WeLcoMe 2 my BloG
Kamis, 21 April 2011
After I say " I Do.."
Jumat, 08 April 2011

**A POSTCARD FROM HEAVEN**
Siang ini udara terasa sejuk, mungkin karena pagi tadi hujan terus saja mengguyur puncak bukit di pemukiman ini. Jangankan dingin karena hujan, hari biasa pun di musim panas, udara di
Maurie, gadis berusia 22 tahun yang beberapa tahun ini bermukim di daerah puncak yang sejuk ini, tampak sedikit kedinginan. Hari ini selain memakai cardigan rajut yang biasa ia pakai, ia menambahkan sehelai syal agak tebal untuk menghangatkan leher dan tengkuknya. Dengan memeluk beberapa kuntum bungan crisan berwarna putih dan kuning cerah, Maurie seperti biasa melangkah menuju toko buku tua yang terletak tak jauh dari pusat
Toko buku tua yang bertuliskan “ Florence Books” di papan yang terpampang tepat di atas toko yang tidak berpintu itu. Maurie masuk ke dalam toko dan menyapa seorang bapak tua yang sedang duduk di meja kasir di temani secangkir kopi hitam pekat yang hangat dan sebuah buku setebal kamus yang sedang di bacanya.
“ Halo..selamat siang Pak Atma...”, sapa Maurie ramah. Bapak tua yang biasa di panggil Pak Atma’pun menoleh dan balas menyapa dengan tersenyum. “ Siang, Maurie..”, sapanya.
“ Mau membeli kartu pos lagi..?”, tanya Pak Atma sambil menyeruput kopinya, “ Hmm..iya, apa ada kartu pos gambar terbaru?”, tanya Maurie sambil memilih-milih kartu pos yang tersimpan rapi di dalam rak besi. dari berpuluh-puluh kartu pos yang ada di rak itu, ia tampak belum menemukan selembar kartu pos yang menarik perhatiannya. Maurie kembali membolak-balik kartu pos-kartu pos di tangannya, dari yang bergambar lukisan bunga matahari, pemandangan pantai sampai kartu pos yang bergambar kota-kota tua di dunia. Tapi tak satupun ada yang menarik minatnya.
Kartu pos-kartu pos tadipun kembali ia simpan di dalam rak dengan rapih, dan sebelum Maurie melangkahkan kakinya menuju rak buku yang lain, Pak Atma menghampirinya dengan membawa beberapa lembar kartu pos di tangannya.
“ Ini..beberapa kartu pos yang baru saja di kirim putriku...”, kata Pak Atma seraya menyerahkan kartu pos-kartu pos itu pada Maurie. “ Waah..kartu pos ini bagus-bagus sekali..”, pikir Maurie dalam hati. “ Bagaimana? bagus-bagus
Dan setelah menghabiskan tak lebih dari satu jam di toko buku tua milik Pak Atma, Maurie melangkah pulang dengan membawa enam lembar kartu pos dari sepuluh kartu pos yang tadi di tawarkan Pak Atma. Dengan senyum puas yang tersungging di wajahnya, Maurie kembali melihat-lihat kartu pos-kartu pos itu di dalam bus menuju rumahnya. Rasanya ia puas sekali melihat kartu pos-kartu pos yang dikirim putri Pak Atma yang sedang menetap di
Mendengar kata
Dan selepas kepergian istrinya yang menderita kanker, Pak Atma memutuskan kembali ke tanah air dan membuka usaha toko buku, dan untuk menghabiskan masa tuanya, Pak Atma memilih untuk tinggal di Puncak ini. Ia sama sekali tidak memilih tinggal di kota-kota besar di
Sesampai di rumah bertingkat tiga yang memang di sewakan untuk para pelancong dan orang-orang yang ingin tinggal lebih lama lagi di sini, Maurie merebahkan tubuhnya di atas sofa putih di ruang tengah. Dan setelah melepas lelah beberapa menit, ia mengambil bunga-bunga crisan yang tadi di belinya ke dalam dapur, Maurie mencucinya sampai bersih dan memasukkannya ke dalam vas kaca bening di atas meja, tepat bersebelahan dengan sofa. Setelah puas merangkai rapih bunga-bunga itu, Maurie masuk ke dalam kamarnya, dan tak lupa ia mengambil kartu pos-kartu pos tadi dari dalam tas dan menaruhnya ke dalam laci kayu mungil bertingkat dua berwarna coklat, tempat ia menyimpan kartu pos-kartu pos yang di belinya. Dan hari itu Maurie berniat akan mengirimkan kartu pos esok pagi, seperti biasanya.
Setelah kemarin pagi hujan, hari ini langit terlihat cerah, warna biru laut dan putih memang perpaduan indah untuk menikmati sinar matahari pagi ini. Jam weker yang setia membangunkannya setiap jam tujuh pagi langsung di matikan, mata yang terasa masih sangat mengantuk di lawan Maurie agar bisa segera bangun, dan untuk melepas sisa-sisa kantuknya, ia menguap sepuas-puasnya. Untunglah pagi ini tidak hujan, jadi Maurie bisa bangun tanpa harus mengenakan jaket atau sweater tebal.
Sambil mencari-cari sandal berbulu lembut berwarna pink yang biasa ia pakai di dalam rumah, Maurie mengucek-ucek mata dan menggaruk-garuk rambutnya, entah karena gatal atau kebiasaan saat bangun tidur, yang pasti tanpa harus mencari lebih lama lagi, sandal berbulu pink sudah ia kenakan dan langsung menuju kamar mandi untuk membasuh muka.
Akhirnya setelah semua nyawa terkumpul dan sudah sadar penuh dan tidak lagi bermimpi, Maurie membuat secangkir susu coklat panas, dan ia membawa cangkir itu ke ruang tengah dan duduk di sofa. sambil meniup-niup susu yang masih panas, ia mengambil kartu pos di atas meja dan membaca beberapa baris tulisan yang semalam ia tulis di
“ Dear Jefry...,
Ini adalah kartu pos’ku yang ke dua puluh, aku harap kamu tidak akan pernah bosan menerimanya. Setiap tanggal dua belas aku selalu berharap kartu pos ini akan sampai padamu. Karena aku ingin kita selalu saling mengingat semua kenangan. Dan aku tidak akan pernah lupa, akan selalu mengirimkan kartu pos padamu...
PS : Oya..kebetulan hari ini di bulan November adalah hari jadi kita, kamu masih ingatkan? Happy Anniversary..”
Love..,
Setelah membaca tulisan di kartu pos itu, Maurie masuk kembali ke dalam kamar, ia membuka laci bawah mungil coklat tempat ia biasa menyimpan kartu pos, ternyata Maurie tidak hanya menyimpan kartu pos di sana, ia juga menyimpan berhelai-helai pita kecil berwarna hijau dan beberapa balon yang belum ia tiup, dan semua balon itu juga berwarna hijau. Dan setelah mengambil pita dan balon yang sudah menggelembung, Maurie menuju ke arah balkon, tak lupa ia juga membawa kartu pos yang tadi di bacanya di sofa, juga secangkir susu coklat yang belum di habiskannya.
Walaupun pagi ini cerah, tapi semilir angin pagi masih begitu terasa, sampai menghempaskan rambut hitam Maurie pagi itu. Sambil menghirup udara pagi yang sejuk, tangan kanan Maurie memegang balon hijau yang sudah berbenang, di bawah benang itu terselip kartu pos yang sudah di kaitkan dengan pita warna senada.
“ Tuhan..tolong sampaikan kartu pos ini padanya....”, doa Maurie dalam hati yang kemudian melepas balon ber’kartu pos itu terbang di atas awan dan dengan bantuan angin, balon itu perlahan pergi meninggalkan Maurie yang berdiri di atas balkon sambil menatap ke arah langit sampai balon hijau ber’kartu pos itu menghilang tertutup awan.
“ Maaf Pak.., saya mencari buku-buku tua karya Ken Follet, apa di sini ada ?”, tanya seorang pemuda pada Pak Atma. “ Tapi saya mencari yang asli, maksud saya bukan yang terjemahan, tapi yang masih berbahasa inggris..”, kata pemuda itu lagi. Dan sebelum Pak Atma turun dari bangku kasirnya dan membantu mencarikan pemuda itu buku yang sedang di carinya, ia kembali mengoceh, “ kalau ada yang The Pillar of The Earth yah Pak atau Lie Down with Lions..oya juga buku-bukunya Paulo Coelho”, pintanya lagi. Pak Atma dengan tersenyum berkata ramah pada pemuda yang mungkin akan menjadi pelanggan barunya ini. “ Saya bantu carikan..”
Pak Atma kemudian menuju rak buku paling belakang di tokonya di ikuti pemuda itu, rak tempat ia menyimpan buku-buku lama yang sudah terbaca. Di rak itu memang tersimpan buku-buku asli berbahasa inggris, dari novel sampai biografi. Dan semuanya buku-buku second yang masih banyak di cari oleh para kurator buku-buku antik. Semua buku-buku tua itu adalah koleksi Pak Atma selama ia tinggal di Italia ataupun bahkan beberapa ia dapatkan saat sedang melancong ke negara lain. Semua di bawa Pak Atma saat kembali ke
Setelah selama tidak lebih dari dua puluh menit mencari, Pak Atma memberikan buku karya Ken Follet yang di minta oleh pemuda itu. Pemuda berkulit putih dan tinggi itu kemudian tersenyum puas setelah melihat buku yang di carinya itu sudah ada di depan mata. “ Akhirnya..akhirnya gue temukan juga buku ini “, serunya sambil membolak-balik halaman buku yang berjudul The Pillar of The Earth itu. “ Oya..tadi kamu juga cari buku-bukunya Paulo Coelho
“By The River Piedra I sat down and wept?”, tanya Pak Atma. “ Betul..betul Pak..iya..iya yang itu...”, seru pemuda itu lagi. Tapi sebelum Pak Atma membantu mencarikan buku-buku yang di pinta pemuda, bel di meja kasir tempat Pak Atma duduk berbunyi, menandakan ada pelanggan lain yang baru datang.
“ Hmm..maaf Nak..di depan ada pelanggan lain, di rak ini ada beberapa buku-buku Paulo Coelho, kamu bisa coba cari judul-judulnya di sini, maaf sekali saya harus ke depan..”, kata Pak Atma santun. “ Oiya..Pak, engga apa-apa saya coba cari sendiri...”, jawab pemuda itu. Dan tak lama Pak Atma segera menuju ruang depan tokonya.
Setelah kurang dari satu jam, pemuda yang tadi kembali ke meja depan, tepat di dekat pintu masuk, tempat biasa Pak Atma duduk. Ia datang kembali dari rak-rak buku dengan membawa setumpuk buku-buku di tangannya. “ Maaf Pak..saya jadi beli buku-buku ini “, katanya sambil terengah-engah seperti habis membawa sekarung beras. Pak Atma kemudian mengumpulkan buku-buku itu. The Zahir, The Fifth Mountain, juga By The River Piedra I sat down and wept, semua buku-buku karangan Paulo Coelho itu di rapikan dan di hitung jumlahnya oleh Pak Atma.
“ Hmm..kalau tahu di toko buku ini lengkap, mungkin saya bisa ke sini saja setiap hari Pak..”, seru Pemuda itu senang. Pak Atma hanya tersenyum mendengarnya. “ Kamu tinggal di daerah sini?”, tanya Pak Atma. “ Baru dua minggu Pak, sebelumnya saya tinggal di
“ Halo Maurie...”, sapa Ken sambil melambaikan tangannya. Ken, anak laki-laki yang baru saja berumur 17 tahun itu selalu menyapa Maurie. Setiap hari, setiap ia bertemu dengannya, atau jika seharian ia tidak bertemu Maurie, maka Ken akan setia menunggunya sampai ia benar-benar bertemu dengan gadis pujaannya itu, menunggu di toko Pak Atma atau di depan rumah Maurie.
Ken berlari menghampiri Maurie yang membalas lambaiannya. “ Hai Ken....”, Maurie balas menyapa.
“ Masih mengirimkan balon dan kartu pos itu lagi? “
“ Yaa....”, senyum Maurie.
“ Kamu
“ Sudahlah Maurie..., lupakan laki-laki itu, aku yakin banget, dia enggak bakalan kembali, dia udah punya kehidupan lain...”, Ken masih saja tetap berusaha membujuk Maurie siang itu di dalam toko buku Pak Atma seperti biasanya. “ Kamu mau
“ Seandainya Maurie mau berhubungan dengan laki-laki lain, aku rasa ia enggak bakalan memilih kamu, Ken...”, tiba-tiba Pak Atma menghampiri mereka. “ Lhoo..kenapa Pak..? aku
“ Sekarang memang masih putih abu-abu Pak.., tapi setahun lagi, aku dan Maurie bukan hanya sekedar adik dan kakak, atau guru dan murid, tapi kita berdua hanyalah seorang laki-laki dan wanita dewasa...”, jelas Ken sambil mengerdipkan sebelah matanya. Maurie yang sedang di perbincangkan terlihat tidak menanggapi adu argumentasi Ken versus Pak Atma. Ia tetap serius membaca salah satu seri Shopaholic, buku karya Sohie Kinsella favoritnya.
Bab terakhir buku Confession of Shopaholic hampir selesai di baca, saat Pak Atma menghampiri dan duduk tepat di depan Maurie. Ken sudah pulang dari dua puluh menit yang lalu, ia pulang setelah Mamanya menelepon untuk minta di antar ke
“ Sudah kamu kirim kartu pos itu hari ini, Maurie ? “, tanya Pak Atma seraya meletakkan secangkir cappuccino hangat untuk seorang gadis cantik dan semampai yang sedang duduk di hadapannya. “ Sudah Pak...”, jawab Maurie pelan.
“ Hmm..Maurie, Bapak bukannya ingin mencampuri urusanmu, tapi....itu sudah sudah lama terjadi, sudah hampir dua tahun bukan..? “, Pak Atma bertanya pelan, dan berusaha agar tidak menyinggung perasaan gadis itu. Maurie menyeruput cappuccino di cangkir mungil berwarna jingga.
“ Yaa..., sudah hampir dua tahun...”, desah Maurie dan menutup bukunya.
“ Sudah lama berlalu..., apa kamu tidak mau melanjutkan hidupmu..?”
“ Maksud Pak Atma, kembali ke karir yang hampir menghancurkan masa depanku ?”
“ Bukan..bukan itu Maurie “, Pak Atma berusaha memperlurus maksud perkataannya.
“ Tapi..., melanjutkan kembali kehidupan percintaanmu, dengan.....orang lain “.
Maurie tertunduk. Dalam hatinya ia merasa sedikit sedih dan teringat akan masa lalu. Masa lalu yang seharusnya bisa membahagiakannya dengan seseorang. “ Tata kembali hidupmu Maurie.., selama ini aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri. Karena itu Bapak ingin melihat kamu bahagia dan jatuh cinta kembali...”.
Maurie masih teringat terus akan pesan Pak Atma. Jatuh cinta.., yaa jatuh cinta lagi.., kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinga Maurie. Tiba-tiba ia tersadar, selama ini ia begitu terpuruk dan masih terus di selimuti kisah cinta lama. Kisah lama yang dulu begitu membuatnya bahagia. Dan kesempurnaan kebahagiannya harus terenggut dan membuat Maurie terus menjerit dan begitu menyesalinya. Dan jatuh cinta lagi.., mungkin itu yang bisa mengobati luka lamanya. Mungkin itu yang bisa membangkitkan kembali semangat hidupnya yang selama ini hampir pudar.
“ Cari buku Paulo Coelho atau Ken Follet lagi..? “, tanya Pak Atma ramah dan menjamu Rangga dengan secangkir cappuccino andalannya. Rangga tersenyum. “ Bukan Pak.., saya cuma mau melihat-lihat buku-buku yang lain “, ucapnya. “ Silakan...”, ujar Pak Atma. Sebelum Rangga melangkah masuk menuju rak-rak besar yang berjejer rapih di sudut ruangan, pintu toko terbuka. Semilir angin dari arah pintu seketika masuk dan menggoyangkan lonceng-lonceng kecil yang tergantung di atas kusen pintu. Teeeng..teeeng..., lonceng-lonceng yang tertiup angin mengeluarkan suara. Rangga menoleh ke arah suara lonceng.
“ Maurie..., bagaimana kabarmu ? sudah dua bulan ini Bapak kehilangan pelanggan setia pembeli kartu pos...”, sapa pak Atma kaget saat melihat Maurie masuk kedalam tokonya lagi. Ya.., dua bulan lalu setelah perbincangannya dengan Pak Atma, Maurie memutuskan untuk kembali ke
“ Aku baik-baik saja pak...”, jawab Maurie seraya memeluk Pak Atma.
“ Syukurlah..., Bapak selalu berdoa untukmu...”.
“ Oya..bagaimana dengan Ken ? “, tanya Maurie tiba-tiba.
“ Heemm...ia selalu bertanya setiap menit dan detik, kapan kamu kembali? Ken juga pernah nekat mau menyusulmu ke
“ Siapa gadis itu Pak..? “, tanya Rangga menghampiri Pak Atma yang baru saja melangkah masuk dan menutup pintu. “ Namanya Maurie, dia gadis yang cantik bukan..? “, puji Pak Atma. “ Cantik dan karismatik..., tapi dia enggak terlihat seperti gadis desa ini, Pak..”, tanya Rangga penasaran. “ Memang bukan.., dia sama denganmu kok.., Maurie juga dari
Rangga yang penasaran dengan sosok Maurie terus seksama mendengarkan cerita Pak Atma. “ Karena itu, dia pindah ke
Tertarik dengan Maurie sejak pandangan pertama, membuat Rangga semakin rajin mengunjungi Florence Books. Dulu jika dalam seminggu ia hanya datang sekali, tapi kali ini ia bisa berkunjung tiga atau empat kali, demi bertemu dengan Maurie dan ingin mengenalnya lebih jauh. Ia beruntung Pak Atma bersedia mengenalkannya suatu hari di dalam toko saat hujan deras mengguyur Puncak. Rangga maupun Maurie yang tertahan hujan, mau tidak mau menunda pulang ke rumah dan menghabiskan banyak waktu di
Tapi saat bertemu dan menatap Maurie, Rangga melihat pandangan mata gadis itu terkesan memendam kesedihan. Sinar matanya tersirat sesuatu yang tidak akan pernah di lupakan olehnya. Tapi Rangga tidak mengindahkan sama sekali, ia cukup puas dengan hubungannya dengan Maurie yang semakin dekat. Ia memang belum menyatakan tentang perasaannya, ia tidak ingin buru-buru. Ia membiarkan perasaan Maurie berkembang sedikit demi sedikit. Karena Rangga tidak ingin gadis yang di pujanya itu terluka dan mengingatkannya akan masa lalu.
“ Apaa..? Rangga ? cowok kutubuku tetangga sebelahku itu ? “, Ken yang kaget hampir saja di omeli oleh Maurie, karena membuat semua pengunjung di Florence Books menoleh ke arahnya dan memasang wajah sebal karena suaranya yang melengking. Ken kaget campur kesal mendengar Maurie banyak bertanya tentang Rangga, tetangga baru sebelah rumahnya.
“ Yaa..Rangga, kamu tahu enggak kalau dia...hhmm, maksudku..apa pernah ada cewek yang main ke rumahnya ? “, Maurie bertanya dengan sedikit malu. Ken mendengus. “ Mana ada cewek yang mau main ke rumah kutubuku yang kamarnya saja penuh dengan buku-buku setebal kamus...”, dengan nada sinis dan ekspresi wajah di lipat-lipat Ken menjawab.
“ Maurie..apa kamu enggak mau menungguku setahun lagi ? “, pinta Ken memohon.
“ Ken sayang......”, Maurie berusaha membujuk.
“ Aku senang kalau kamu sudah mau membuka hati lagi, tapi aku pikir orangnya bukan si kutubuku itu.., maksudku kenapa bukan seorang Ken yang jantan dan bisa bersenang-bersenang? seharusnya aku yang kamu pilih Maurie...”, mohon Ken dengan memelas.
“ Ken..., aku tahu kita berdua bisa bersenang-senang, tapi aku sudah menganggapmu seperti adikku..”, Maurie mencoba menjelaskan dengan lembut agar ken tidak merasa terlalu kecewa. “ Dan kita masih bisa tetap dekat seperti ini...”, bujuknya sambil mengusap punggung Ken yang masih saja cemberut. “ Oke..., tapi aku mohon.., jangan sama si kutubuku aneh itu, pleaseee...”. Entah kenapa Ken begitu sebal dengan Rangga. Mungkin ia merasa sosok Rangga yang serius dan profesinya sebagai editor sekaligus penyadur novel berat di Penerbit ternama, tidak cocok dengan Maurie yang cantik dan menyenangkan.
Rok sedengkul berwarna soft pink yang di kenakan Maurie sore ini membuat kakinya terlihat semakin jenjang. Apalagi warna lipstick dan blush on warna senada membuat wajahnya merona dan terlihat cerah. Secerah hari itu, dimana ia dan Rangga bertemu dan makan siang bersama. Walaupun sudah sore, perona pipi pink rose yang ia pakai masih memancarkan aura cantiknya. Ia dan Rangga menghabiskan hari dengan mengobrol dan berjalan ke taman bunga. Saat melihat kebun bunga crisan, langkah kaki Maurie terhenti. Ia menatap lekat bunga-bunga itu. Bunga yang dulu sering di belinya. Bunga yang selalu ia pajang di saat ia mengirimkan balon kartu pos. Ia sesaat tersadar, sudah beberapa bulan ini ia tidak pernah lagi membeli bunga crisan. Vas bunga tempat di mana crisan dulu tersimpan, kini di ganti dengan bunga mawar. Entah kenapa semenjak ia dekat dengan Rangga, Maurie jadi ingin sekali membeli bunga mawar. Padahal crisan adalah bunga favorit Jefry, si penerima kartu pos.
Tiba di depan rumah, Maurie mengajak Rangga masuk untuk sekedar minum teh dan membalas kebaikan hatinya karena mau mengantar pulang. Di ruang tengah Maurie mempersilakan Rangga untuk duduk di sofa putih. Saat Maurie sibuk membuatkan secangkir teh hangat, Rangga berkeliling melihat-lihat suasana ruang tengah Maurie. Semua furniture berjejer rapih, cat tembok yang berwarna biru lembut semakin menyejukkan ruangan yang bersih itu. Tak sedikitpun debu yang menempel atau tank top kotor yang terselip di atas sofa atau meja. Rangga kini mengerti kenapa Maurie selalu berpenampilan rapih dan dandy, rumahnya saja begitu bersih.
Pandangan mata Rangga terhenti saat ia melihat beberapa balon yang sudah di tiup tergantung di sisi atas kursi kayu di sudut ruangan. Balon-balon itu berwarna-warni. Baru ingin melangkah mendekat ke kursi kayu, Maurie mempersilahkan Rangga untuk mencoba teh buatannya.
Mereka kemudian mengobrol dan memperbincangkan banyak hal. Saking terhanyut dengan obrolan yang nyaman, Maurie dan Rangga sadar akan kedekatan hubungan mereka, Rangga merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk melangkah lebih jauh lagi, ia merasa saat ini Maurie sudah bisa menerima hatinya. Ia pun memberanikan diri menggenggam tangan halus Maurie, ia menatap lekat ke arah gadis itu. Tatapan penuh arti, bukan tatapan pertemanan, tetapi tatapan penuh cinta.
Terhanyut akan sikap Rangga, Maurie membalas tatapan lembutnya. Tetapi di saat Rangga ingin mencium, sontak Maurie menolak. Ia memalingkan wajahnya, ia tertunduk malu. Ia hanya merasa saat ini bukan saat yang tepat untuk menerima ciuman orang lain. “ Oh iya Maurie.., kamu mau jualan balon yah..? “, tanya Rangga bercanda, mencoba menghilangkan suasana kaku. Senyum di wajah Maurie seketika terhenti dan mengalihkan pandangan ke arah balon-balon yang semalam ia tiup. Sadar akan bercandaannya tidak lucu, Rangga mencoba untuk tidak membuat Maurie tersinggung. “ Maaf Rie..., maksudku untuk apa balon-balon itu ? “.
Maurie kembali melihat ke arah Rangga dengan tersenyum. “ Aku hanya senang dengan balon. Tidak ada maksud lain..”, Maurie beralasan. “ Oohh..., dari tadi aku berpikir, untuk apa balon-balon itu ?. Oiya.., apa kamu tahu, beberapa kali pernah ada balon nyasar ke pohon di atas balkon kamarku. Anehnya lagi ada selembar kartu pos terlilit di balon itu, kayaknya sih itu kartu pos cinta. Aku pikir cuma orang iseng yang engga ada kerjaan yang mau mengirimkan
Rangga datang ke
“ Hmm.., belakangan ini Maurie memang jarang datang. Bapak pikir dia sering bersama kamu...”, jelas Pak Atma. “ Sudah beberapa minggu ini saya enggak bisa menghubungi Maurie, Pak “, terang Rangga. “ Rumahnya juga selalu tertutup...”.
“ Apa yang terjadi dengan kalian berdua..? “, tanya Pak Atma bingung.
“ Saya juga enggak tahu.., terakhir kami bertemu waktu saya ke rumahnya. Memang saat saya cerita tentang balon kartu pos yang nyasar ke rumah, ekspresi wajahnya berubah. wajah Maurie kelihatan memerah saat saya bilang, si gadis pengirim hanyalah seorang yang kesepian.....”, cerita Rangga sambil meminum teh manis yang di suguhkan Pak Atma agar membuatnya tenang.
“ Apa..?? cewek kesepian maksud lo..? “, tiba-tiba Ken menghampiri dan menarik kerah baju Rangga. Ekspresi sebal semakin terpancar di wajah Ken. Rangga yang kaget menepis tangan Ken dan membalas tatapan kesal. “ Sudah..sudah....!! ”, Pak Atma melerai mereka berdua dan mencegah pertumpahan darah di dalam tokonya.
“ Rangga..., apa di kartu pos yang kamu temukan itu ada nama pengirimnya ? “, Pak Atma mencoba untuk meluruskan masalah yang membuat Rangga bingung. “ Tidak ada namanya Pak.., hanya inisial..eM...”, terangnya. Pak Atma menghela napas dengan berat. “ Dasar bodoh....”, cela Ken.
“ Heii..anak kecil, kalau enggak tahu apa-apa, sebaiknya jangan coba berkomentar..”, Rangga membalas dengan kesal. “ Siapa bilang gua enggak tahu apa-apa..??, emangnya elo tahu kalo inisial eM itu nama siapa ? “, Ken tak mau kalah berargumen. Rangga menoleh ke arah Pak Atma dengan bingung. Ia semakin tidak mengerti. Apa hubungannya antara balon kartu pos, inisial eM juga Maurie ??.
“ eM itu..., inisial dari Enggita Maurie.., ya itu adalah nama Maurie. Gadis si pengirim kartu pos, Rangga....”, terang Pak Atma. Rangga terduduk dengan lemas, ia merasa menyesal, hatinya kalut karena tanpa sadar ia telah membuat gadis yang di cintainya itu menjauh. Tapi ia benar-benar tidak tahu jika si pengirim balon kartu pos adalah Maurie. Pak Atma tidak pernah cerita akan maksud Maurie mengirimkan balon kartu pos itu, apa tujuannya? kenapa ia selalu rajin mengirimkan berlembar-lembar kartu pos untuk seseorang tanpa alamat ?.
Saat berbaring di tempat tidur, Rangga masih mengingat jelas cerita Pak Atma tentang Maurie dan kartu posnya. Beberapa tahun lalu, sebelum Maurie pindah ke
Belum acara pesta berakhir, seorang polisi menghubungi Maurie tentang kecelakaan mobil yang menimpa kekasihnya. Dan di saat pemakaman, salah seorang sahabat memberitahu Maurie akan niat sebelum Jefry kecelakaan. Sahabat itu memberikan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam yang berisikan cincin berlian. Kini Maurie tahu kenapa Jefry begitu memaksanya untuk pergi dari pesta. Dan mungkin jika saat itu Maurie mau pergi dengannya, saat ini ia sudah berbahagia dengan kekasih hatinya.
Karena begitu terpukul akan musibah ini, Maurie berhenti dari modeling yang telah membesarkan namanya. Ia memilih pergi dari hiruk pikuk perkotaan, dan tinggal di
Dan kini Rangga, yang hampir saja menggantikan posisi Jefry di hati Maurie, membuat gadis itu tersinggung, atau mungkin Maurie tidak akan mau kembali padanya lagi. Tapi Rangga bersikeras untuk terus membujuk agar Maurie mau menerimanya kembali.
Ia terus datang ke rumah Maurie dan menunggunya untuk meminta maaf secara langsung. Pak Atma juga membantu dengan berbicara dari hati ke hati dengan Maurie. Bahkan Ken, yang kini mengerti akan kesungguhan cinta rivalnya itu, turut membantu mempersatukan mereka.
“ Maurie please...., aku sama sekali enggak tahu siapa sebenarnya si pengirim kartu pos itu...”, bela Rangga saat ia berhasil menemui Maurie. “ Maafkan aku yang sudah membuat kamu kecewa...”. Maurie hanya memandang sekilas wajah Rangga dan pergi dari hadapannya. “ Maurie tunggu..., enggak seharusnya kamu menghukum aku seperti ini, aku tahu kamu akan selalu mengenang Jefry, dan aku sudah mengerti semuanya....”, Rangga terus menjelaskan sambil menarik tangan Maurie agar ia tidak pergi lagi. “ Kamu enggak kenal dengan Jefry, dan kamu juga enggak seharusnya membicarakan dia...”, ucap Maurie akhirnya.
“ Dia sudah pergi selamanya Maurie..., dia sudah berada di dunia yang tenang, aku yakin Jefry juga pasti ingin agar kamu bahagia. Tetapi tidak dengan cara terus mengurung hatimu untuk orang lain. Aku menerima akan kenanganmu dengan dia,
tapi buka hatimu untuk aku.., Maurie. I love you.....”. Rangga menyatakan perasaannya sesaat sebelum Maurie melepaskan tangannya dari genggaman Rangga.
Dan ia pergi tanpa berkata apapun. Meninggalkan Rangga yang masih terus menatapnya sampai bayangan gadis yang di cintanya itu hilang.
“You and me together..
Through the days and nights
I don't worry 'cause
Everything's going to be alright
People keep talking they can say what they like
But all I know is everything's going to be alright
No one, no one, no one
Can get in the way of what I'm feeling
No one, no one, no one
Can get in the way of what I feel for you, you, you
Can get in the way of what I feel for you…” ( Alicia keys – No One )
Suara Rangga memang tidak sebagus Glenn Fredly atau Rio Febrian. Tapi ia masih saja menyanyikan lagi Alicia Keys favorit Maurie bermodalkan gitar akustik di depan rumah gadis yang belum memaafkannya itu. Maurie hanya melihat dari balik jendela yang tertutup gorden. Dalam hati ia ingin sekali keluar menemui Rangga yang selalu bersusah payah mendapatkan cintanya. Tapi hatinya masih saja bimbang. Ia takut terluka lagi untuk yang kedua kali. Dan saat ia memalingkan wajahnya dari balik jendela, tanpa sengaja ia melihat sekuntum mawar berwarna merah pekat di atas vas kaca tumbuh mekar dan harum. Padahal sewaktu ia beli, mawar itu masih kuncup, beda dengan kuntum-kuntum mawar lainnya yang sudah berbunga.
Lagi…, seperti biasa udara dingin masih saja menusuk tengkuk di
“ Dear Rangga…,
Terima kasih atas cintamu yang tulus padaku.., aku seharusnya bahagia ada seseorang yang mau menerimaku apa adanya..Dan aku rasa kartu pos ini adalah permulaan. Karena kini kartu pos’ku ada alamatnya..” ^_^
With Love..
-eM-
Setelah membaca tulisan di kartu pos itu, Rangga merasa itu adalah sebuah kartu pos dari surga, kartu pos yang menjawab doanya selama ini, doa di mana ia ingin di pertemukan dengan kekasih sejatinya. Dan belum sempat loncat kegirangan akan kartu pos yang di kirim Maurie, ternyata saat Rangga melihat ke arah bawah rumahnya, Maurie sudah berdiri. Menunggunya untuk turun. Menunggunya untuk memeluk cintanya yang baru. Menunggunya untuk menerima kekasih yang akan menemani hari-harinya. Dan tanpa harus menunggu berlama-lama, Rangga segera turun menemui gadis yang akhir-akhir ini hampir membuatnya gila. Dan tanpa harus berlama-lama pula ia segera memeluk gadis itu dan mencium keningnya.
“ Good morning Postcard Girl….”, sapanya lembut yang di balas dengan senyum penuh arti dari gadis berinisial “ eM“
The End
ROSARIO DAN TASBIH CINTA.
“ Berharga di mata Tuhan, semua kematian yang di kasihiNya.., Mazmur 116 : 15 “. Sabina menutup alkitab saat Romo Markus mengakhiri khotbahnya siang itu. Sebelum pulang para jemaat kemudian menyanyikan lagu pujian “ Bapa Kami “, yang biasa di senandungkan saat Misa di Gereja.
Sabina dan Ibu menunggu Ayah yang masih terlihat serius berbincang-bincang dengan Romo Markus di dekat altar. Ibu terus mengusap-usap alkitab lama yang sudah terlihat usang di tangannya. Warna hitam sampul alkitab itu memang kelihatan sudah pudar. Ibu lalu melepaskan lilitan
“ Injil dan
“ Ini...Sabina ? “, tanya Romo yang kelihatan kaget. Sabina mengangguk.
“ Sudah gadis.., sudah kuliah tingkat dua, Romo “, jawab Ibu.
“ Aku ingat betul waktu pertama kali membaptismu, juga sewaktu Bibble Camp pertama’mu.., saking lincahnya, aku sampai kerepotan untuk membuatmu diam karena lari kesana-kemari.., dan sekarang sudah besar, cantik dan kalem...”, kata Romo Markus mengingat masa kecil anak baptisnya itu.
Sabina hanya tersenyum dan menunduk malu. Pipinya sedikit merona. Dulu ia memang dekat dengan Romo Markus, karena sering di ajak Ayah yang pengurus gereja bermain di rumah ibadah yang sudah 20 tahun mereka setia kunjungi ini.
“ Ryan..cepat sholat maghrib, sebentar lagi Abbi pulang..”, pinta Ummi seraya mengusap lembut rambut Ryan yang masih bermalas-malasan di tempat tidur. “
Rama menghabiskan sisa makan malamnya dengan lahap. Anak kecil bertumbuh tambun yang baru berusia 8 tahun itu memang selalu lahap menghabiskan lauk-pauk yang selalu di sajikan Ummi. “ Pelan-pelan makannya Rama.., nanti jika kau tersedak bagaimana ?! “, kata Abbi tegas saat di meja makan. Ryan menoleh ke arah adiknya yang sekarang terlihat memperlambat gerakan makannya. Ekspresi Rama sedikit takut. Ia memang selalu terlihat ketakutan jika Abbi sudah mulai bicara. Abbi memang tegas. Bahkan sangat tegas. Di tunjang dengan kumis tebalnya yang kadang membuat Abbi tambah terlihat seperti seorang diktator.
Abbi juga sangat religius. Abbi selalu mengajarkan Ryan dan Rama agar selalu sholat tepat waktu dan tidak boleh sekalipun bolong menunaikan ibadah wajib itu. Abbi juga terkadang berlaku galak, jika Ummi lupa mencucikan kaos oblong atau sepatunya, Abbi tak segan-segan memarahi Ummi habis-habisan. Dan Ummi hanya menunduk dan meminta maaf berkali-kali, tanpa memberikan pembelaan. Ryan kadang benci dengan sikap Abbi’nya yang terlihat memperbudak istrinya sendiri. Suatu kali, ia pernah memberanikan diri membela Ummi yang di cela Abbi hanya gara-gara membuat luntur kemejanya. Dan dengan keras juga tegas, Abbi mengatakan pahala besar seorang istri adalah melayani suaminya. Dan beda sekali dengan Ummi, seorang wanita sabar yang kesabarannya hampir menyamai Khadijah. Ia dengan rela melayani suami dan anak-anaknya sepenuh hati. Semua pekerjaan rumah di kerjakannya sendiri. Dan sehabis sholat, Ummi selalu lama berdoa. Entah doa apa yang ia ingin sekali di kabulkan Tuhan. Karena tak jarang air mata selalu menetes saat Ummi menengadahkan tangannya dan menatap lekat kaligrafi bertuliskan Alloh dan Muhammad yang tergantung di dinding.
“ Namanya Lukas.., dia keponakan Romo Markus yang sekarang sedang kuliah S2 di Oxford, sebentar lagi tesisnya selesai “, ujar Ayah saat menghias pohon cemara yang ingin di pajangnya di sudut rumah. “ Tapi Yah..dia 15 tahun lebih tua dari aku..”, Sabina mencoba mengelak ajakan Ayahnya agar mau di kenalkan dengan keponakan Romo.
“ Lalu apa masalahnya ? laki-laki yang 15 tahun lebih tua bisa membimbingmu secara dewasa dan bijaksana. Sifatnya juga sangat matang. Dan dia sudah bilang ke Romo kalau sangat tertarik saat pertama kali melihat fotomu..”, Ayah mencoba untuk membujuk. Sabina hanya terdiam dan terus membersihkan lampu-lampu bulat berwarna-warni dengan kain lap agar lampu-lampu itu terlihat lebih benderang saat di gantung nanti.
“ Aku selama ini tidak pernah minta apa-apa dari mu, Mas..., aku akan berbuat apa saja demi keutuhan rumah tangga kita, tapi tidak dengan berbagi kasih sayang suami,Mas...”, isak Ummi menangisi keputusan Abbi untuk berpoligami. Dan itu sudah di lakukan Abbi, bukan hanya sekedar niatan. Tapi Abbi tidak mengindahkan tangisan Ummi, suara hati istri setianya itu sama sekali tidak di dengarkan. Ummi baru tahu setelah
“ Udahlah, man..., mending elo coba aja nih minuman.., enak, seger, bisa nge’buat lo lupa sama masalah-masalah lo..! “, rayu Yuda, teman baru Ryan yang di kenalnya di mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Yuda mengulurkan sebotol minuman bertuliskan Vodka. Ryan memandangi botol itu dengan ragu. Tak sabaran menunggu Ryan mengambil botol dari tangannya, Yuda bergegas meneguk minuman keras itu ke mulutnya. Yuda tampak puas dan sangat menikmatinya.
Abbi pergi sambil membanting pintu. Semua piring dan gelas yang di lemparnya pecah. Berserakan di seluruh lantai ruang makan. Suara tangis Ummi masih sangat terdengar jelas. Teriakan dan umpatan Abbi masih terekam di kepala Ryan dan Rama. Ryan memeluk adiknya yang juga menangis ketakutan. Dan air matanya tak sadar juga menetes saat melihat Ummi yang tersungkur di lantai sambil terus terisak.
“ What..? dia ngambil jurusan Theology di Oxford ?, pria kelas berat tuh Na...”, respon Fransiska, teman koor Sabina saat mereka berjalan pulang setelah kebaktian. Sabina mengangguk. “ Duda, anaknya satu, umur 8 tahun..”, jelasnya lagi. “ Whaat..?? “, Fransiska melotot kaget. Sebelum Sabina meneruskan ceritanya, ia menengok ke arah seorang pemuda yang tertabrak motor tak jauh dari mereka. Motor itu ngeloyor pergi. Pemuda yang tertabrak tersungkur di tengah jalan sepi. “ Mas...mas..., apa mas enggak apa-apa ? “, tanya Sabina khawatir saat melihat tangan dan kepala pemuda itu berlumur darah. Fransiska hanya menatap ngeri. Ia memang takut dengan darah. Pemuda itu kemudian sadar, ia memegang kepalanya. Darah yang mengucur berbekas di telapak tangannya. Dan ia pingsan.
“ Elo gila kali yah, Na.., kenapa harus di bawa ke kost’an gue sih ? “, tanya Fransiska sebal. Sabina tidak mengindahkan ucapan sahabatnya itu. Ia dengan telaten membersihkan luka di tangan dan kepala pemuda tadi. Sabina meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. “ Kalo di bawa ke rumahku, Ayah pasti bakalan ngomel, ngelihat aku bawa pulang laki-laki enggak di kenal..”. Fransiska mendengus.
Ryan akhirnya membuka matanya. Ia bertanya-tanya kenapa kepalanya sakit sekali. Saat matanya melihat ke sekeliling, ia baru sadar ini bukan di kamarnya, juga bukan di rumah Yuda. Dimana ini?, dan sekilas ia melihat seorang gadis ada di hadapannya. Wajahnya ayu dan berlesung pipit. Rambutnya hitam dan di kuncir kuda. Ia tersenyum dan bertanya, “ Apa mas sudah enggak apa-apa ? “. Ryan berusaha membangkitkan tubuhnya dari ranjang tapi hampir terjatuh. Tubuhnya yang tidak stabil di topang oleh gadis itu.
“ Dimana ini..?”, tanya Ryan yang duduk kembali di tempat tidur. “ Iiih..matanya saja merah, kayak orang habis mabuk “, bisik Fransiska ngeri. Sabina mencubit lengan sahabatnya itu, ia tak enak kalau sampai perkataan Fransiska terdengar oleh Ryan. “ Ini di rumah teman saya Fransiska, tadi kita melihat kamu ketabrak motor..”, kata Sabina menjelaskan. Ketabrak?, Ryan sama sekali tidak ingat jika ia tertabrak motor. Yang di ingatnya hanya rumah Yuda dan menghabiskan berbotol-botol minuman yang dulu pernah di tawarkan Yuda.
“ Cowok itu ganteng sih.., tapi mata dan bau mulutnya itu loh, kayak orang habis teler. Serem iihh...”, Fransiska baru berani berkomentar setelah Ryan pergi dari kamar kost’nya. Ryan pergi tanpa pamit saat Sabina dan Fransiska membeli makanan untuknya. Mendengar ocehan Fransiska, Sabina hanya menggelengkan kepala. Ia mengerti betul kalau sahabatnya itu fasih benar kalau mengomentari orang lain.
Saat baru membuka pagar, dengan jalan sempoyongan Ryan berjalan mendekati kran air di halaman depan. Ia membasuh mukanya banyak-banyak. Setelah merasa sedikit segar, ia menarik napas dalam-dalam. “ Aku harus bersikap senormal mungkin..”, pikirnya dalam hati, agar tidak di curigai orang rumah. “ Assalamualaikum..”, sapanya sambil membuka pintu rumah. Suasana hening. Tidak ada yang membalas salamnya. Ruang tamu berantakan oleh pecahan vas. Ryan lalu melanjutkan langkahnya ke dalam ruang makan. Tidak ada siapa-siapa. “ Ummi..., Ramaaa.....”, panggilnya. Tapi tidak ada satupun yang menjawab. Ryan lalu melongok ke arah kamar tidurnya. Pintu kamar tidak di tutup. Di bawah meja belajar, Rama sedang jongkok dan menangis ketakutan.
Saat ia melihat Kakaknya sudah ada di hadapannya, Rama berlari dan memeluk tubuh Ryan. Ia masih saja tersedu-sedu. “ Ummi Kak...Ummiii.....”, isaknya.
Rama sudah tertidur pulas. Ryan yang melihat wajah polos adiknya itu merasa tidak tega, ia menyesal kenapa tadi tidak langsung pulang ke rumah. Abbi tadi datang sebentar untuk mengambil
Ryan perlahan membuka pintu kamar Ummi. Disana Ummi sedang sholat malam. Duduk di atas sajadah, Ummi mulai banyak berdzikir dan melafatkan asma Alloh. Jemarinya terus menghitung butiran-butiran tasbih berwarna coklat kayu. Ryan ingat betul, tasbih itu adalah tasbih pemberian almarhum Kakek sepulang haji dari Mekkah. Dan masih di simpan dengan baik oleh Ummi. Ryan melangkahkan kakinya pelan-pelan agar tidak mengganggu Ummi. Sayup-sayup ia mendengar tangis Ummi yang tertahan. Tanpa ragu Ryan memeluk punggung bundanya itu. Ummi masih berdzikir, kali ini tangisnya pecah. Ummi kemudian merangkul anak laki-lakinya itu. Rangkulan Ummi seperti ingin minta perlindungan. Tapi Ummi, Ryan juga Rama sama-sama tak berdaya. Jika mereka melawan Abbi, mereka akan jadi gelandangan. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah, satu-satunya pertahanan mereka saat ini.
“ Gue tahu elo kalut, Man..., bokap elo itu emang kurang ajar!, udah kawin lagi, nelantarin istri ma anak-anaknya lagi.., tapi gue punya ini, seperti biasa bisa ngebuat elo lupa sama semua masalah lo yang rumit itu...”, kata Yuda menyodorkan sebuah bong dan beberapa pil pada Ryan. Ryan menimang-nimang butir-butir pil itu di telapak tangannya. Ia tertarik untuk mencoba. Tapi ia kemudian bangkit dan berlalu menuju kamar mandi.
“ Gue heran ma elo Yan.., tiap kali habis teler, elo pasti sholat. Enggak pernah enggak sholat sekalipun. Wuuiih...rajin banget lo jadi muslim, tapi kelakuan lo itu gali lobang tutup lobang pahala tahu enggak ? “, seloroh Yuda seraya menghirup bong di hidungnya. Setelah dua kali hirupan, ia memberikannya pada Ryan. Tanpa menjawab pertanyaan dari Yuda, Ryan terus menghirup sabu-sabu yang di pegangnya.
“ Sabina.., kata Romo setahun lagi Lukas pulang ke
“ Tahun besok, usia kamu sudah 20, menurut Ayah sudah cocok untuk hmm..., berumah tangga..”. Mendengar kata berumah tangga, Sabina hampir saja tersedak.
“ Tapi Yah..aku belum selesai kuliah...”. Ayah kembali berdehem.
“ Kuliah setelah menikah, bukan suatu masalah besar...”.
“ Tapi aku ingin..., masih ingin bersama teman-teman...”.
“ Apa salahnya berkumpul dengan teman-teman setelah menikah ? “.
“ Bukan seperti itu Yah.., tapi aku juga ingin merasakan kebebasan seorang gadis lebih lama lagi...”. Raut wajah Ayah berubah sedikit merah. Ibu tahu itu artinya Ayah tidak senang putrinya membantah.
Sabina menutup alkitab dan mengecup
“ Dan Ayah sangat tahu kalau putri cantiknya ini harus mendapatkan seseorang yang benar-benar layak untuk masa depannya..”. Sabina mengernyitkan dahi. “ Saat kamu berusia 17 tahun, Ayah sudah sangat was-was akan pergaulanmu sayang.., walaupun ia tahu kamu tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Ayah pernah bilang sama Ibu, dia sangat ketakutan jika putri kecil sucinya ini di rampas oleh orang tak bertanggung jawab. Tapi Ibu bilang dia tak perlu khawatir, karena putrinya ini pasti bisa melindungi dirinya. Dan Tuhan akan selalu memberkati putri Ayah dan Ibu...”, cerita Ibu sambil terus mengelus lembut rambut Sabina.
“ Dan Ayah merasa, keponakan Romo adalah seseorang yang cukup bertanggung jawab untuk hidupku, Bu..? “, tanya Sabina. Ibu mengangguk. “ Tidak hanya bisa bertanggung jawab, tapi bisa mengangkat derajat keluarga kita, sayang....”. Dan sebelum pergi Ibu tak lupa mencium kening Sabina dan menutup pintu kamar.
Busway siang itu penuh sesak, padahal jam orang berangkat kerja sudah lewat. Sabina terengah-engah berusaha menuju pintu keluar, karena shelter berikutnya ia akan turun. Dan baru melangkah keluar pintu, ia di dorong tak sengaja oleh orang-orang yang juga ingin turun. “ Aaahh.....”, jeritnya pelan. Sabina tersungkur sampai kakinya lecet, karena lantai shelter cukup tajam, lecet di kakinya sampai mengeluarkan darah. Dengan tertatih-tatih ia mencoba berjalan menuju bangku, tempat penumpang menunggu busway berikutnya. Tapi karena merasa perih, ia hampir terpeleset lagi di lantai. Untunglah seorang pria mengamit lengannya dengan tangkas. Ia pun membantu Sabina berdiri dan menolongnya duduk. Melihat luka di kaki Sabina, pria itu berinisiatif membasahkan sapu tangannya dan membersihkan luka Sabina.
“ Thanks....”, ucap Sabina berterima kasih. “ Sama-sama.., aku sudah enggak punya utang budi lagi sama kamu...”, ujar pria itu. Sabina menatap pria itu heran, “ utang budi apa..? “, tanyanya. “ Utang budi membersihkan luka laki-laki yang tertabrak motor..”.
Setelah mengingat lagi kejadian tabrak lari beberapa waktu lalu, Sabina kemudian tertawa. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan si korban yang bernama Ryan. Merekapun akhirnya mengobrol dan menghabiskan sore di kedai kopi.
“ Ini nomor hape’ku...”, kata Ryan sambil menyodorkan selembar kertas. Sabina meraih kertas itu dan menuliskan beberapa angka di kertas tissue yang di ambilnya dari dalam tas. “ Dan ini nomerku.....”.
Semenjak perkenalannya dengan Ryan, Sabina sering melamun sendiri. Dari beberapa kali pertemuannya dengan Ryan, ia jadi tahu kalau dirinya dan Ryan punya banyak kesamaan. Seperti hobi membaca buku-buku karya Dan Brown, menonton film horror, sama-sama peminum kopi, bahkan sama-sama keras kepala. Pernah mereka beradu argumen, menanggapi film 2012 yang kontroversial. Ryan bersikeras memberikan komentar berdasarkan pandangan islam, sedangkan Sabina bersikeras percaya akan ramalan suku Aztec. Dan perdebatan di akhiri dengan menonton langsung film itu. Setelah menonton, akhirnya mereka sepakat akan mempertebal keimanan sebelum hari kiamat benar-benar datang. Mungkin juga karena usia mereka hanya berbeda setahun, jadi secara pribadi mereka cocok satu sama lain.
Ryan pernah bilang, kalau Sabina seperti Maryam, Ibunda Nabi Isa yang sangat tulus dan welas asih. Bahkan Ryan yang fasih membaca Al-Qur’an, melafalkan
Jika mengingat Ryan, bukan hanya melamun saja, tapi Sabina sering tersenyum sendiri. Apalagi kalau ingat humornya Ryan yang kadang tak masuk akal, tapi bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak. Ryan sangat berbeda sekali dari pertemuannya pertama kali yang seperti pemabuk. Sekarang sosoknya terlihat rapih dan bersih. Dan hubungan mereka sekarang lebih dekat. Ryan pernah bilang kalau ia menyukai Sabina. Sabinapun berperasaan sama, tapi ia tidak pernah mengatakan cinta, jika Ryan mulai menyatakan cintanya kembali, Sabina hanya tersenyum.
Ia tidak berani membalas cinta Ryan, karena pasti di depan mereka sudah terpampang halangan besar, yaitu beda keyakinan.
“ Ibu lihat sekarang kamu lebih sering tersenyum.., malah kadang pipimu merona “, tanya Ibu yang memperhatikan perubahan sikap putrinya, Ibu tahu betul kalau Sabina sedang jatuh cinta. Sabina hanya menggeleng menanggapi ucapan Ibu. “ Siapa pria itu, Na...? “, tanya Ibu lagi. “ Hanya seorang teman Bu...”.
“ Aku sudah menunggu di taman..”, Sabina membaca pesan singkat dari Ryan di hape’nya. Lalu ia mendongakkan kepala melihat Romo Markus yang masih berkhotbah.
“ 15 menit lagi, aku sedang bersama Ibuku...”, balasnya.
“ Memangnya kamu mengantar Ibumu kemana sih..? “, tanya Ryan.
“ Ke Gere..., maksudku ke rumah teman arisannya...”, Sabina beralasan. Ryan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia lalu meraih tangan Sabina dan menggandengnya menuju bukit berbunga di taman. Sabina merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Ryan. Ia berniat mengaku di awal kedekatannya dengan Ryan, tapi ia urungkan niat setelah Ryan pernah bilang kalau ia bersyukur bertemu Sabina, gadis yang begitu mengerti akan dirinya. Apalagi Ryan mengira kalau mereka sama-sama muslim.
“ Kapan aku bisa main ke rumahmu..”, tanya Ryan tiba-tiba. Sabina tidak mampu menjawab, ia kehilangan alasan. Sangat tidak mungkin ia membawa apalagi memperkenalkan Ryan pada Ayah. Kalau Ibu.., ia pasti bisa mengerti. Tapi Ayah..??, beliau akan kebakaran jenggot, apalagi mengingat Ayah sangat mengharapkan aku bisa menerima Lukas. “ Belum saatnya Yan....”, alasan terakhir yang bisa Sabina ucapkan.
Saat sedang asyik bersama, handphone Sabina berbunyi. Fransiska yang menelepon. Ia pun pergi beberapa langkah untuk mengangkat teleponnya. Ryan menunggu di bangku taman. Saat ia menoleh, tas yang di bawa Sabina terbuka. Ryan berinisiatif menutupnya, tapi restleting tas itu susah di tarik dan tak sengaja beberapa isi tas berhambur keluar.
Ryan’pun segera membereskan barang-barang Sabina yang terjatuh. Tiba-tiba ia berhenti mengambilnya saat matanya tertuju ke sebuah kalung berbentuk salip. Di angkatnya kalung berwarna hijau giok itu, belum puas dengan apa yang di lihatnya, ia pun melirik sebuah buku bersampul hitam yang juga ikut terjatuh. Holy Bibble, judul buku itu.
“ Maaf Yan agak lama, Fransiska seperti biasa..pengen curhat “, beritahu Sabina yang langsung duduk di samping Ryan. Tapi pria itu tak bergeming. Ia hanya terpaku. Dan akhirnya bertanya pelan, “ Ini..apa Na..? “, tanyanya seraya memberikan alkitab dan kalung salip itu pada Sabina. Sabina menelan ludah. “ I..itu
Ryan masih terbayang-bayang akan pengakuan Sabina yang seorang katolik murni. Ia tidak habis pikir kalau selama ini gadis yang di sayanginya berbeda agama. Ia teringat saat pernah mengajak Sabina sholat ashar, gadis itu menolak dan beralasan sedang halangan. Hati Ryan seperti di hujam pisau, ia begitu mencintai Sabina. Selama ini, selama perkenalannya dengan Sabina, ia’lah yang membantu Ryan keluar dan terbebas dari narkoba dan mabuk. Sabinalah tempat curhatnya, jika ia mulai membenci Abbi yang mulai bertingkah dan membuat Ummi menangis lagi. Sabinalah tempat ia bisa tertawa dan melepaskan kegundahan hatinya selama ini. Apa yang harus Ryan katakan pada Ummi ?. Ummi sudah setuju dan mau di kenalkan dengan Sabina. Tapi sekarang.., halangan tembok besar sudah berada di hadapannya. Ryan tidak mampu berpisah dengan gadis itu.., tapi bagaimana dengan Sabina ?, apa ia mampu berpisah ?.
“ Maafkan aku, Bapa....”, Sabina memohon maaf dengan seseorang di balik kelambu.
“ Aku..., aku sudah mencintai seseorang yang bukan dari kaumku sendiri..”.
“ Siapa yang lebih kau cintai, Anakku ?, laki-laki itu atau Tuhan ? “. Tidak ada jawaban.
“ Tuhan..., Bapa..”, jawab Sabina setelah agak lama termenung.
Biasanya setelah pengakuan dosa, Sabina akan merasa plong. Ia merasa beban di hatinya hilang, karena Tuhan sudah memaafkan dosa-dosanya. Tapi saat ini..hatinya masih saja terbebani. Ia merasa berat saat mengaku siapa yang lebih di cintainya.
Setengah hatinya sangat ingin berlari menghampiri Ryan, tapi saat ia menatap salip besar yang tergantung di ujung gereja, ia tidak ingin Tuhannya yang sudah berkorban nyawa demi umat’Nya, kecewa akan keinginannya untuk bersama pria beda keyakinan itu.
Sudah sebulan Ryan dan Sabina tidak bertemu. Mereka memang memutuskan untuk berpisah, setelah mereka yakin apa ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua. “ Ibu dan Ayah pulang duluan saja, aku mau ke rumah Fransiska dulu..”, pinta Sabina setelah kebaktian berakhir. Semua Jemaat sudah pulang, gereja sudah sepi, Romo Markus sudah masuk ke dalam kantornya yang tak jauh dari gereja. Fransiskapun sudah pulang dari tadi. Sabina memintanya untuk pulang saja setelah Ayah dan Ibu pergi. Sabina masih berlutut di dekat altar, tepat di depan salip. Tangannya saling mengamit, kepalanya menunduk, matanya pun terpejam. Ia sedang khusyuk berdoa. Setelah selesai, ia mencium
Baru melangkah keluar dari halaman gereja, ia melihat Ryan sudah berdiri menunggunya. Entah berapa lama Ryan menunggu. Tapi yang pasti setelah melihat sosok Sabina di hadapannya, Ryan berlari menghampiri. Ia lama menatap gadis itu lekat-lekat. Sabinapun sama, ia balas tatapan pria yang sudah membuatnya jatuh hati. Ryan sekonyong-konyong memeluk gadis itu erat. Hanya memeluk, tanpa kata-kata. Dan Sabina enggan melepaskan pelukan hangat dan rindu Ryan. Tak jauh masih di halaman gereja, Romo Markus melihat sepasang pria – wanita berpelukan melepas rindu. Dan ia kenal betul wanita itu. Dia seorang gadis, dan salah satu anak baptisnya.
“ Dasar anak tidak tahu diri.., siapa laki-laki itu ?!“, tanya Ayah murka setelah mendengar langsung berita yang di sampaikan Romo Markus pagi tadi. “ Dia..dia kekasihku Yah...”, aku Sabina tertunduk. Mendengar kata “ kekasih “, membuat Ayah tambah marah. Ia merasa kekasih anaknya itu suatu bencana. Sabina mulai menangis. Ibu berusaha meredam amarah Ayah saat mendengar putrinya berpelukan dengan lelaki lain dan di saksikan oleh Romo.
“ Sabar Yah..., sabar dulu.., dengarkan anakmu...”, pinta Ibu memohon. Setelah cukup bisa mengontrol emosinya, Ayah mulai bisa berkata dengan nada pelan. “ Bawa laki-laki itu ke sini....”.
Jantung Ryan tak henti-hentinya berdetak kencang. Kaki kanannya terus- menerus bergerak gelisah. Sesekali ia mengusap dahinya yang keringetan. Di samping duduk Sabina yang juga tak kalah gugup. Ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan di lakukan Ayahnya nanti setelah bertemu dengan Ryan. Tak jauh dari Sabina, Ibu juga sudah duduk menunggu kedatangan Ayah. “ Ayo, di minum dulu teh’nya , Ryan..”, sahut Ibu sopan, untuk mencairkan suasana. “ Terima kasih Tante...”, kata Ryan canggung. Tak lama Ayah keluar dari kamar. Tanpa senyum ia duduk di depan Ryan juga Sabina. Berkali-kali ia berdehem dan memperhatikan Ryan dari ujung kepala sampai kaki.
“ Kuliah di mana ? “, tanya Ayah kemudian. Ryan berusaha menatap ayah Sabina.
“ Di Universitas Persada’
“ Ngambil jurusan apa..? “.
“ Sa..saya di jurusan Broadcasting,
“ Bagaimana dengan orang tua kamu..? “, Ayah bertanya tegas.
“ Ayah saya wakil kepala divisi akunting di perusahaan asuransi,
Ryan kembali menelan ludahnya dalam-dalam. Ia menggelengkan kepala. Sabina terlihat tambah kalut. Ia yakin sekali kalau Ayahnya akan mempertanyakan keimanan pria yang duduk di sampingnya. “ Keluargamu jema’at mana ? siapa nama pasturnya ? “.
Pertanyaan klimaks di lontarkan oleh Ayah. Ryan menoleh ke arah Sabina. Mereka berpandangan. Sabina tampak sangat ketakutan akan jawaban yang akan di ucapkan Ryan. Ryan menarik napas dalam-dalam. Ayah Sabina masih serius menunggu jawaban pria yang telah mengambil hati putrinya itu.
“ Saya jama’ah Mesjid Al-Kautsar,
Tahu putri kesayangannya berhubungan dengan non katolik membuat Ayah semakin otoriter. Semua aktivitas Sabina di cek dan selalu di pantau. Tak jarang kegiatan antar-jemput selalu di lakoni Ayah. Fransiska sampai tak berani mengajak Sabina keluar rumah, walau hanya untuk ke toko buku. Ibu tidak bisa berbuat banyak. Ayah adalah pemimpin di rumah. Dan tak ada yang bisa mengalahkan sifat keras kepala suaminya itu.
“Kenapa setiap elo punya masalah, elo baru pergi nyari gue Yan..? “, tanya Yuda sinis.
“ Gua kalut Yud.., masalah gua lebih berat, dan ini berurusan dengan prinsip “, jawab Ryan. “ Gue tahu..., ini solusi tepat buat elo, Man...!! “, ujar Yuda sambil menyodorkan lagi beberapa linting daun ganja pada Ryan.
Ryan mulai kembali bermain dengan barang-barang favorit Yuda. Ia semakin terpuruk saat ia tahu kalau ia tidak akan lagi bertemu Sabina. Dan seperti biasa sebelum ia mulai untuk teler bersama, ia menunaikan sholat, demi keyakinannya agar selalu mengingat Alloh.
Yuda mencampurkan beberapa minuman keras pada gelas Ryan. Padahal ia sudah tak mau lagi meneguknya. Ia tidak mau terlalu mabuk, karena ia harus pulang. Ummi sudah meneleponnya agar segera pulang ke rumah. Dan gara-gara perbuatan Yuda, Ryan harus pulang dengan keadaan mabuk berat. Sampai di depan rumah, ia lupa untuk membasuh mukanya dulu, tapi ia langsung masuk ke dalam. Jalannya sempoyongan dan hampir terjatuh. Saat membuka pintu, Abbi ternyata sudah duduk di ruang tamu. Entah siapa yang di tunggunya. “ Ryan..!! “, panggil Abbi. Ryan menoleh dengan malas.
“ Ngapain lo pulang ke rumah, hah..?!, mau nyakitin Ummi lagi ?, pulang aja
“ Lebih baik mabok, daripada sering nyakitin istri sendiri..”, ejek Ryan sambil terus tertawa. Merasa tersindir dan emosi terus memuncak, Abbi langung menampar keras wajah Ryan. “ Tampar terus..tampar !!!! TAMPAR SAMPE PUAS..!! “, Ryan berteriak di depan Ayahnya. Ummi yang kaget berlari keluar kamar. Ummi melerai perkelahian antara suami dan anaknya. “ Sudah...sudah..Ya Alloh “, ucapnya berkali-kali. Tak sabaran melihat anaknya pulang dengan keadaan mabuk, membuat jantung Abbi naik turun. “ Dasar kamu anak durhaka..!! “, cela Abbi.
Kesal dengan perkataan Abbi, Ryan nekat memukul ayahnya. Sambil mencoba memukul sang ayah, Ryan terus berkata, “ Siapa yang durhaka?? Abbi yang durhaka.., nelantarin Ummi juga anak-anak, jangan pernah berkata sok suci di sini..!! “. Abbi menangkis serangan Ryan yang bertubi-tubi, Ummi terus berusaha memisahkan mereka berdua. Saat Abbi mengepalkan tangannya dan bersiap memukul Ryan, Ummi melindungi dan menghalangi pukulan suaminya.
“ Ummi...ummi...ummiii.....”, panggil Ryan berkali-kali setelah melihat bundanya itu tergeletak tak berdaya di pangkuannya. Darah segar keluar dari mulut Ummi. Ryan terus mengguncang-guncangkan badan Ummi. Tapi ia sekalipun tak bergerak.
Setelah delapan tahun berlalu, rumah Ryan masih tampak seperti dulu. Masih bergaya 80’an. Halamannya di penuhi berbagai tanaman. Dan pohon kuping gajah kesukaan Ummi masih tumbuh subur di
“ Assalamualaikum Ummi...”, sapanya santun. “ Waalaikumsalam....”, balas Ummi lembut seraya mencium pipi anaknya.
Ryan senang bukan main kembali ke tanah air, setelah mendapat beasiswa S2 di Jerman. Ia puas dan gembira bertemu lagi dengan Ummi dan Rama. Apalagi melihat senyum Ummi yang kini lebih berbinar. Ummi seperti tidak punya beban sama sekali. Memang setelah kejadian perkelahian Ryan dulu dengan Abbi yang membuat Ummi masuk rumah sakit, membuat Ryan tersadar, kalau kebiasaannya larut dalam minuman keras atau narkoba demi pelampiasan semua masalahnya, akan menambah beban Ummi.
Ia juga akan menyakiti hati Ummi karena tidak bisa menjadi anak yang baik dan sholeh, seperti idaman Ummi. Setelah itu Ryan mulai berhenti sendiri dan meninggalkan semua barang haram itu. Tidak cuma Ryan yang menyesal, tapi juga Abbi. Setelah berkali-kali menyakiti hati Ummi, Abbi tak lama menceraikan istri mudanya. Abbi kembali ke rumah dengan pribadi yang baru, yang lebih baik. Tapi setahun kemudian beliau meninggal.
Rama menawarkan Ryan untuk mengantar naik motor. Tapi Ryan menolak dengan halus. Ia hanya ingin berjalan sendiri. Dan di sini, di jalan setapak ini, ia merasa kenal dengan jalanan beraspal yang dulu pernah ia lewati. Ryan menghentikan langkah, beberapa langkah tak jauh darinya, ia melihat sebuah gereja besar. Gereja itu bertuliskan “ Gereja Katolik St.Fransiskus Asisi “. Tiba-tiba ia teringat seseorang. Seseorang yang lekat dengan gereja itu. Terdiam sesaat, Ryan membalikkan badan. Ia berbalik arah.
“ Ryan...? Ryan
“ Heey..gue Fransiska.., masih ingetkan ? “.
Fransiska dan Ryan lalu berjalan menuju taman tak jauh dari tempat mereka bertemu. Fransiska seperti biasa, selalu banyak omong.
“ Setelah di titip di biara, setahun kemudian Sabina di jemput pulang Ayahnya. Dan enggak lama menikah dengan Lukas. Aku sendiri yang jadi pengiring pengantinnya. Romo Markus yang menikahkan di gereja kami.., tapi baru setahun menikah Ayahnya Sabina meninggal kena serangan jantung. Dan selama empat tahun menikah, mereka enggak punya anak. Lukas pernah tanya sama aku, siapa sebenarnya laki-laki yang pernah di cintai Sabina?, karena Lukas merasa selama menikah, Sabina tidak pernah mencintainya, padahal ia adalah istri yang rajin juga baik.
Dan selama empat tahun itu pula Lukas dan Sabina bercerai, dan Sabina kembali ke rumah Ibunya. Tapi entah kenapa sudah dua tahun ini Sabina menghilang, orang-orang bilang dia stress karena bercerai dengan Lukas. Aku pernah tanya ke Ibunya, kemana sebenarnya Sabina ?, tapi beliau cuma bilang, Sabina berada di tempat yang tenang, yang bisa mendamaikan hatinya “.
Ryan masih terus mengingat cerita Fransiska. Selama ini ia memang tidak pernah lupa dengan Sabina, gadis yang sangat ia cintai. Selesai Sholat maghrib, Ryan khusyuk berdoa. Dan melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Dibacanya
“ Ooh Ryan.., lama sekali kau tak pernah ke sini ? “, tanya Ustadz Habsy seraya memeluk anak didiknya itu. “ Betah kau yah di negri orang ? “, godanya dan mempersilakan Ryan masuk ke dalam rumahnya yang asri. Rumah Ustadz Habsy memang asri dan berudara sejuk. Mungkin karena terletak di daerah pegunungan. Semua pemandanganpun terlihat hijau dan menenangkan hati. Ryan memang akrab dengan suasana rumah Ustadz yang terletak masih satu komplek dengan pondok pesantrennya. Ia dulu pernah menimba ilmu di sini.
“ Bagaimana kabar Ummi ? “, tanya Ustadz.
“ Alhamdulillah baik Ustadz.., Rama juga sehat, ia juara kelas untuk yang kesekian kalinya..”, cerita Ryan. “ Alhamdulillah....”, ujar Ustadz bersyukur.
“ Oiya Yan.., beberapa bulan lalu, sebelum kau pulang, Ummi pernah datang ke sini. Beliau banyak cerita.., katanya beliau pengen sekali kalau kau pulang nanti, bisa segera menikah.., sudah tak sabar rupanya Ummi kau pingin cepat punya menantu, tu...”, goda Ustadz Habsy dengan logat melayunya yang kental.
Ryan hanya tertawa dan tersipu agak malu. “
“ Kau mau tidak aku kenalkan dengan seseorang ?, istriku punya anak didik, anaknya cantik dan sopan. Namanya Saffa.., Umurnya ku rasa tak jauhlah denganmu.., dia baru dua tahun tinggal di pesantren ini, tapi perempuan ini baru setahun jadi mualaf..”, cerita Ustadz Habsy lagi.
“ Mualaf..? “, tanya Ryan heran.
“ Iya.., dua tahun yang lalu, istriku menemukan dia termenung sendirian di taman di
Ryan menunggu dengan tenang di ruang tamu rumah Ustadz. Secangkir teh manis hangat, ia cicipi sekali-kali. Ustadz Habsy juga sudah menunggu bersama Ryan. Tapi istri Ustadz belum juga datang. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 13.00 . Handphone Ustadz tiba-tiba berbunyi. Ustadz mengecek sms yang masuk. “ Sebentar lagi istriku datang, mereka baru selesai sholat dzuhur “, beritahu Ustadz.
“ Assalamualaikum....”, suara lembut dan santun Ustadzah Noor, istri Ustadz Habsy terdengar dari dalam rumah. Ia kemudian masuk dan segera mencium tangan suaminya.
“ Waalaikumsalam...”, jawab Ustadz dan Ryan berbarengan. Wanita berjilbab putih mengikuti istri Ustadz di belakang. Ia berjalan sambil menunduk.
Ryan yang penasaran, mencoba memperhatikan wajah wanita itu. “ Ryan..., lama kita tak bertemu, sudah sukses sekarang, Nak ? “, tanya istri Ustadz ramah. “ Alhamdulillah Ustadzah Noor...”, jawab Ryan.
Ustadzah Noor duduk di depan suaminya. “ Ini yang namanya Ryan.., pria yang ingin kami kenalkan..”, kata Ustadzah Noor pada Saffa yang sudah duduk di sampingnya. Saffa lalu mendongakkan kepalanya sedikit, ia ingin melihat pria yang sering di ceritakan oleh Ustadzah Noor, gurunya yang banyak cerita tentang islam dan wanita. Saat Saffa mendongakkan kepalanya, Ryan yang kaget, tak henti memandang paras cantik wanita berjilbab putih yang ternyata selama ini selalu ada di bayangannya. Wanita bernama Saffa itu, sering ia lihat di mimpinya. Dan wajah ayu’nya sama sekali tidak membuat Ryan lupa sedikitpun, walaupun sekarang ia berkerudung.
“ Dulu nama Mbak Saffa adalah Sabina, tapi semenjak jadi mualaf, namanya diganti jadi Saffa Madina...”, cerita Ustadzah Noor lagi pada Ryan. Saffa yang juga terlihat kaget, berusaha tenang. Ia tersenyum pada Ryan. “ Assalamualaikum Ryan...”, ucapnya halus. Ryan tak percaya akan wanita yang dulu pernah ia cintai, sekarang berada di hadapannya dengan tampilan yang lebih menawan.
Ryan tersenyum tanpa kata. Ia terus menatap Sabina yang kini bernama Saffa dengan penuh kerinduan. Ia kini mengerti akan jawaban doanya selama ini. Tuhan telah mengabulkan doanya untuk bertemu kembali dengan wanita yang tak pernah luput ia lupakan. Dan Tuhan telah memberinya bonus. Bonus seorang wanita muslimah yang selama ini ia cari. Seorang wanita bertasbih coklat kayu di pergelangan tangannya.
The End