ROSARIO DAN TASBIH CINTA.
“ Berharga di mata Tuhan, semua kematian yang di kasihiNya.., Mazmur 116 : 15 “. Sabina menutup alkitab saat Romo Markus mengakhiri khotbahnya siang itu. Sebelum pulang para jemaat kemudian menyanyikan lagu pujian “ Bapa Kami “, yang biasa di senandungkan saat Misa di Gereja.
Sabina dan Ibu menunggu Ayah yang masih terlihat serius berbincang-bincang dengan Romo Markus di dekat altar. Ibu terus mengusap-usap alkitab lama yang sudah terlihat usang di tangannya. Warna hitam sampul alkitab itu memang kelihatan sudah pudar. Ibu lalu melepaskan lilitan
“ Injil dan
“ Ini...Sabina ? “, tanya Romo yang kelihatan kaget. Sabina mengangguk.
“ Sudah gadis.., sudah kuliah tingkat dua, Romo “, jawab Ibu.
“ Aku ingat betul waktu pertama kali membaptismu, juga sewaktu Bibble Camp pertama’mu.., saking lincahnya, aku sampai kerepotan untuk membuatmu diam karena lari kesana-kemari.., dan sekarang sudah besar, cantik dan kalem...”, kata Romo Markus mengingat masa kecil anak baptisnya itu.
Sabina hanya tersenyum dan menunduk malu. Pipinya sedikit merona. Dulu ia memang dekat dengan Romo Markus, karena sering di ajak Ayah yang pengurus gereja bermain di rumah ibadah yang sudah 20 tahun mereka setia kunjungi ini.
“ Ryan..cepat sholat maghrib, sebentar lagi Abbi pulang..”, pinta Ummi seraya mengusap lembut rambut Ryan yang masih bermalas-malasan di tempat tidur. “
Rama menghabiskan sisa makan malamnya dengan lahap. Anak kecil bertumbuh tambun yang baru berusia 8 tahun itu memang selalu lahap menghabiskan lauk-pauk yang selalu di sajikan Ummi. “ Pelan-pelan makannya Rama.., nanti jika kau tersedak bagaimana ?! “, kata Abbi tegas saat di meja makan. Ryan menoleh ke arah adiknya yang sekarang terlihat memperlambat gerakan makannya. Ekspresi Rama sedikit takut. Ia memang selalu terlihat ketakutan jika Abbi sudah mulai bicara. Abbi memang tegas. Bahkan sangat tegas. Di tunjang dengan kumis tebalnya yang kadang membuat Abbi tambah terlihat seperti seorang diktator.
Abbi juga sangat religius. Abbi selalu mengajarkan Ryan dan Rama agar selalu sholat tepat waktu dan tidak boleh sekalipun bolong menunaikan ibadah wajib itu. Abbi juga terkadang berlaku galak, jika Ummi lupa mencucikan kaos oblong atau sepatunya, Abbi tak segan-segan memarahi Ummi habis-habisan. Dan Ummi hanya menunduk dan meminta maaf berkali-kali, tanpa memberikan pembelaan. Ryan kadang benci dengan sikap Abbi’nya yang terlihat memperbudak istrinya sendiri. Suatu kali, ia pernah memberanikan diri membela Ummi yang di cela Abbi hanya gara-gara membuat luntur kemejanya. Dan dengan keras juga tegas, Abbi mengatakan pahala besar seorang istri adalah melayani suaminya. Dan beda sekali dengan Ummi, seorang wanita sabar yang kesabarannya hampir menyamai Khadijah. Ia dengan rela melayani suami dan anak-anaknya sepenuh hati. Semua pekerjaan rumah di kerjakannya sendiri. Dan sehabis sholat, Ummi selalu lama berdoa. Entah doa apa yang ia ingin sekali di kabulkan Tuhan. Karena tak jarang air mata selalu menetes saat Ummi menengadahkan tangannya dan menatap lekat kaligrafi bertuliskan Alloh dan Muhammad yang tergantung di dinding.
“ Namanya Lukas.., dia keponakan Romo Markus yang sekarang sedang kuliah S2 di Oxford, sebentar lagi tesisnya selesai “, ujar Ayah saat menghias pohon cemara yang ingin di pajangnya di sudut rumah. “ Tapi Yah..dia 15 tahun lebih tua dari aku..”, Sabina mencoba mengelak ajakan Ayahnya agar mau di kenalkan dengan keponakan Romo.
“ Lalu apa masalahnya ? laki-laki yang 15 tahun lebih tua bisa membimbingmu secara dewasa dan bijaksana. Sifatnya juga sangat matang. Dan dia sudah bilang ke Romo kalau sangat tertarik saat pertama kali melihat fotomu..”, Ayah mencoba untuk membujuk. Sabina hanya terdiam dan terus membersihkan lampu-lampu bulat berwarna-warni dengan kain lap agar lampu-lampu itu terlihat lebih benderang saat di gantung nanti.
“ Aku selama ini tidak pernah minta apa-apa dari mu, Mas..., aku akan berbuat apa saja demi keutuhan rumah tangga kita, tapi tidak dengan berbagi kasih sayang suami,Mas...”, isak Ummi menangisi keputusan Abbi untuk berpoligami. Dan itu sudah di lakukan Abbi, bukan hanya sekedar niatan. Tapi Abbi tidak mengindahkan tangisan Ummi, suara hati istri setianya itu sama sekali tidak di dengarkan. Ummi baru tahu setelah
“ Udahlah, man..., mending elo coba aja nih minuman.., enak, seger, bisa nge’buat lo lupa sama masalah-masalah lo..! “, rayu Yuda, teman baru Ryan yang di kenalnya di mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Yuda mengulurkan sebotol minuman bertuliskan Vodka. Ryan memandangi botol itu dengan ragu. Tak sabaran menunggu Ryan mengambil botol dari tangannya, Yuda bergegas meneguk minuman keras itu ke mulutnya. Yuda tampak puas dan sangat menikmatinya.
Abbi pergi sambil membanting pintu. Semua piring dan gelas yang di lemparnya pecah. Berserakan di seluruh lantai ruang makan. Suara tangis Ummi masih sangat terdengar jelas. Teriakan dan umpatan Abbi masih terekam di kepala Ryan dan Rama. Ryan memeluk adiknya yang juga menangis ketakutan. Dan air matanya tak sadar juga menetes saat melihat Ummi yang tersungkur di lantai sambil terus terisak.
“ What..? dia ngambil jurusan Theology di Oxford ?, pria kelas berat tuh Na...”, respon Fransiska, teman koor Sabina saat mereka berjalan pulang setelah kebaktian. Sabina mengangguk. “ Duda, anaknya satu, umur 8 tahun..”, jelasnya lagi. “ Whaat..?? “, Fransiska melotot kaget. Sebelum Sabina meneruskan ceritanya, ia menengok ke arah seorang pemuda yang tertabrak motor tak jauh dari mereka. Motor itu ngeloyor pergi. Pemuda yang tertabrak tersungkur di tengah jalan sepi. “ Mas...mas..., apa mas enggak apa-apa ? “, tanya Sabina khawatir saat melihat tangan dan kepala pemuda itu berlumur darah. Fransiska hanya menatap ngeri. Ia memang takut dengan darah. Pemuda itu kemudian sadar, ia memegang kepalanya. Darah yang mengucur berbekas di telapak tangannya. Dan ia pingsan.
“ Elo gila kali yah, Na.., kenapa harus di bawa ke kost’an gue sih ? “, tanya Fransiska sebal. Sabina tidak mengindahkan ucapan sahabatnya itu. Ia dengan telaten membersihkan luka di tangan dan kepala pemuda tadi. Sabina meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. “ Kalo di bawa ke rumahku, Ayah pasti bakalan ngomel, ngelihat aku bawa pulang laki-laki enggak di kenal..”. Fransiska mendengus.
Ryan akhirnya membuka matanya. Ia bertanya-tanya kenapa kepalanya sakit sekali. Saat matanya melihat ke sekeliling, ia baru sadar ini bukan di kamarnya, juga bukan di rumah Yuda. Dimana ini?, dan sekilas ia melihat seorang gadis ada di hadapannya. Wajahnya ayu dan berlesung pipit. Rambutnya hitam dan di kuncir kuda. Ia tersenyum dan bertanya, “ Apa mas sudah enggak apa-apa ? “. Ryan berusaha membangkitkan tubuhnya dari ranjang tapi hampir terjatuh. Tubuhnya yang tidak stabil di topang oleh gadis itu.
“ Dimana ini..?”, tanya Ryan yang duduk kembali di tempat tidur. “ Iiih..matanya saja merah, kayak orang habis mabuk “, bisik Fransiska ngeri. Sabina mencubit lengan sahabatnya itu, ia tak enak kalau sampai perkataan Fransiska terdengar oleh Ryan. “ Ini di rumah teman saya Fransiska, tadi kita melihat kamu ketabrak motor..”, kata Sabina menjelaskan. Ketabrak?, Ryan sama sekali tidak ingat jika ia tertabrak motor. Yang di ingatnya hanya rumah Yuda dan menghabiskan berbotol-botol minuman yang dulu pernah di tawarkan Yuda.
“ Cowok itu ganteng sih.., tapi mata dan bau mulutnya itu loh, kayak orang habis teler. Serem iihh...”, Fransiska baru berani berkomentar setelah Ryan pergi dari kamar kost’nya. Ryan pergi tanpa pamit saat Sabina dan Fransiska membeli makanan untuknya. Mendengar ocehan Fransiska, Sabina hanya menggelengkan kepala. Ia mengerti betul kalau sahabatnya itu fasih benar kalau mengomentari orang lain.
Saat baru membuka pagar, dengan jalan sempoyongan Ryan berjalan mendekati kran air di halaman depan. Ia membasuh mukanya banyak-banyak. Setelah merasa sedikit segar, ia menarik napas dalam-dalam. “ Aku harus bersikap senormal mungkin..”, pikirnya dalam hati, agar tidak di curigai orang rumah. “ Assalamualaikum..”, sapanya sambil membuka pintu rumah. Suasana hening. Tidak ada yang membalas salamnya. Ruang tamu berantakan oleh pecahan vas. Ryan lalu melanjutkan langkahnya ke dalam ruang makan. Tidak ada siapa-siapa. “ Ummi..., Ramaaa.....”, panggilnya. Tapi tidak ada satupun yang menjawab. Ryan lalu melongok ke arah kamar tidurnya. Pintu kamar tidak di tutup. Di bawah meja belajar, Rama sedang jongkok dan menangis ketakutan.
Saat ia melihat Kakaknya sudah ada di hadapannya, Rama berlari dan memeluk tubuh Ryan. Ia masih saja tersedu-sedu. “ Ummi Kak...Ummiii.....”, isaknya.
Rama sudah tertidur pulas. Ryan yang melihat wajah polos adiknya itu merasa tidak tega, ia menyesal kenapa tadi tidak langsung pulang ke rumah. Abbi tadi datang sebentar untuk mengambil
Ryan perlahan membuka pintu kamar Ummi. Disana Ummi sedang sholat malam. Duduk di atas sajadah, Ummi mulai banyak berdzikir dan melafatkan asma Alloh. Jemarinya terus menghitung butiran-butiran tasbih berwarna coklat kayu. Ryan ingat betul, tasbih itu adalah tasbih pemberian almarhum Kakek sepulang haji dari Mekkah. Dan masih di simpan dengan baik oleh Ummi. Ryan melangkahkan kakinya pelan-pelan agar tidak mengganggu Ummi. Sayup-sayup ia mendengar tangis Ummi yang tertahan. Tanpa ragu Ryan memeluk punggung bundanya itu. Ummi masih berdzikir, kali ini tangisnya pecah. Ummi kemudian merangkul anak laki-lakinya itu. Rangkulan Ummi seperti ingin minta perlindungan. Tapi Ummi, Ryan juga Rama sama-sama tak berdaya. Jika mereka melawan Abbi, mereka akan jadi gelandangan. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah, satu-satunya pertahanan mereka saat ini.
“ Gue tahu elo kalut, Man..., bokap elo itu emang kurang ajar!, udah kawin lagi, nelantarin istri ma anak-anaknya lagi.., tapi gue punya ini, seperti biasa bisa ngebuat elo lupa sama semua masalah lo yang rumit itu...”, kata Yuda menyodorkan sebuah bong dan beberapa pil pada Ryan. Ryan menimang-nimang butir-butir pil itu di telapak tangannya. Ia tertarik untuk mencoba. Tapi ia kemudian bangkit dan berlalu menuju kamar mandi.
“ Gue heran ma elo Yan.., tiap kali habis teler, elo pasti sholat. Enggak pernah enggak sholat sekalipun. Wuuiih...rajin banget lo jadi muslim, tapi kelakuan lo itu gali lobang tutup lobang pahala tahu enggak ? “, seloroh Yuda seraya menghirup bong di hidungnya. Setelah dua kali hirupan, ia memberikannya pada Ryan. Tanpa menjawab pertanyaan dari Yuda, Ryan terus menghirup sabu-sabu yang di pegangnya.
“ Sabina.., kata Romo setahun lagi Lukas pulang ke
“ Tahun besok, usia kamu sudah 20, menurut Ayah sudah cocok untuk hmm..., berumah tangga..”. Mendengar kata berumah tangga, Sabina hampir saja tersedak.
“ Tapi Yah..aku belum selesai kuliah...”. Ayah kembali berdehem.
“ Kuliah setelah menikah, bukan suatu masalah besar...”.
“ Tapi aku ingin..., masih ingin bersama teman-teman...”.
“ Apa salahnya berkumpul dengan teman-teman setelah menikah ? “.
“ Bukan seperti itu Yah.., tapi aku juga ingin merasakan kebebasan seorang gadis lebih lama lagi...”. Raut wajah Ayah berubah sedikit merah. Ibu tahu itu artinya Ayah tidak senang putrinya membantah.
Sabina menutup alkitab dan mengecup
“ Dan Ayah sangat tahu kalau putri cantiknya ini harus mendapatkan seseorang yang benar-benar layak untuk masa depannya..”. Sabina mengernyitkan dahi. “ Saat kamu berusia 17 tahun, Ayah sudah sangat was-was akan pergaulanmu sayang.., walaupun ia tahu kamu tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Ayah pernah bilang sama Ibu, dia sangat ketakutan jika putri kecil sucinya ini di rampas oleh orang tak bertanggung jawab. Tapi Ibu bilang dia tak perlu khawatir, karena putrinya ini pasti bisa melindungi dirinya. Dan Tuhan akan selalu memberkati putri Ayah dan Ibu...”, cerita Ibu sambil terus mengelus lembut rambut Sabina.
“ Dan Ayah merasa, keponakan Romo adalah seseorang yang cukup bertanggung jawab untuk hidupku, Bu..? “, tanya Sabina. Ibu mengangguk. “ Tidak hanya bisa bertanggung jawab, tapi bisa mengangkat derajat keluarga kita, sayang....”. Dan sebelum pergi Ibu tak lupa mencium kening Sabina dan menutup pintu kamar.
Busway siang itu penuh sesak, padahal jam orang berangkat kerja sudah lewat. Sabina terengah-engah berusaha menuju pintu keluar, karena shelter berikutnya ia akan turun. Dan baru melangkah keluar pintu, ia di dorong tak sengaja oleh orang-orang yang juga ingin turun. “ Aaahh.....”, jeritnya pelan. Sabina tersungkur sampai kakinya lecet, karena lantai shelter cukup tajam, lecet di kakinya sampai mengeluarkan darah. Dengan tertatih-tatih ia mencoba berjalan menuju bangku, tempat penumpang menunggu busway berikutnya. Tapi karena merasa perih, ia hampir terpeleset lagi di lantai. Untunglah seorang pria mengamit lengannya dengan tangkas. Ia pun membantu Sabina berdiri dan menolongnya duduk. Melihat luka di kaki Sabina, pria itu berinisiatif membasahkan sapu tangannya dan membersihkan luka Sabina.
“ Thanks....”, ucap Sabina berterima kasih. “ Sama-sama.., aku sudah enggak punya utang budi lagi sama kamu...”, ujar pria itu. Sabina menatap pria itu heran, “ utang budi apa..? “, tanyanya. “ Utang budi membersihkan luka laki-laki yang tertabrak motor..”.
Setelah mengingat lagi kejadian tabrak lari beberapa waktu lalu, Sabina kemudian tertawa. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan si korban yang bernama Ryan. Merekapun akhirnya mengobrol dan menghabiskan sore di kedai kopi.
“ Ini nomor hape’ku...”, kata Ryan sambil menyodorkan selembar kertas. Sabina meraih kertas itu dan menuliskan beberapa angka di kertas tissue yang di ambilnya dari dalam tas. “ Dan ini nomerku.....”.
Semenjak perkenalannya dengan Ryan, Sabina sering melamun sendiri. Dari beberapa kali pertemuannya dengan Ryan, ia jadi tahu kalau dirinya dan Ryan punya banyak kesamaan. Seperti hobi membaca buku-buku karya Dan Brown, menonton film horror, sama-sama peminum kopi, bahkan sama-sama keras kepala. Pernah mereka beradu argumen, menanggapi film 2012 yang kontroversial. Ryan bersikeras memberikan komentar berdasarkan pandangan islam, sedangkan Sabina bersikeras percaya akan ramalan suku Aztec. Dan perdebatan di akhiri dengan menonton langsung film itu. Setelah menonton, akhirnya mereka sepakat akan mempertebal keimanan sebelum hari kiamat benar-benar datang. Mungkin juga karena usia mereka hanya berbeda setahun, jadi secara pribadi mereka cocok satu sama lain.
Ryan pernah bilang, kalau Sabina seperti Maryam, Ibunda Nabi Isa yang sangat tulus dan welas asih. Bahkan Ryan yang fasih membaca Al-Qur’an, melafalkan
Jika mengingat Ryan, bukan hanya melamun saja, tapi Sabina sering tersenyum sendiri. Apalagi kalau ingat humornya Ryan yang kadang tak masuk akal, tapi bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak. Ryan sangat berbeda sekali dari pertemuannya pertama kali yang seperti pemabuk. Sekarang sosoknya terlihat rapih dan bersih. Dan hubungan mereka sekarang lebih dekat. Ryan pernah bilang kalau ia menyukai Sabina. Sabinapun berperasaan sama, tapi ia tidak pernah mengatakan cinta, jika Ryan mulai menyatakan cintanya kembali, Sabina hanya tersenyum.
Ia tidak berani membalas cinta Ryan, karena pasti di depan mereka sudah terpampang halangan besar, yaitu beda keyakinan.
“ Ibu lihat sekarang kamu lebih sering tersenyum.., malah kadang pipimu merona “, tanya Ibu yang memperhatikan perubahan sikap putrinya, Ibu tahu betul kalau Sabina sedang jatuh cinta. Sabina hanya menggeleng menanggapi ucapan Ibu. “ Siapa pria itu, Na...? “, tanya Ibu lagi. “ Hanya seorang teman Bu...”.
“ Aku sudah menunggu di taman..”, Sabina membaca pesan singkat dari Ryan di hape’nya. Lalu ia mendongakkan kepala melihat Romo Markus yang masih berkhotbah.
“ 15 menit lagi, aku sedang bersama Ibuku...”, balasnya.
“ Memangnya kamu mengantar Ibumu kemana sih..? “, tanya Ryan.
“ Ke Gere..., maksudku ke rumah teman arisannya...”, Sabina beralasan. Ryan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia lalu meraih tangan Sabina dan menggandengnya menuju bukit berbunga di taman. Sabina merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Ryan. Ia berniat mengaku di awal kedekatannya dengan Ryan, tapi ia urungkan niat setelah Ryan pernah bilang kalau ia bersyukur bertemu Sabina, gadis yang begitu mengerti akan dirinya. Apalagi Ryan mengira kalau mereka sama-sama muslim.
“ Kapan aku bisa main ke rumahmu..”, tanya Ryan tiba-tiba. Sabina tidak mampu menjawab, ia kehilangan alasan. Sangat tidak mungkin ia membawa apalagi memperkenalkan Ryan pada Ayah. Kalau Ibu.., ia pasti bisa mengerti. Tapi Ayah..??, beliau akan kebakaran jenggot, apalagi mengingat Ayah sangat mengharapkan aku bisa menerima Lukas. “ Belum saatnya Yan....”, alasan terakhir yang bisa Sabina ucapkan.
Saat sedang asyik bersama, handphone Sabina berbunyi. Fransiska yang menelepon. Ia pun pergi beberapa langkah untuk mengangkat teleponnya. Ryan menunggu di bangku taman. Saat ia menoleh, tas yang di bawa Sabina terbuka. Ryan berinisiatif menutupnya, tapi restleting tas itu susah di tarik dan tak sengaja beberapa isi tas berhambur keluar.
Ryan’pun segera membereskan barang-barang Sabina yang terjatuh. Tiba-tiba ia berhenti mengambilnya saat matanya tertuju ke sebuah kalung berbentuk salip. Di angkatnya kalung berwarna hijau giok itu, belum puas dengan apa yang di lihatnya, ia pun melirik sebuah buku bersampul hitam yang juga ikut terjatuh. Holy Bibble, judul buku itu.
“ Maaf Yan agak lama, Fransiska seperti biasa..pengen curhat “, beritahu Sabina yang langsung duduk di samping Ryan. Tapi pria itu tak bergeming. Ia hanya terpaku. Dan akhirnya bertanya pelan, “ Ini..apa Na..? “, tanyanya seraya memberikan alkitab dan kalung salip itu pada Sabina. Sabina menelan ludah. “ I..itu
Ryan masih terbayang-bayang akan pengakuan Sabina yang seorang katolik murni. Ia tidak habis pikir kalau selama ini gadis yang di sayanginya berbeda agama. Ia teringat saat pernah mengajak Sabina sholat ashar, gadis itu menolak dan beralasan sedang halangan. Hati Ryan seperti di hujam pisau, ia begitu mencintai Sabina. Selama ini, selama perkenalannya dengan Sabina, ia’lah yang membantu Ryan keluar dan terbebas dari narkoba dan mabuk. Sabinalah tempat curhatnya, jika ia mulai membenci Abbi yang mulai bertingkah dan membuat Ummi menangis lagi. Sabinalah tempat ia bisa tertawa dan melepaskan kegundahan hatinya selama ini. Apa yang harus Ryan katakan pada Ummi ?. Ummi sudah setuju dan mau di kenalkan dengan Sabina. Tapi sekarang.., halangan tembok besar sudah berada di hadapannya. Ryan tidak mampu berpisah dengan gadis itu.., tapi bagaimana dengan Sabina ?, apa ia mampu berpisah ?.
“ Maafkan aku, Bapa....”, Sabina memohon maaf dengan seseorang di balik kelambu.
“ Aku..., aku sudah mencintai seseorang yang bukan dari kaumku sendiri..”.
“ Siapa yang lebih kau cintai, Anakku ?, laki-laki itu atau Tuhan ? “. Tidak ada jawaban.
“ Tuhan..., Bapa..”, jawab Sabina setelah agak lama termenung.
Biasanya setelah pengakuan dosa, Sabina akan merasa plong. Ia merasa beban di hatinya hilang, karena Tuhan sudah memaafkan dosa-dosanya. Tapi saat ini..hatinya masih saja terbebani. Ia merasa berat saat mengaku siapa yang lebih di cintainya.
Setengah hatinya sangat ingin berlari menghampiri Ryan, tapi saat ia menatap salip besar yang tergantung di ujung gereja, ia tidak ingin Tuhannya yang sudah berkorban nyawa demi umat’Nya, kecewa akan keinginannya untuk bersama pria beda keyakinan itu.
Sudah sebulan Ryan dan Sabina tidak bertemu. Mereka memang memutuskan untuk berpisah, setelah mereka yakin apa ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua. “ Ibu dan Ayah pulang duluan saja, aku mau ke rumah Fransiska dulu..”, pinta Sabina setelah kebaktian berakhir. Semua Jemaat sudah pulang, gereja sudah sepi, Romo Markus sudah masuk ke dalam kantornya yang tak jauh dari gereja. Fransiskapun sudah pulang dari tadi. Sabina memintanya untuk pulang saja setelah Ayah dan Ibu pergi. Sabina masih berlutut di dekat altar, tepat di depan salip. Tangannya saling mengamit, kepalanya menunduk, matanya pun terpejam. Ia sedang khusyuk berdoa. Setelah selesai, ia mencium
Baru melangkah keluar dari halaman gereja, ia melihat Ryan sudah berdiri menunggunya. Entah berapa lama Ryan menunggu. Tapi yang pasti setelah melihat sosok Sabina di hadapannya, Ryan berlari menghampiri. Ia lama menatap gadis itu lekat-lekat. Sabinapun sama, ia balas tatapan pria yang sudah membuatnya jatuh hati. Ryan sekonyong-konyong memeluk gadis itu erat. Hanya memeluk, tanpa kata-kata. Dan Sabina enggan melepaskan pelukan hangat dan rindu Ryan. Tak jauh masih di halaman gereja, Romo Markus melihat sepasang pria – wanita berpelukan melepas rindu. Dan ia kenal betul wanita itu. Dia seorang gadis, dan salah satu anak baptisnya.
“ Dasar anak tidak tahu diri.., siapa laki-laki itu ?!“, tanya Ayah murka setelah mendengar langsung berita yang di sampaikan Romo Markus pagi tadi. “ Dia..dia kekasihku Yah...”, aku Sabina tertunduk. Mendengar kata “ kekasih “, membuat Ayah tambah marah. Ia merasa kekasih anaknya itu suatu bencana. Sabina mulai menangis. Ibu berusaha meredam amarah Ayah saat mendengar putrinya berpelukan dengan lelaki lain dan di saksikan oleh Romo.
“ Sabar Yah..., sabar dulu.., dengarkan anakmu...”, pinta Ibu memohon. Setelah cukup bisa mengontrol emosinya, Ayah mulai bisa berkata dengan nada pelan. “ Bawa laki-laki itu ke sini....”.
Jantung Ryan tak henti-hentinya berdetak kencang. Kaki kanannya terus- menerus bergerak gelisah. Sesekali ia mengusap dahinya yang keringetan. Di samping duduk Sabina yang juga tak kalah gugup. Ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan di lakukan Ayahnya nanti setelah bertemu dengan Ryan. Tak jauh dari Sabina, Ibu juga sudah duduk menunggu kedatangan Ayah. “ Ayo, di minum dulu teh’nya , Ryan..”, sahut Ibu sopan, untuk mencairkan suasana. “ Terima kasih Tante...”, kata Ryan canggung. Tak lama Ayah keluar dari kamar. Tanpa senyum ia duduk di depan Ryan juga Sabina. Berkali-kali ia berdehem dan memperhatikan Ryan dari ujung kepala sampai kaki.
“ Kuliah di mana ? “, tanya Ayah kemudian. Ryan berusaha menatap ayah Sabina.
“ Di Universitas Persada’
“ Ngambil jurusan apa..? “.
“ Sa..saya di jurusan Broadcasting,
“ Bagaimana dengan orang tua kamu..? “, Ayah bertanya tegas.
“ Ayah saya wakil kepala divisi akunting di perusahaan asuransi,
Ryan kembali menelan ludahnya dalam-dalam. Ia menggelengkan kepala. Sabina terlihat tambah kalut. Ia yakin sekali kalau Ayahnya akan mempertanyakan keimanan pria yang duduk di sampingnya. “ Keluargamu jema’at mana ? siapa nama pasturnya ? “.
Pertanyaan klimaks di lontarkan oleh Ayah. Ryan menoleh ke arah Sabina. Mereka berpandangan. Sabina tampak sangat ketakutan akan jawaban yang akan di ucapkan Ryan. Ryan menarik napas dalam-dalam. Ayah Sabina masih serius menunggu jawaban pria yang telah mengambil hati putrinya itu.
“ Saya jama’ah Mesjid Al-Kautsar,
Tahu putri kesayangannya berhubungan dengan non katolik membuat Ayah semakin otoriter. Semua aktivitas Sabina di cek dan selalu di pantau. Tak jarang kegiatan antar-jemput selalu di lakoni Ayah. Fransiska sampai tak berani mengajak Sabina keluar rumah, walau hanya untuk ke toko buku. Ibu tidak bisa berbuat banyak. Ayah adalah pemimpin di rumah. Dan tak ada yang bisa mengalahkan sifat keras kepala suaminya itu.
“Kenapa setiap elo punya masalah, elo baru pergi nyari gue Yan..? “, tanya Yuda sinis.
“ Gua kalut Yud.., masalah gua lebih berat, dan ini berurusan dengan prinsip “, jawab Ryan. “ Gue tahu..., ini solusi tepat buat elo, Man...!! “, ujar Yuda sambil menyodorkan lagi beberapa linting daun ganja pada Ryan.
Ryan mulai kembali bermain dengan barang-barang favorit Yuda. Ia semakin terpuruk saat ia tahu kalau ia tidak akan lagi bertemu Sabina. Dan seperti biasa sebelum ia mulai untuk teler bersama, ia menunaikan sholat, demi keyakinannya agar selalu mengingat Alloh.
Yuda mencampurkan beberapa minuman keras pada gelas Ryan. Padahal ia sudah tak mau lagi meneguknya. Ia tidak mau terlalu mabuk, karena ia harus pulang. Ummi sudah meneleponnya agar segera pulang ke rumah. Dan gara-gara perbuatan Yuda, Ryan harus pulang dengan keadaan mabuk berat. Sampai di depan rumah, ia lupa untuk membasuh mukanya dulu, tapi ia langsung masuk ke dalam. Jalannya sempoyongan dan hampir terjatuh. Saat membuka pintu, Abbi ternyata sudah duduk di ruang tamu. Entah siapa yang di tunggunya. “ Ryan..!! “, panggil Abbi. Ryan menoleh dengan malas.
“ Ngapain lo pulang ke rumah, hah..?!, mau nyakitin Ummi lagi ?, pulang aja
“ Lebih baik mabok, daripada sering nyakitin istri sendiri..”, ejek Ryan sambil terus tertawa. Merasa tersindir dan emosi terus memuncak, Abbi langung menampar keras wajah Ryan. “ Tampar terus..tampar !!!! TAMPAR SAMPE PUAS..!! “, Ryan berteriak di depan Ayahnya. Ummi yang kaget berlari keluar kamar. Ummi melerai perkelahian antara suami dan anaknya. “ Sudah...sudah..Ya Alloh “, ucapnya berkali-kali. Tak sabaran melihat anaknya pulang dengan keadaan mabuk, membuat jantung Abbi naik turun. “ Dasar kamu anak durhaka..!! “, cela Abbi.
Kesal dengan perkataan Abbi, Ryan nekat memukul ayahnya. Sambil mencoba memukul sang ayah, Ryan terus berkata, “ Siapa yang durhaka?? Abbi yang durhaka.., nelantarin Ummi juga anak-anak, jangan pernah berkata sok suci di sini..!! “. Abbi menangkis serangan Ryan yang bertubi-tubi, Ummi terus berusaha memisahkan mereka berdua. Saat Abbi mengepalkan tangannya dan bersiap memukul Ryan, Ummi melindungi dan menghalangi pukulan suaminya.
“ Ummi...ummi...ummiii.....”, panggil Ryan berkali-kali setelah melihat bundanya itu tergeletak tak berdaya di pangkuannya. Darah segar keluar dari mulut Ummi. Ryan terus mengguncang-guncangkan badan Ummi. Tapi ia sekalipun tak bergerak.
Setelah delapan tahun berlalu, rumah Ryan masih tampak seperti dulu. Masih bergaya 80’an. Halamannya di penuhi berbagai tanaman. Dan pohon kuping gajah kesukaan Ummi masih tumbuh subur di
“ Assalamualaikum Ummi...”, sapanya santun. “ Waalaikumsalam....”, balas Ummi lembut seraya mencium pipi anaknya.
Ryan senang bukan main kembali ke tanah air, setelah mendapat beasiswa S2 di Jerman. Ia puas dan gembira bertemu lagi dengan Ummi dan Rama. Apalagi melihat senyum Ummi yang kini lebih berbinar. Ummi seperti tidak punya beban sama sekali. Memang setelah kejadian perkelahian Ryan dulu dengan Abbi yang membuat Ummi masuk rumah sakit, membuat Ryan tersadar, kalau kebiasaannya larut dalam minuman keras atau narkoba demi pelampiasan semua masalahnya, akan menambah beban Ummi.
Ia juga akan menyakiti hati Ummi karena tidak bisa menjadi anak yang baik dan sholeh, seperti idaman Ummi. Setelah itu Ryan mulai berhenti sendiri dan meninggalkan semua barang haram itu. Tidak cuma Ryan yang menyesal, tapi juga Abbi. Setelah berkali-kali menyakiti hati Ummi, Abbi tak lama menceraikan istri mudanya. Abbi kembali ke rumah dengan pribadi yang baru, yang lebih baik. Tapi setahun kemudian beliau meninggal.
Rama menawarkan Ryan untuk mengantar naik motor. Tapi Ryan menolak dengan halus. Ia hanya ingin berjalan sendiri. Dan di sini, di jalan setapak ini, ia merasa kenal dengan jalanan beraspal yang dulu pernah ia lewati. Ryan menghentikan langkah, beberapa langkah tak jauh darinya, ia melihat sebuah gereja besar. Gereja itu bertuliskan “ Gereja Katolik St.Fransiskus Asisi “. Tiba-tiba ia teringat seseorang. Seseorang yang lekat dengan gereja itu. Terdiam sesaat, Ryan membalikkan badan. Ia berbalik arah.
“ Ryan...? Ryan
“ Heey..gue Fransiska.., masih ingetkan ? “.
Fransiska dan Ryan lalu berjalan menuju taman tak jauh dari tempat mereka bertemu. Fransiska seperti biasa, selalu banyak omong.
“ Setelah di titip di biara, setahun kemudian Sabina di jemput pulang Ayahnya. Dan enggak lama menikah dengan Lukas. Aku sendiri yang jadi pengiring pengantinnya. Romo Markus yang menikahkan di gereja kami.., tapi baru setahun menikah Ayahnya Sabina meninggal kena serangan jantung. Dan selama empat tahun menikah, mereka enggak punya anak. Lukas pernah tanya sama aku, siapa sebenarnya laki-laki yang pernah di cintai Sabina?, karena Lukas merasa selama menikah, Sabina tidak pernah mencintainya, padahal ia adalah istri yang rajin juga baik.
Dan selama empat tahun itu pula Lukas dan Sabina bercerai, dan Sabina kembali ke rumah Ibunya. Tapi entah kenapa sudah dua tahun ini Sabina menghilang, orang-orang bilang dia stress karena bercerai dengan Lukas. Aku pernah tanya ke Ibunya, kemana sebenarnya Sabina ?, tapi beliau cuma bilang, Sabina berada di tempat yang tenang, yang bisa mendamaikan hatinya “.
Ryan masih terus mengingat cerita Fransiska. Selama ini ia memang tidak pernah lupa dengan Sabina, gadis yang sangat ia cintai. Selesai Sholat maghrib, Ryan khusyuk berdoa. Dan melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Dibacanya
“ Ooh Ryan.., lama sekali kau tak pernah ke sini ? “, tanya Ustadz Habsy seraya memeluk anak didiknya itu. “ Betah kau yah di negri orang ? “, godanya dan mempersilakan Ryan masuk ke dalam rumahnya yang asri. Rumah Ustadz Habsy memang asri dan berudara sejuk. Mungkin karena terletak di daerah pegunungan. Semua pemandanganpun terlihat hijau dan menenangkan hati. Ryan memang akrab dengan suasana rumah Ustadz yang terletak masih satu komplek dengan pondok pesantrennya. Ia dulu pernah menimba ilmu di sini.
“ Bagaimana kabar Ummi ? “, tanya Ustadz.
“ Alhamdulillah baik Ustadz.., Rama juga sehat, ia juara kelas untuk yang kesekian kalinya..”, cerita Ryan. “ Alhamdulillah....”, ujar Ustadz bersyukur.
“ Oiya Yan.., beberapa bulan lalu, sebelum kau pulang, Ummi pernah datang ke sini. Beliau banyak cerita.., katanya beliau pengen sekali kalau kau pulang nanti, bisa segera menikah.., sudah tak sabar rupanya Ummi kau pingin cepat punya menantu, tu...”, goda Ustadz Habsy dengan logat melayunya yang kental.
Ryan hanya tertawa dan tersipu agak malu. “
“ Kau mau tidak aku kenalkan dengan seseorang ?, istriku punya anak didik, anaknya cantik dan sopan. Namanya Saffa.., Umurnya ku rasa tak jauhlah denganmu.., dia baru dua tahun tinggal di pesantren ini, tapi perempuan ini baru setahun jadi mualaf..”, cerita Ustadz Habsy lagi.
“ Mualaf..? “, tanya Ryan heran.
“ Iya.., dua tahun yang lalu, istriku menemukan dia termenung sendirian di taman di
Ryan menunggu dengan tenang di ruang tamu rumah Ustadz. Secangkir teh manis hangat, ia cicipi sekali-kali. Ustadz Habsy juga sudah menunggu bersama Ryan. Tapi istri Ustadz belum juga datang. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 13.00 . Handphone Ustadz tiba-tiba berbunyi. Ustadz mengecek sms yang masuk. “ Sebentar lagi istriku datang, mereka baru selesai sholat dzuhur “, beritahu Ustadz.
“ Assalamualaikum....”, suara lembut dan santun Ustadzah Noor, istri Ustadz Habsy terdengar dari dalam rumah. Ia kemudian masuk dan segera mencium tangan suaminya.
“ Waalaikumsalam...”, jawab Ustadz dan Ryan berbarengan. Wanita berjilbab putih mengikuti istri Ustadz di belakang. Ia berjalan sambil menunduk.
Ryan yang penasaran, mencoba memperhatikan wajah wanita itu. “ Ryan..., lama kita tak bertemu, sudah sukses sekarang, Nak ? “, tanya istri Ustadz ramah. “ Alhamdulillah Ustadzah Noor...”, jawab Ryan.
Ustadzah Noor duduk di depan suaminya. “ Ini yang namanya Ryan.., pria yang ingin kami kenalkan..”, kata Ustadzah Noor pada Saffa yang sudah duduk di sampingnya. Saffa lalu mendongakkan kepalanya sedikit, ia ingin melihat pria yang sering di ceritakan oleh Ustadzah Noor, gurunya yang banyak cerita tentang islam dan wanita. Saat Saffa mendongakkan kepalanya, Ryan yang kaget, tak henti memandang paras cantik wanita berjilbab putih yang ternyata selama ini selalu ada di bayangannya. Wanita bernama Saffa itu, sering ia lihat di mimpinya. Dan wajah ayu’nya sama sekali tidak membuat Ryan lupa sedikitpun, walaupun sekarang ia berkerudung.
“ Dulu nama Mbak Saffa adalah Sabina, tapi semenjak jadi mualaf, namanya diganti jadi Saffa Madina...”, cerita Ustadzah Noor lagi pada Ryan. Saffa yang juga terlihat kaget, berusaha tenang. Ia tersenyum pada Ryan. “ Assalamualaikum Ryan...”, ucapnya halus. Ryan tak percaya akan wanita yang dulu pernah ia cintai, sekarang berada di hadapannya dengan tampilan yang lebih menawan.
Ryan tersenyum tanpa kata. Ia terus menatap Sabina yang kini bernama Saffa dengan penuh kerinduan. Ia kini mengerti akan jawaban doanya selama ini. Tuhan telah mengabulkan doanya untuk bertemu kembali dengan wanita yang tak pernah luput ia lupakan. Dan Tuhan telah memberinya bonus. Bonus seorang wanita muslimah yang selama ini ia cari. Seorang wanita bertasbih coklat kayu di pergelangan tangannya.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar