WeLcoMe 2 my BloG

for all the humans,witches,planet things and all God's creatures..welcome to my blog and read my ordinary write with ordinary ideas...coz this is so far of puuurrrfect..aniwei enjoyyy..^^

Kamis, 07 April 2011

Last year,after i read my favo magz "LOOKS",da idea of this short story came to my head, and i could write it less than 30 minutes (yaaikzz..that was my presticous moment)



**GLAMOUR**


“ Pokoknya I have to go, Babe..aku mau kuliah di Amerika, I can’t stay and study here, you know..aku akan nerusin law firm Daddyku, jadi aku akan study di Harvard,Yale atau Princeton “. Suara dari Steve, pacar blasteran Belanda- Sunda’ku yang menjelaskan alasan rencananya ke Amerika membuat hatiku sedih, bagaimana tidak ia akan pergi ke Amerika dalam jangka waktu yang engga sebentar. Dan ini artinya aku tidak akan bisa terus bersamanya. Dan ini artinya acara nge’date kami tiap malam minggu, acara nonton konser musik, acara shopping tiap weekend, agenda bermanja diri di salon tiap hari jum’at dan acara-acara kami lainnya sudah tidak akan ada lagi, selama Steve masih akan nekat pergi ke negara Obama itu. Dan suara Steve yang sangat ingin meninggalkan Indonesia masih terus terngiang di telingaku.

Steve memang kakak kelas dan cowok paling cakep dan pintar di sekolahku, dia memang selalu jadi incaran cewek-cewek, tapi so sorry yah girls..sudah setahun ini Steve memilihku untuk jadi pacarnya. Makanya hampir semua cewek di sekolahku jealous berat, sebenarnya mereka semua bukan hanya iri sama kedekatanku dengan Steve, tapi juga semenjak dua tahun lalu aku pindah dari Jerman ke sekolah menengah umum bertaraf internasional yang sangat terkenal di Jakarta ini, semua cewek di sini terlihat sirik dan jealous padaku. Mungkin karena penampilanku yang selalu heboh dan rada glamour, ya mungkin saja, di saat murid-murid lain memakai seragam, sepatu kets, kaos kaki dan tas sekolah pada umumnya, aku memakai sepatu ankle boots, ankle shoes dari Glitz atau oxford shoes. Dan untuk tas aku selalu pakaiPoint Break leather bag dengan berbagai warna, tas Balenciaga atau pernah juga aku pakai tas Hermes kado ultah ke 16’ku dari Mami untuk ke sekolah, yaaa...jika Victoria Beckham memakai tas Hermes koleksinya untuk ke pasar, aku memakainya untuk membawa buku-buku sekolahku.

Dan penampilanku ini hanya karena satu alasan, I Love Fashion soo much !!, aku memang pecinta berat fashion, karenanya di saat semua cewek-cewek mengidolakan Robert Pattinson, aku malah nge’fans berat sama Michael Kors, Alexander Wang, Stella McCartney dan berbagai brand seperti Burberry, Prada atau Miu Miu. Oya..pernah juga di saat Jakarta sedang musim hujan, semua cewek di sekolahku memakai sweater atau cardigan, tapi aku dengan pede memakai leather jacket dan coat untuk musim salju, Pernah sih karena banyak cewek-cewek yang risih dengan penampilanku ini, aku sampai di tegur oleh pihak sekolah, tapi karena aku pelajar yang disiplin, tidak pernah telat, bolos ataupun izin, akupun akhirnya di perbolehkan memakai branded stuff itu, selama aku tidak memakai bikini saja di sekolah. Sebenarnya semua cewek-cewek itu mampu kok beli barang-barang ber’merk, karena mereka semua juga dari keluarga kaya, tapi memang cuma aku tuh yang berani tampil beda di sekolah.

Uupps..ngomongin tentang fashion dan sekolahku, aku jadi lupa memperkenalkan diri. Namaku Richika, baru dua tahun ini aku pindah ke Jakarta, sebelumnya aku banyak berpetualang ke berbagai negara, dari kecil aku sudah tinggal di Perancis, dari umur 6 tahun dan menghabiskan masa Primary School di Inggris, masa SMP di Manhattan,AS dan sekarang aku pindah lagi ke Indonesia. Karena Mami dan Papi ingin mengembangkan bisnis properti’nya di tanah kelahiran kami yang tercinta ini.

Waktu awal-awal pindah ke Jakarta, aku sering ber’bahasa Indonesia dengan belepotan, sampai-sampai teman-temanku bilang, gaya bicaraku mirip Cinta Laura. Tapi buatku itu engga masalah karena sampai sekarang aku terus belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

“I’m lucky I’m in love with my best friend..Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again…Oooohhhhoohhhhohhooohh….”, Tiba-tiba hapeku berdering nyaring, ku lihat nama Minna, sahabatku di layar handphone. “Helloow…”, sapaku mengangkat telepon. “Haloo Rich..gimana dengan Steve? dia udah ngomongin rencananya ke amrik? “, Tanya Minna, sahabatku yang kutu buku dan cantik ini.

“ Yup..tapi dia tetap mau pergi ke sana..he doesn’t want to study here “, kataku sedih mengingat kembali ucapan Steve tadi siang di sekolah. “ Jadi..?? rencana kamu apa ? kenapa kamu engga kuliah di sana juga aja?”, kata Minna memberiku ide.

“ Ooh my god..Minna’s right !, kenapa aku sampe engga kepikiran? kenapa aku juga engga kuliah di amrik aja? “, pikirku senang. Tapi jika aku kuliah disana, bagaimana dengan rencanaku kuliah fashion design di Milan.

Aku memang berencana melanjutkan kuliah di sana. Mami dan Papi juga udah setuju kok, malahan Mami yang dari dulu pecinta batik setuju berat dengan keputusanku. Sampai-sampai Mamiku yang setiap hari memakai batik dari seluruh pelosok negeri ini untuk kerja, meeting, shopping, sampai arisanpun punya rencana agar aku mengembangkan dan memperluas seni batik ke luar negri. “ Sooo..? gimana Rich ?”, Tanya Minna lagi.

Aku yang masih bengong, bingung harus bagaimana lagi?, “ Jadi menurut kamu aku harus kuliah di Yale atau Harvard juga?”, aku malah balik nanya ke Minna.

“Yaa..engga harus di kampus yang sama dong Rich, kamukan bisa kuliah di universitas design di kota yang sama dengan Steve, malahan kamu nanti bakalan bisa dateng ke New York Fashion Week, seruu kan? jadi kamu engga harus pacaran jarak jauh? “, jelas Minna sekali lagi. “ Wow..what a great idea, aduuh Minna my greatest friend..aku engga tahu deh kalo seandainya engga ada kamu..i love you girl…”, kataku memuji ide Minna.

Dan semenjak Minna kasih ide untuk kuliah di amrik, aku jadi sering searching sekolah - sekolah mode yang ada disana di internet. Dan jika aku kuliah di kota yang sama dengan Steve, itu artinya acara-acara dating kami bisa berlanjut. Dengan semangat 45 aku terus mencari tahu sekolah mode terbaik yang ada di negri paman sam itu. Dan besoknya aku mengutarakan niatku ke Steve, aku menceritakan semuanya, dari rencanaku kuliah di Amerika sampai rencana masa depan kami berdua, tapi..saat aku berbicara panjang lebar dengan senyum mengembang, raut wajah Steve tidak terlihat senang sama sekali, ia hanya menganggukkan kepala dan bahkan ia terlihat berpura-pura mendengarkan dengan seksama, padahal aku tahu persis, ekspresi wajahnya yang datar itu terlihat ia tidak setuju dengan rencanaku.Dan di saat aku bertanya pendapatnya, ia hanya berpura-pura batuk, dan dengan terpaksa akhirnya Steve mengaku kalau ia sudah di terima di Harvard jurusan Hukum, dan ia tidak akan pergi sendiri ke Amerika, melainkan dengan Klara !

Yaa...Klara kakak kelasku plus mantan pacar Steve yang super duper judes itu, semua orang di bumi ini tahu kalau Klara masih cinta berat dengan Steve sedari dulu, makanya ia kadang selalu menjudesi aku juga Minna.

Dan yang bikin kepalaku pusing tujuh keliling, Klara juga di terima di Harvard dengan jurusan yang sama dengan Steve ! itu berarti mereka akan kuliah bersama-sama, belajar di kampus yang sama, di kelas yang sama atau bahkan di asrama yang sama !!, Oooh noo..kepalaku tambah pening dan mendengar berita buruk ini, penglihatanku jadi berkunang-kunang dan rasanya aku mau.......

“Richika...hello..wake up, Babe..please...”, kata Steve kuatir sambil menepuk-nepuk pipiku. “ Rich...Richika...ya Tuhan, kamu kenapa? ”, panggil Minna lembut di telingaku. Aku yang rasanya tadi pingsan, perlahan mulai membuka mata dan tersadar, dan saat aku mulai terbangun, aku rupanya sudah terbaring di UKS, di temani Steve juga Minna di sampingku. Tapi saat mataku mulai kembali jelas melihat, di sebelah kiri Steve sudah berdiri Klara dengan senyum judesnya yang khas, ia tampak tersenyum meledek, dan itu senyum penuh kemenangan, dan baginya kuliah di Harvard bersama Steve itu sebuah kemenangan yang akan ia raih kembali. Dan baru 15 detik tersadar aku kembali pingsan, pingsan karena melihat senyum Klara.

“ Hiikss..hikkss...”, dengan penuh derai air mata, aku menangis di pelukan Minna, “ berita Steve dan Klara akan kuliah bersama itu berita terburuk buatku, Na..”, isakku lagi, Minna sebagai sahabat yang baik terus mengusap-usap punggungku dan berusaha menghibur. Yaa..bagiku berita itu adalah yang terburuk kedua setelah berita kematian Michael Jackson. Dan selama dua jam aku menangis pilu,akhirnya aku dengan semangat membara memutuskan untuk kuliah juga di Harvard, akan ku kesampingkan niatku belajar fashion design di Milan demi bersama Steve, cowok pujaan yang sudah ku anggap sebagai soulmateku.

“ Ta..tapi Rich.., masuk Harvard engga segampang itu lho..”, pendapat Minna.

“ I know..selama ini nilaiku memang biasa aja, tapi kalo aku terus study and study aku yakin bisa tembus ujian masuknya, I can do it, Minna...”,belaku segera. Minna hanya bisa menghela napas dan pasrah, dengan terus mengingatkan kalo aku harus terus belajar dan berusaha sekeras mungkin. Dan akhirnya Minna membantuku dengan mencarikan seorang guru privat, dan dipilihlah Adrian, kakak laki-lakinya.

“ Whhaaatt..?? you have a brother? bener kamu punya kakak, Na? are you sure??”, tanyaku menggebu-gebu.” Yaaap..dia satu sekolah kok sama kita, malahan sekelas sama Steve. Kakakku itu memang jarang beredar di lingkungan sekolah, Rich.., soalnya dia betah banget ke perpus atau baca buku di ruangannya Pak Miun, tukang sapu sekolah..”, jelas Minna padaku. Ooohh..pantas saja aku engga kenal sama kakaknya Minna itu, melihatnyapun belum pernah. Tapi jangan di tanya, menurut Minna kakaknya itu juara kelas dari TK, dan selama ini belum pernah turun rangking ke peringkat dua, selain juara kelas, ia juga juara lomba ilmiah, fisika dan matematika, Hmm..di bayanganku kakaknya Minna itu pasti orang yang 100 % serius, memakai kacamata, dengan kemeja di masukkan ke celana kulot gombrong plus kaus kaki tebal khas ilmuwan. Tapi biarlah, yang penting ia bisa membantuku belajar dan lulus ujian masuk ke Harvard.

Sore ini Adrian akan datang pertama kalinya ke rumahku untuk mulai belajar, dan tepat pukul 4 sore, ia datang. Saat membuka pintu, aku begitu terkejut melihatnya, ternyata kakaknya Minna itu sama sekali tidak terlihat seperti Albert Enstein, yaa..memang ia memakai kacamata, tapi ia tidak memakai kemeja dan celana kulot.

Tapi sore itu ia memakai kaos Polo t-shirt berwarna putih bersih juga celana jeans, penampilannya sama seperti cowok-cowok kebanyakan dan dia juga ganteng. Dan rupanya Adrian juga wangi banget, saat ia masuk harumnya parfum Aigner Man menusuk hidungku. Dan pertemuan pertama juga yang kedua, acara belajar kami berjalan dengan lancar, Adrian dengan serius membantuku belajar, dari geografi, matematika, fisika, biologi sampai sosiologi. Tapi pada pertemuan selanjutnya aku mulai kerepotan menghapal semua rumus-rumus, sampai kepalaku pening. Dengan sedikit memohon, aku minta agar kegiatan belajar ini istirahat sebentar, tapi Adrian menolak dengan alasan aku harus terus belajar sampai aku benar-benar tembus ujian masuk ke Harvard. “ Tidak ada waktu beristirahat untuk ilmu, Richika!”, ancam Adrian.

Dan kini aku baru tahu ternyata Adrian sangat gila akan ilmu, jika aku sudah terlihat malas-malasan, ia akan berubah menjadi Klara versi cowoknya. Dan tak jarang aku yang sudah tidak tahan, akan terus membangkang, dan akhirnya kami berdua jadi sering bertengkar.

“ Kamu jangan galak-galak dong, aku pikir cuma Klara manusia terjudes di planet ini, ternyata kamu juga...”, kataku sebal.” Lho ini semua demi siapa? demi kepentingan kamu masuk kampus yang sama dengan pacar kamu itukan?”, bela Adrian. Dan tak jarang akhirnya kami berdua jadi sering berantem dan engga saling bicara seperti orang yang pacaran. Karena saking sebalnya aku membayangkan, pasti tidak ada cewek yang mau dengan Adrian si kutu buku galak itu.Dan yang menengahi kami cuma Minna, cuma karena Minnalah aku dan Adrian bisa berbaikkan.

Sampai suatu saat, Adrian mengajakku ke toko buku untuk keperluan belajar kami. Dengan memakai Tank top hitam, waist skirt berwarna mustard, syal berwarna senada dengan rok bermotif kotak-kotak di leher, juga sepatuBooties dan hand bag berwarna hitam, aku siap berangkat, dan saat Adrian menjemput, dengan heran ia bertanya,

“ Emang mau kemana sih?”, dan aku simple menjawab, “ fashion is everything...”. Saat kami selesai mencari buku, dan sempat lunch di kafe Itali,Adrian kemudian mengajakku ke suatu tempat. Tempat dimana tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Ia mengajakku ke suatu rumah yang bertuliskan “ Rumah Sakit Khusus Kanker “, saat kami tiba banyak anak-anak kecil menghampiri Adrian dan memeluknya. Beberapa dari mereka memakai kursi roda, tak sedikit dari anak-anak itu berkepala plontos bahkan ada yang hanya menyisakan beberapa helai rambut. Adrian dengan tawa dan senyum yang selama ini tidak pernah aku lihat, begitu charming dan bersahaja. Dengan sabar ia membacakan buku-buku yang tadi ia beli bersamaku, dan sesekali ia bercerita dongeng untuk mereka. Aku yang terharu melihatnya hampir saja meneteskan air mata.

Dan di mobil saat pulang, Adrian bercerita, rumah sakit kecil itu adalah rumah sakit khusus untuk orang yang tidak mampu yang menderita Leukimia. Ia sering ke sana untuk menghibur anak-anak itu bahkan terus berusaha memberikan semangat. Pribadi Adrian yang selama ini tidak pernah kulihat, kini kutemukan sendiri. Ternyata di balik sifat keras,judes dan galaknya mengajarku, ia menyimpan rasa kasih yang begitu dalam untuk orang lain.

“ Kadang kita tidak sadar akan kehidupan kita yang berlimpah, dan melupakan orang lain yang ternyata masih banyak yang kesusahan..makanya aku ingin sekali jadi dokter dan suatu saat akan membantu mereka ”, ucapan Adrian masih terus kuingat malam itu. Dan aku baru sadar, selama ini aku yang selalu memakai barang-barang bermerk dan menghamburkan uang demi penampilan, sama sekali lupa dengan orang di sekitarku yang begitu susah mencari selembar rupiah demi sesuap nasi. Dan ini membuatku malu hati. Dan sejak itu aku selalu ikut Adrian menjenguk anak-anak penderita kanker, tidak cuma itu aku juga turun langsung ke pemukiman orang-orang miskin untuk membagi-bagikan sedikit rezeki’ku untuk mereka. Dan semenjak itu, aku melupakan niatku untuk kuliah di Harvard, aku melupakan Steve dan Klara.

Dan kedekatanku dengan Adrian ternyata berlanjut lebih mesra, entah kenapa sekarang aku nyaman sekali berada di dekatnya. Kini Adrian melanjutkan kuliah kedokteran di Universitas Indonesia. Dan aku kembali ke niatanku semula, kuliah fashion di Milan yang di dukung penuh oleh Adrian. Sedangkan Minna serius menekuni ilmu Hubungan Internasional, agar bisa menjadi diplomat seperti ayahnya. Dan Mami dan Papi tentu semakin bangga denganku yang tak kalah serius menekuni ilmu fashion, agar suatu saat aku bisa membuat baju untuk orang-orang yang tidak mampu dan tentu saja untuk Adrian agar ia menjadi dokter paling stylish di dunia.

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar