang mengikutiku dari belakang, dan tiba-tiba....krreekk....ada suara ranting patah, aku menoleh ke belakang...tidak ada siapa-siapa, aku melanjutkan berjalan dan mempercepat langkahku...dan sejenak berhenti karena ada 2-3 orang berdiri tidak jauh di depanku, aku’pun berusaha tampil berani dan melangkah lagi..semakin cepat...dan cepat, sambil menoleh ke belakang kulihat ada beberapa orang mengikutiku, akupun memutuskan untuk berlari saja mengambil langkah seribu, dengan tergopoh-gopoh tiba-tiba aku di hadang oleh orang-orang yang tadi di depanku..,ya Tuhan mereka semua laki-laki.. dan sekarang mereka berdiri mengelilingiku, sambil tertawa-tawa mereka mengoleskan sebotol minyak ke tangannya, hhyeekk...baunya amis banget..!!, dan sambil merenggangkan jari-jari mereka semua mendekatiku...siap menerkam..semakin dekat..semakin dekat..seemaak..kkin ekaaat..seemaakiinn...aaaarggghhh tooolooong.......

Guubbraakk...... oohh....kok banyak bintang ?? bintang di atas kepalaku...,aku mengusap-usap kepala, adduuhh...sakiit..!! berusaha sadar ku lihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa..hanya ada aku....dan inikan di kamar...berarti..berarti..., oohh..aku teringat sesuatu..langsung ku pegang dadaku....ku pastikan kembali bentuk dan ukurannya, oohh..oohhh...batok kelapa...yeeaahhhh alhamdulillahhhh..batok kelapaku kembali..!!!! aku berseru kegirangan, ternyata tadi itu cuma mimpi...dan baru kali ini aku begitu gembira dengan payudaraku, jika bisa ku cium..pasti akan ku cium 2 batok kelapaku ini..sayangnya kepalaku tidak sampe.., ffyyuuhhh....ternyata punya dada ala Julia Perez bisa membuatku mimpi buruk dan membawa Malapetaka.

Ini pasti petunjuk dari Tuhan, karena mempunyai dada besar itu tidak selamanya menyenangkan, dan kurasa Tuhan tau aku masih belum pantas memiliki dada seperti Julia Perez, oyaa..mungkin juga mimpi buruk’ku tadi itu karena aku berbohong sama mama, aku langsung mencari botol minyak kura-kura itu, sambil memegangnya aku sedikit mengutuk botol yang tak bersalah tadi, “ dasar minyak laknat.....”, dan pluung..ku buang botol itu ke tong sampah. Aaahh....,aku merasa lega dan semakin bersyukur atas dada batok kelapa pemberian Tuhan ini. Tetapi jika aku sudah bersuami nanti dan batok kelapaku ini masih setia menempel di dadaku,hhmmm.... akan ku pertimbangkan kembali untuk memperbesarnya sebesar dada Julia Perez.....



Minggu, 20 Maret 2011

my favorite story ^_^


NENEK POTSY DAN SEGUNUNG KUE.

Pada suatu hari hiduplah seorang Nenek yang bernama Nenek Potsy, ia tinggal hanya berdua dengan kucingnya Junjun, Nenek Potsy adalah seorang penjual kue, ia mempunyai sebuah toko kue kecil di pinggir kota, Nenek Potsy yang ceria dan selalu tersenyum setiap hari selalu bersemangat membuat kue-kue yang enak, semua orang di kota juga tetangga-tetangganya sangat menyukai kue-kue buatan Nenek Potsy. Karena kue-kuenya sangat enak dan lezat. Bahkan anak-anak tetangga Nenek Potsy selalu datang membeli kue-kuenya setiap hari, dan Nenek Potsy selalu memberi bonus satu buah lollipop atau se’plastik penuh kue jahe.

Dan Bella adalah salah satu langganan setia toko kue Nenek Potsy. Sehabis pulang sekolah ia selalu menyempatkan untuk datang ke sana membeli sebuah kue tart mini coklat atau bolu kacang manis. Bella sangat suka semua kue-kue yang ada di toko Nenek Potsy. Bahkan ia bercita-cita akan menjadi koki kue seperti Nenek Potsy.

“Nenek Potsy...aku datang lagi....” kata Bella menyapa.

“ Oooh..halo sayang..., mau beli apa kamu hari ini..? Nenek sudah buatkan Tiramisu rasa jeruk dan Pie buah tropis..” ujar Nenek Potsy sambil mengeluarkan sepiring kecil kue berwarna orange dengan beberapa potongan jeruk dan foam lembut di atasnya juga semangkuk pie buah yang segar. “ Kue-kue ini spesial untuk langganan setia’ku..” kata Nenek Potsy lagi. Duuh..Bella bingung harus pilih yang mana karena keduanya kelihatan lezat dan menggoda.

“ Aku mau yang tiramisu jeruk Nek...” pilih Bella.

“ Atau.....hhmm...pie buah saja deh..buah-buahan itu kelihatan segar, aku jadi ingin mencicipinya juga...” kata Bella bingung. Nenek Potsy tertawa.

“ Atau begini saja Bella manis...kau pilih salah satu dan yang satunya lagi aku berikan gratis untuk’mu...,bagaimana?” tawar Nenek Potsy sambil mengedipkan mata kanannya. “ Benar ‘nek...??” tanya Bella senang. Nenek Potsy menggangguk. Dengan riang Nenek Potsy membungkus kue pilihan Bella ke dalam kotak kecil yang di hias dengan pita manis berwarna pink.

“ Meeooonggg....” Junjun mengeong ke arah Nenek Potsy, ooo..ooo rupanya Junjun juga ingin kue-kue itu, dia iri melihat Bella sedang asyik melahap pie buah hadiah dari Nenek Potsy. “ Halo Jun...apa kamu mau pie ini...?” tanya Bella ramah.

“ Meeooongg....” Junjun kembali mengeong manja. “ Haahaa..lihatlah kucing ini..karena tiap hari Junjun selalu memakan kue-kue’ku, bobotnya bertambah dua kali lipat dan semakin hari semakin gemuk, bulunya saja bertambah lebat....” canda Nenek Potsy sambil menggendong dan mengelus bulu lebat Junjun yang berwarna orange tua. kemudian Bella dan Nenek Potsy memberi Junjun kue dan bercanda hari itu.

Tetapi sudah dua hari ini toko kue Nenek Potsy tutup. Saat Bella pulang sekolah dan melintasinya, ia selalu melihat pintu depan toko tertutup rapat dan bertuliskan kata “ CLOSE”. Hmm...tumben sekali toko Nenek Potsy tutup, pikir Bella. Karena penasaran ia pun mencoba melongok-longok ke dalam kaca jendela toko, tapi sayang sekali jendela itu juga tertutup rapat oleh tirai. “ Apa Nenek Potsy sedang pergi ke luar kota...?” tanya Bella. Dan ia putuskan besok akan kembali lagi ke toko, siapa tahu Nenek Potsy sudah kembali dan membuka toko kuenya.

Setelah lewat lima hari toko kue Nenek Potsy masih saja tertutup rapat. Bella yang kali ini datang bersama teman-temannya mencoba mengetuk-ngetuk pintu. “ Hallooo Nenek Potsy..apa Nenek ada di dalam...hallo..Junjun?” tanya Bella. “Nenek Potsy... Nenek Potsy , halloooo..apa ada orang di sana...?” kata teman-teman Bella serempak.

Tetapi belum ada jawaban juga. Tampaknya toko kue juga sekaligus rumah Nenek Potsy tidak ada yang menempati. “ Kemana Nenek Potsy ya..?” tanya Bella dan teman-teman. “ Aku kangen dengan kue Blackforest Nenek...” kata Juni, salah satu teman Bella. “ Ya...aku juga, tapi aku lebih suka Cupcake’nya..sangat manis dan lezat, tapi sebanyak apapun aku makan, aku tidak pernah sakit gigi..” kata Edgar yang bertubuh tambun, ia juga salah satu pelanggan setia toko kue Nenek Potsy. Bahkan tak tanggung-tangung Edgar kadang sampai membeli 3 kotak kue untuk di makan bersama orang tua dan adiknya.

“ Kalo aku lebih suka biskuit coklatnya..,” kata teman Bella yang lain.

“ Aku suka kue stroberrinya..”

“ Kalo aku...kue lapis pelanginya...”

“ Bolu kejunya juga enak...., kue jahe.., pancake madu..” seru teman-teman Bella yang lain. Waah..rupanya mereka semua memang suka sekali dengan kue buatan Nenek Potsy. Dan mereka semua adalah pelanggan toko kue Nenek Potsy.

“Tetapi sekarang..., ada di mana Nenek Potsy...?” tanya Bella sedih. Teman-teman yang lain juga bertanya-tanya. “ Apa aku tidak bisa memakan kue-kue buatan Nenek Potsy lagi..?” tanya Edgar sedih. Bella dan semua teman-teman juga ikut bersedih.

“Oiya..coba kita tanya tetangga Nenek Potsy saja..” usul Juni.

“ Ide yang bagus Juni..!” seru Bella. Dan mereka pun segera mendatangi rumah tetangga Nenek Potsy. Setelah mengetuk pintu, tetangga Nenek Potsy yang bernama Laurie mengatakan kalau Nenek Potsy ternyata mengalami kecelakaan kecil sewaktu sedang membuat kue, tangannya terkilir dan mengalami patah tulang sehingga harus di bawa ke rumah sakit di pusat kota.

“ Ooh tidak..kenapa kita sampai tidak tahu yah..?” tanya Bella.

“ Bagaimana kalo kita menjenguk Nenek Potsy di pusat kota?” usul Juni.

“ Tetapi pusat kota sangat jauh dari sini..” kata Bella.

“ Oya..dua minggu lagi Nenek Potsy akan kembali ke rumah..” ujar Laurie.

“ Kemarin Nenek Potsy sudah meneleponku, katanya tangannya akan segera sembuh dan karena dua minggu lagi hari Ulang tahunnya, Nenek Potsy akan kembali membuat kue ulang tahun.” ujar Laurie memberikan kabar gembira.

“ Oiya.. Nenek Potsy akan berulang tahun..” seru Bella.

“ Kita harus memberikan Nenek Potsy hadiah dan kejutan...” usul Juni juga kepada teman-teman. “ Bagaimana jika kita membuat kue ulang tahun untuknya..?” Edgar juga tak kalah ingin memberikan usul. “ Ide yang bagus...!” kata Bella dan Juni setuju. “ Tetapi di mana kita akan membuat kuenya?” tanya teman yang lain. Betul juga.., untuk membuat kue yang spesial, kita memerlukan peralatan yang lengkap juga, pikir Bella.

“ Bagaimana jika di dapur Nenek Potsy saja..?” tiba-tiba Laurie memberikan usul.

“ Tapi kita tidak punya kuncinya, bagaimana kita bisa masuk?” tanya Bella.

“ Tenang saja.. Nenek Potsy mempercayakan kunci rumahnya kepadaku, Nenek Potsy juga menitipkan Junjun di rumahku...” kata Laurie lagi.

Hooraay..akhirnya rencana bisa di jalankan dan waktu mereka hanya dua minggu. Bella dan teman-teman juga di bantu Laurie akan membuat kue kejutan ulang tahun untuk Nenek Potsy. Karena selama ini Nenek Potsy sudah membuatkan banyak kue-kue yang enak untuk mereka, bahkan Nenek Potsy juga suka memberikan kue bonus.

Setiap hari setelah pulang sekolah, Bella, Laurie dan teman-teman menyusun rencana untuk membuat hadiah spesial untuk Nenek Potsy. Mereka mencari-cari resep-resep kue tart ulang tahun di buku masakan. Laurie juga yang menyimpan uang hasil patungan Bella dan teman-teman. Setelah berhari-hari mereka bekerja keras membuat kue, tetapi hasilnya kue yang mereka buat selalu gosong atau rasanya tidak enak. Sampai-sampai uang hasil patungan mereka habis. Oooh tidak..apa yang harus mereka lakukan? waktunya tinggal seminggu lagi..Bella dan teman-teman kehabisan uang. “ Bagaimana jika kita meminta sumbangan kepada orang-orang, kita akan memberitahukan mereka, kalo uangnya akan kita gunakan untuk memberi kejutan untuk Nenek Potsy...?” usul Laurie. “ Ok..Apa salahnya kita coba..?” kata Bella setuju, teman-teman yang lain pun juga mengangguk setuju.

Bella, Laurie, Edgar dan Juni membuat beberapa kotak sumbangan, di depan kotak tertulis , “ Untuk hadiah ulang tahun Nenek Potsy ”, teman-teman yang lain juga ikut membantu, mereka berpencar ke rumah-rumah untuk meminta sumbangan. Dan ternyata respon dari orang-orang sangat menyenangkan.

“ Untuk ulang tahun Nenek Potsy..? oohh tentu saja.., Nenek Potsy sudah baik hati memberikan kue untuk anakku yang sedang sakit waktu itu..” kata Ibu yang tinggal tak jauh dari rumah Nenek Potsy.

“ Baiklah.., aku mau menyumbang, aku juga suka dengan kue-kue buatan Nenek Potsy, dan aku dengan senang hati akan membantu kalian..” kata seorang Bapak yang ternyata juga pelanggan toko kue Nenek Potsy.

Mereka semua juga ingin ikut membantu dan berpartisipasi dalam ulang tahun Nenek Potsy. Dan dalam waktu tiga hari uang hasil sumbangan terkumpul sangat banyak. “ Wow..lihat uang-uang ini...” kata Laurie takjub melihat sekumpulan uang-uang yang menggunung hasil dari sumbangan orang-orang. “ Kita bisa membuat lebih dari satu loyang kue...” kata Bella. “ Betul...bagaimana jika kita membuat banyak kue saja?” usul Edgar. “ Tapi..waktu kita tinggal sedikit lagi.. bagaimana jika rencana kita tidak berhasil..?” tanya Juni pesimis.

“ Kita pasti bisa membuatnya..!” seru Bella percaya diri.

“ Bagaimana jika membuat kue yang besar untuk Nenek Potsy..? seperti kue berbentuk istana? dan kue itu akan bisa di bagikan ke orang-orang yang sudah menyumbang....” usul Bella. Dan sekali lagi Laurie dan teman-teman yang lain bersemangat setuju dengan usul Bella.

Berhari-hari Bella dan teman-teman bekerja keras membuat istana kue untuk Nenek Potsy. Dengan semangat mereka yang membara dan tidak mengenal lelah mereka terus membuat kue yang enak sampai berhasil dan ini semua untuk membuat Nenek Potsy bahagia di hari ulang tahunnya.

Dan akhirnya hari yang dinanti tiba, Bella dan teman-teman berhasil membuat kue tart ulang tahun berbentuk istana, kue itu lumayan besar dan cukup untuk di nikmati orang banyak. Edgar dan teman-teman yang lain menghias halaman rumah Nenek Potsy dengan bermacam-macam pita dan balon berwarna-warni. Juni dan Bella merapikan meja, menyiapkan peralatan dan menghias kue istana ulang tahun dengan rapi, bahkan Junjun si kucing dengan lucu di pakaikan baju badut lengkap dengan topinya . Dan Laurie bertugas menjemput Nenek Potsy ke pusat kota.

Dan tiba-tiba banyak dari tetangga Nenek Potsy juga datang, mereka juga ingin merayakan Ulang Tahun Nenek Potsy bersama-sama, mereka juga membawa kue-kue bikinan sendiri. Ada yang membawa Cake Keju, Cake Strawberri, Cake Bluberri juga Black Forrest, saking banyaknya kue yang datang, meja pun jadi penuh, dan tidak muat lagi jika di isi dengan kue-kue lain yang baru saja datang.

“ Bagaimana ini, Bella..?”, tanya Juni. “ Mejanya sudah tidak cukup lagi..” tambah Edgar. Bella jadi bingung, tapi tiba-tiba seorang Ibu mengusulkan agar kue-kue yang semakin banyak itu di tumpuk di atas meja dengan rapih dan bersusun.

Akhirnya Bella di bantu dengan beberapa orang dewasa, menyusun tumpukan kue-kue dengan rapih, dan hasil akhirnya kue-kue itu berbentuk menjadi seperti gunung kue. “ Wow..aku tidak sabar untuk segera mencicipinya..sluuurp..”, kata Edgar sambil menelan ludah, rasanya perut Edgar sudah tidak sanggup untuk menahan keinginannya melahap kue-kue lezat yang bertumpuk tinggi seperti gunung itu.

Tak lama setelah Nenek Potsy dan Laurie tiba di rumah dan membuka pintu..

“ Kejutannn...!! Selamat Ulang Tahun Nenek Potsy....” seru Bella dan teman-teman.

Nenek Potsy yang kaget pun jadi terharu, ia sama sekali tidak menyangka kalau semua pelanggan ciliknya begitu perhatian kepada Nenek Potsy. Laurie dan Bella segera menyalakan lilin ulang tahun di atas istana kue, Nenek Potsy begitu takjub dan gembira melihat istana kue itu, di depan istana kue tertulis ucapan kata-kata

“ Selamat Ulang tahun Nenek Potsy, semoga panjang umur dan selalu di beri kebahagiaan.., semoga cepat sembuh...” dengan terharu Nenek Potsy mengucapkan banyak terima kasih. Setelah mengecup pipi Bella dan teman-teman, Nenek Potsy berkata, “ aku sangat bahagia sekali.., hari ini adalah hari ulang tahun terbaikku..dan semangat kalian membuat tangan Nenek cepat sembuh..” kata Nenek Potsy sambil mengerak-gerakkan tangannya yang kemarin terkilir. “ Dan mulai besok, Nenek akan kembali membuat kue-kue untuk kalian semua...” seru Nenek Potsy gembira.

Mereka semuapun menyanyikan lagu ulang tahun, Nenek Potsy juga meniup lilin dengan semangat kemudian mencoba kue istana itu.., “ hmm...enak sekali...” seru Nenek Potsy, “ horrayyy kita berhasil ”, Bella dan anak-anak berseru dan melompat kegirangan. dan hari itu mereka bersuka cita merayakan ulang tahun Nenek Potsy, kebahagiaan tidak hanya milik Nenek Potsy, Bella dan teman-teman, tetapi juga milik semua orang yang sudah mengenal Nenek Potsy juga kue-kue lezat buatannya.