
CLAIRE DAN SEPATU MENANGIS
Pada suatu ketika hiduplah anak gadis kaya raya bernama Claire, kedua orang tuanya adalah pengusaha sukses di kota, walaupun kehidupan Claire selalu berkecukupan dengan harta yang bertumpah ruah dari ia kecil, Ia selalu menyombongkan hartanya kepada teman-temannya. Bahkan ia sangat pelit dan tidak mempunyai rasa rendah hati sama sekali.
Suatu sore saat Claire berada di taman bermain pribadinya, datanglah seorang gadis kecil penjual apel, gadis itu terlihat lusuh, pakaian yang di kenakannyapun sudah kotor penuh dengan debu-debu jalanan, sepatunya juga terlihat usang dan hampir robek dan menonjolkan jempol kakinya, dengan membawa sekeranjang apel ia mencoba menghampiri Claire yang sedang asyik bermain “pesta minum teh” bersama boneka-boneka Barbie lengkap dengan peralatan tehnya.
Dari balik pagar besi yang tinggi ia bertanya,“ apa kamu mau membeli apel?” tanya gadis kecil itu, berharap Claire mau membeli semua apel-apelnya dan ia bisa membawa pulang sejumlah uang untuk makan hari itu bersama ibu dan beberapa adik-adiknya.
Claire melongok ke arah gadis kecil, ia mendengus karena merasa gadis kecil itu sudah mengganggu waktu bermainnya. “ Apel-apel ini sangat enak dan manis..apa kau mau mencobanya?” tanya gadis kecil itu lagi.
“Aku tidak butuh apel”,kata Claire ketus.
“jikapun butuh, aku tinggal mengambilnya sendiri di kebun apel pribadiku” jelas Claire lagi, gadis kecil itu menunduk, sedih karena ia akan kembali pulang tanpa membawa uang. “ Lagipula apel-apel’mu sudah busuk dan tidak segar, siapa yang mau beli??” kata Claire sambil melongok ke arah keranjang gadis itu.
Gadis kecil hampir saja ingin menangis.“ Nona..kau tidak perlu berkata seperti itu..,jika tidak mau kau bisa menolaknya dengan halus..” kata pelayan pribadi yang menemani Claire saat itu. Pelayanpun segera menghampiri gadis kecil yang sedang tertunduk sedih.
“ berapa harga apel-apelmu?” tanya pelayan itu.
“ 15 sen..” kata gadis kecil dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“oke..saya beli semua apel-apel’mu..” kata pelayan sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya, gadis kecil kemudian mengambil uang itu dan dengan raut muka bahagia ia mengucapkan terima kasih beberapa kali.
Siang ini setelah pulang sekolah Claire segera melanjutkan kegiatannya Les piano, saat menuju ke rumah guru piano, mobil Claire melewati seorang kakek tua yang sedang duduk di bawah pohon rindang dan sedang asyik melahap makan siang di pinggir danau.
“ Tunggu...berhenti..” Claire memerintahkan sopirnya untuk menghentikan mobil.Ia segera turun menghampiri sang kakek, sang kakek yang kaget di datangi seorang gadis tersenyum dan menawarinya sepotong roti isi tuna.
“ Apa sepatu ini kau jual?” tanya Claire sambil menunjuk ke arah sepasang sepatu kulit berwarna merah marun, sepatu itu tampak cantik karena dihiasi renda indah di setiap pinggirnya. Sang kakek melirik ke arah sepatu yang di maksud.
“ Sepatu ini tidak di jual, nak...” kata kakek itu santai.
“ Kalo begitu aku mau membelinya..” tawar Claire
“ Tapi sepatu ini tidak di jual..” tolak kakek.
“ Aku bisa membelinya dengan harga berapapun..” Claire kembali menawar dan berusaha mendapatkan sepatu itu.
“ Kau mengerti arti kata “ Tidak di Jual”..??” tanya sang kakek.
“ Tapi aku mau sepatu itu..dan harus ku dapatkan..!!” kata Claire dengan suara yang agak keras. Sang kakek yang terkejut menggeleng-gelengkan kepala.
“ Orang tua’mu bisa membeli sepatu seperti ini sebanyak apapun ‘nak, kau bisa memintanya kepada mereka, dan kau harus belajar agar lebih sopan jika berbicara dengan orangtua...” jelas sang kakek, “ dan sekali lagi aku katakan kepadamu gadis kecil, sepatu ini tidak di jual..” kata sang kakek kembali menolak menjual sepatunya.
Claire yang kesal mulai merengek, ia merengek-merengek minta di berikan sepatu itu,karena biasanya apapun yang ia inginkan bisa di dapatkan dengan mudah, ia terus merengek,menangis bahkan menjerit-jerit. Sopir dan sang kakek tidak bisa menghentikan rengekan Claire.
“Oke..aku berikan sepatu ini..” akhirnya kakek merelakan sepasang sepatu itu di berikan kepada Claire. “ Dan aku berikan gratis, tapi dengan satu syarat”, terang sang kakek. “ Kau harus merubah semua sifat buruk’mu nak...”, tanpa mengiyakan Claire langsung merampas sepatu itu dari tangan sang kakek dan segera berlari masuk ke dalam mobil, dengan melaju kencang ia tinggalkan sang kakek tanpa mengucapkan terima kasih.
Dengan tak sabaran pagi itu saat Claire ingin pergi ke sekolah, ia berniat memakai sepatu yang ia dapatkan dari sang kakek kemarin, dari dalam lemari besar yang berisikan beratus-ratus pasang sepatu, ia mengambil sepatu kulit berwarna merah marun. Pelayan pun sudah menyiapkan sepasang kaos kaki baru, tetapi saat Claire ingin melangkah, sepatu kulit itu mengeluarkan suara seperti tangisan atau bahkan seperti rengekan, Claire yang kaget segera melepaskan sepatu itu dari kakinya, tetapi uppss..sepatu itu tidak mau lepas..!.
Dengan sekuat tenaga Claire berusaha melepaskan sepatu itu, “ lepaskan sepatu ini..!! lepaskan..!!” teriak Claire, berapapun kerasnya Claire berteriak, si sepatupun ikut menangis dengan suara yang juga keras persis seperti tangisan bayi mengompol.
Claire masih berusaha melepaskan sepatu menangis itu dari kakinya, dengan di bantu beberapa pelayan, ia berusaha keras melepas sepatu menangis itu, mereka masih saja kesulitan melepas sepatu itu dari kaki Claire yang mulai membengkak, Claire terus berteriak, “ toolongg akuuu....lepaskan sepatu jelek ini..!!!”, si sepatu juga tak mau kalah, ia juga mengeluarkan tangisan yang lebih kencang lagi, sekencang suara gunung meletus. Tiba-tiba Claire ingat perkataan terakhir sang kakek.
“ Baiklah..aku berjanji akan merubah semua sifat burukku, aku berjanji kakek..!” akhirnya Claire berjanji sesuai syarat dari sang kakek. Dan tiba-tiba sepatu itu berhenti menangis dan terlepas sendiri dari kaki Claire , Claire yang dari tadi kewalahan menunduk sedih dan mengeluarkan air mata, ia akhirnya sadar bahwa selama ini kesombongannya bisa membuat orang lain terluka.
Dan sejak saat itu Claire menjadi gadis yang baik hati dan tidak sombong, ia pun sekarang tak segan membantu teman-teman atau orang lain yang sedang kesusahan.
Dan dalam hati kecilnya ia sangat berterima kasih pada sang kakek misterius itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar