WeLcoMe 2 my BloG

for all the humans,witches,planet things and all God's creatures..welcome to my blog and read my ordinary write with ordinary ideas...coz this is so far of puuurrrfect..aniwei enjoyyy..^^

Jumat, 25 Maret 2011

Nyoba cerpen sedih....

Short story ini bukan cerita cinta anak Adam dan Hawa..
Sooo jangan tertipu dengan judulnya yuuaah..
Waktu gue baca ulang cerpen ini, gue dengan tersentuh,terenyuh,terpana sekaligus bangga luar dalem karena bisa bikin cerita yang menurut gue sad enough...hikzz..hikzz
rencananya cerpen ini mau gue bikin trilogi, tapi baru mau finishing chapter ke 3'nya, gue nge'stuck.
Udah coba nyari inspirasi di balik WC sambil nge'den pun gue teteup nge'blank.
Alhasil gue mau tidak mau harus cukup puas dengan dwilogi cerpen ini.
(tapi chapter ke'duanya harus kudu gue cari dulu nih..belum nemu soalnya..huuuffttt)
Penasarannnnn...??? read it please......................................


PELUKAN TERAKHIR ( THE LAST HUG )

“ Aku sayang banget sama kamu May...”, Itulah kata-kata tanda cinta yang sering di ucapkan Bian, cowok yang sudah enam bulan ini ku pacari. Bian.., cowok romantis yang pertama kali kutemui di pasar malam di alun-alun kota. Sebagai pacar pertama di hidupku yang tak jarang menunjukkan rasa cintanya padaku.

“ May..., kamu sayang sama aku engga sih ? “, tanya Bian suatu ketika, di malam pertemuan kami di puncak gunung, di temani jagung bakar manis dan segelas bajigur hangat. “ Aku sayang kok sama kamu...”, aku memberikan jawaban serius padanya. Bukannya mengekspresikan wajah gembira akan pengakuan rasa cintaku, tapi Bian malah menunjukkan rasa tak percayanya. Dahinya sedikit mengkerut, pandangan matanya curiga denganku.

“ Kamu enggak percaya yah..? “, tanyaku sambil memandanginya. Ia menggeleng.

“ Buktikan padaku....”, ujarnya sambil mengelus rambut panjangku.

“ Enggak cukup kalo aku bilang... I love you ? “,tanyaku lagi. Ia kembali menggeleng.

“ Aku ingin keseriusan kamu malam ini May....tunjukkan rasa cintamu sama aku...”, bisiknya lembut di telingaku. Sambil menggenggam erat kedua tanganku, Bian mencium keningku.

Pipiku malam ini basah oleh butiran air mata. Aku tidak mampu menahannya. Aku merasa menyesal, tapi aku harus membuktikannya, jika tidak Bian tidak akan percaya padaku, dan aku takut ia akan meninggalkanku. “ Thanks sayang...., kalau begini, aku tidak ragu lagi....”, desahnya seraya mencium rambut dan memeluk tubuhku yang hanya di tutupi selembar selimut.

“ Malam ini lagi ? “

“ Ya..., Nenekmu kan sedang tidak ada sayang, dan...di sini hanya ada kita berdua...”

“ Tapi Bian...kemarin kita sudah melakukannya.....”

“ Aku tahu sayang...., tapi hari ini aku kangen banget sama kamu...”

“ Aa..aaku......”.

Bian kembali memakai baju dan celananya di dalam kamarku. Aku masih terpaku di atas tempat tidur. “ Oke..aku harus pulang sekarang....”, ucapnya sambil menciumku dan keluar dari kamar, suara mesin motornya perlahan menjauh dan pergi dari rumahku.

“ Periksa lagi..!! kali ini periksa yang benar..”, bentak Bian.

“ Aku sudah mencobanya berkali-kali Bian...dan hasilnya...hasilnya positif...”. Bian mengambil test pack dari tanganku. Ia melihatnya dengan seksama seakan-akan ia mengerti betul arti tanda plus di ujung test kehamilan yang baru ku beli. “ Bullshit !! “, ucapnya dan melempar test pack itu ke atas tanah.

“ Kenapa ini bisa terjadi Nduk...? kenapa ?? “, Nenek terus mengguncang-guncangkan tubuhku, wajahnya yang sudah di penuhi oleh banyak kerutan tersiram air mata yang terus mengalir deras dari kedua matanya. Saking tak percaya dengan kejujuranku, tubuhnya tiba-tiba melemas dan tersungkur di atas lantai.

Aku tidak bisa menjawab. Aku terdiam, membisu. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan Nenek yang sudah merawatku dari umur dua tahun ini. Aku tak kalah menangis, air mataku juga sama derasnya dengan Nenek, dan air mata ini tidak mau berhenti. Kedua mataku sudah tidak kuat menampung air mata yang membendung.

Dari kejauhan aku melihat sosok Ibu yang sudah tujuh tahun ini tidak pernah mengunjungiku lagi. Terakhir aku bertemu dengannya, saat aku pulang sekolah. Ia datang ke rumah Nenek bersama seorang pria yang terlihat lebih muda darinya. Sebelum pulang Ibu berkali-kali mengecup kedua pipiku, ia juga terus memeluk tubuhku dengan erat. Dan memberikanku sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru muda.

Sejak itu, Ia tidak pernah datang lagi. Bahkan tidak pernah menghubungiku. Dan saat ini, saat kulihat Ia yang sedang menyisiri seorang anak perempuan kecil dan memakaikan pita merah di rambutnya, kulihat raut wajah Ibu yang begitu bahagia. Tak lama pria yang dulu datang bersamanya, menghampiri dan menggandeng seorang anak laki-laki. Mereka tertawa bersama. Dan aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan.

“ Bian...please.....”, aku memohon dengan sangat padanya. Dari wajahnya aku tahu ia tidak akan tega. Aku masih terduduk di lantai sambil memegang erat kakinya. Dengan wajah penuh ingin di kasihani, aku terus memohon pertanggung jawabannya. Dan ia hanya terdiam. Tak lama ia membantuku berdiri dan memelukku.

Aku terhenyak kaget. Kakiku lemas dan tak sanggup lagi berdiri.

“ Bian sudah pergi dari kemarin, ia sudah tidak tinggal lagi di kota ini..”, jelas seorang wanita paruh baya dari balik pagar rumah. Tanpa menyuruhku untuk duduk dan masuk ke rumahnya dengan baik-baik, wanita itu langsung menutup pintunya dan tidak menoleh lagi ke arahku yang terkulai lemas di depan pagar rumah Bian yang besar.

Alisnya tebal dan hitam, persis alis ayahnya. Matanya yang bulat dan besar, sangat terlihat tak berdosa. Hidungnya mancung. Ku rasa itu seperti hidungku. Ia terus menguap. Sesekali mengedipkan kedua matanya yang mengantuk. Bibir manisnya yang berwarna pink begitu mungil. Tak jarang ia menangis karena haus atau ingin tidur di atas pangkuanku. Sambil menyanyikan lagi nina bobo, aku mengelus lembut kepalanya. Mengecup kening dan pipinya. Dan ia sekarang terlihat terlelap. Nyaman berada di gendonganku.

“ Maafkan Ibu sayang....maafkan Ibu yang harus melahirkanmu tanpa seorang Ayah..”, aku membisikinya. Ia hanya menggerakkan kepala dan tangannya dengan pelan, seakan ia mengerti akan perkataanku. Aku memandang keluar jendela. Melihat bayiku, aku jadi teringat akan diriku dulu sekali. Aku lahir dengan mempunyai Ayah. Tapi tidak tumbuh besar dengan kasih sayangnya. Bahkan aku tidak pernah ingat akan wajahnya sama sekali. Yang aku tahu, ia pergi setelah kelahiranku. Pergi entah kemana, Nenek hanya pernah bilang kalau Ayah tidak akan pernah kembali.

“ Maya....”, panggil Nenek dan Bu Yati, bidan yang membantu persalinanku.

“ Mereka sudah datang, Nduk....”, ujar Nenek pelan. Aku bangkit dari kursi kayu. Saat aku keluar kamar dengan menggendong bayiku, di ruang tamu sederhana rumah Nenek sudah duduk seorang wanita muda cantik dan seorang pria gagah dan tampan. Mereka berdua sangat kelihatan mapan dan sempurna sebagai pasangan.

“ Ini Tante Ross dan Om Danoe dari Jakarta “, kata Bu Yati memperkenalkan kami. Pasangan yang bernama Soebrata itu tersenyum padaku. Aku membalas senyum mereka. Tante Ross melangkah mendekatiku. “ Ya Tuhan...bayi perempuan yang cantik sekali...”, pujinya saat melihat bayi di gendonganku . Raut wajahnya yang elegan semakin terlihat cantik, saat ia tersenyum lebar penuh kasih saat memandangi bayiku.

“ Sudah saatnya May....”, ucap Bu Yati pelan. Ia kemudian meminta bayiku ke gendongannya. Aku ragu. Hatiku terasa berat. Aku...aku tak sanggup...

“ Maya.....”, lirih Nenek merengkuh hangat bahuku. Tante Ross dan Om Danoe memberikanku beberapa menit lagi. “ Sayangku....maafkan Ibu, Nak...., Ibu selalu mencintaimu....”, aku berkata dalam hati. Tangis dan air mata kembali membuncah dari kedua mataku. Aku menciumi bayiku berkali-kali. Memeluknya erat seakan tak akan ku lepaskan. Tapi aku harus........

“ Kami berdua sangat berterima kasih padamu Maya..., sudah bertahun-tahun kami sangat menginginkan hal ini “, ucap Om Danoe. “ Dan...untuk biaya sekolah juga kuliah selama lima tahun sudah kami persiapkan. Saya sudah bicara langsung dengan kepala sekolah, dan pihak mereka sudah bersedia menerima kamu kembali..”, jelas Om Danoe lagi padaku. Aku hanya tertunduk malu.

Sebelum mereka pergi dan masuk ke mobil mewah yang terparkir di halaman. Tante Ross menghampiriku. “ Kamu bisa menggendongnya lagi sebelum kami pergi, Maya...”, tawarnya sambil menyerahkan bayiku dari pelukannya. Saat aku memandang wajah lucu dan tak berdosa bayiku, lagi-lagi air mataku menetes. Tetesan penuh lara, karena di umurku yang baru 17 tahun, aku harus menyerahkan darah dagingku untuk orang lain.

Aku tersenyum dan kembali mencium dan memeluknya, Karena aku tahu, ini adalah ciuman hangatku untuknya yang terakhir kali. Ini adalah pelukan kasih sayangku untuknya yang terakhir kali...Bayiku tersenyum, matanya yang tadi terpejam, sekejap terbuka dan memandangiku. Boneka lumba-lumba biru muda yang ku berikan untuknya, masih di dekapnya.

“ Namanya Asa, Tante....”, ucapku sebelum Tante Ross masuk ke mobil. Ia menggangguk dan tersenyum. Sambil mengusap air mata yang terus jatuh di pipi, aku melambaikan tangan. Selamat tinggal bayiku, kamu akan mendapatkan kehidupan layak yang seharusnya kau dapatkan, Sayang..., Dan pelukan terakhirku padamu, akan selalu kurasakan. Dan akan terus kurasakan sampai suatu saat aku bertemu kembali denganmu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar