JULIA, “ THE KONDANGAN FREAK ” MENCARI CINTA..
“Saya terima nikahnya Laura Sastrawijaya binti M.Sastrawijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat,cincin emas seberat 10 gram dan uang tunai sebesar Rp.20.000.000”
“Bagaimana saudara-saudara sekalian?SAH??”
“Saaaahhhh......”
“Apakah anda Andrew Wongkay bersedia menikahi Chathalina Ruth Pesolima sebagai istri di saat susah,sedih,senang dan menderita sampai akhir hayat?”
“saya bersedia....”
“dengan ini saya sahkan kalian berdua sebagai pasangan suami-istri,silakan mencium pengantin wanita...”
Itu kata-kata yang paling wajib di ucap setiap pengantin di acara-acara sakral yang bernama Pernikahan,entah kenapa aku selalu senang dan khusyuk mendengarkan setiap pasangan pengantin mengucapkan janji suci sehidup semati kepada orang yang akan menghabiskan seluruh hidupnya dengan pasangannya.Makanya sedari kecil aku selalu ngotot ikut di setiap acara pernikahan,dari pernikahan saudara-saudaraku,tante-tante,om-om,teman orang tua,temanku sendiri,bahkan tetangga dekat maupun jauh,setiap undangan yang mampir ke rumah aku selalu menyempatkan diri untuk datang hanya demi menikmati sakralnya akad nikah maupun suasana megah tempat resepsi.
Dan entah kenapa aku selalu menikmati dan merasakan chemistry di setiap resepsi pernikahan yang ku datangi, karena selain bisa terinspirasi untuk resepsiku kelak juga bisa mencari jodoh, dari dulu aku selalu mempunyai feeling, suatu saat pasti aku ketemu dengan jodohku di acara pernikahan, dengan kata lain “ Kondangan” adalah hobi terberatku selain bermain dan bercanda dengan kucing blaster kesayanganku Junjun.Aku selalu tidak pernah merasa keberatan jika harus menyiapkan sejumlah uang untuk angpao pernikahan. karena kurasa angpao dengan hidangan plus suasana sakral dan meriahnya di setiap resepsi itu sebanding.
Mungkin hobbiku itu termasuk unik dan aneh, di saat setiap orang yang menerima undangan pernikahan dari seseorang yang kurang dekat, dengan malasnya mereka tidak akan datang karena alasan tidak terlalu kenal, sedangkan aku....setiap undangan yang datang ke rumah aku selalu bersemangat melihat tanggal dan tempat resepsi maupun itu di dalam kampung, garden party di kelilingi kebun teh di puncak, di gedung mewah bertahtakan bunga-bunga mahal dan wangi, di hotel maupun di rumah yang selalu tak henti-hentinya para tetangga datang karena tak di batasi oleh waktu.
Maka dari itu semenjak usia 8 tahun aku sudah merencanakan sebuah acara pernikahan,tetapi tempat resepsi idaman masih ku cari sampai saat ini. Sebagai Penikmat Kondangan Sejati, aku selalu mempertimbangkan tempat-tempat resepsi yang cocok dengan keinginanku.
Tapi sayangnya hobiku ini selalu di anggap aneh oleh sahabatku sendiri Joshua, teman kecil bule kampungku yang blaster belanda-padang, dia selalu menganggap hobiku ini konyol, ditambah dulu sewaktu kakak perempuannya menikah, aku ngotot minta di ikut sertakan sebagai pengiring pengantin, yup..dan itu tanpa di minta aku rela menyediakan waktuku selama dua jam untuk menikmati megahnya pesta pernikahan dengan berdiri di panggung.
Dan saat itu Joshua hanya geleng-geleng kepala dan selalu berkata “ dasar aneh....”. Sampai saat inipun, saat kami sudah beranjak 25 tahun,dia masih menganggap hobiku ini sangat konyol dan cukup memuakkannya,karena setiap aku menghadiri pesta pernikahan aku selalu mengajaknya paksa sebagai pasanganku,dan itupun dengan ancaman persahabatan kami selama ini akan hancur berantakan dan aku takkan mau bertemu dengannya lagi jika dia menolak ajakanku.Yaaahhh..ancaman yang cukup koyol juga sih...tapi toh akhirnya Joshua akan selalu menyerah dan menerima ajakanku dengan berbagai kutukan yang selalu terlontar dari bibirnya.
Sebenarnya kenapa aku selalu mengajak Joshua..? itu karena biar aku terlihat menggandeng seorang pria tampan dan terlihat “laku” sebagai perempuan lajang.
Yaaahh...bukan karena pria lain tidak tampan,tetapi memang hanya Joshualah yang hanya bisa menerima hobiku ini, karena setiap pria lain yang sedang dekat denganku selalu berakhir ketika mereka tahu aku hobi kondangan dan sudah merencanakan pernikahan dan siap berkomitmen bahkan pernah ada yang memutuskan pergi tanpa berita.
“Julia..,kamu sekarang seharusnya serius mencari pasangan segera lho..” pendapat Joshua kepadaku saat kami menghadiri pesta pernikahan teman kantorku.Sepertinya dia menangkap wajah seriusku saat aku sedang asyik memperhatikan pasangan pengantin dan menikmati suasana dan dekorasi pesta tersebut.
“ Haa..? apa..? pasangan?? sedang kucari kok...” kataku beralasan.
“ Kapan kamu carinya..??” selidik Joshua.
Aku menoleh ke arahnya, mengeryitkan dahi dan bertanya-tanya tumben sekali sahabatku ini menanyakan hal itu.
“ Yaaaa...pokoknya sedang aku cari..cumaaaa belum ada yang cocok aja..”alasanku lagi. Joshua memandangku serius..,” bener sudah kamu cari..?”
“ Apa sih jo...? tumben banget kamu nanya seperti itu.., kamu udah bosen yah nemenin aku kondangan terus..???” aku tiba-tiba kesal di buru pertanyaan yang menurutku tidak penting itu.
“ Bukaaann Jul...tapi.., aku engga akan selamanya lho nemenin kamu kondangan terus”, jelas Joshua.
“Memangnya kamu mau kemana?” tanyaku. Joshua hanya terdiam.
“Ooohh... jangan-jangan kamu udah punya cewek yah Jo?” tanyaku tiba-tiba.
Joshua tidak menjawab,kemudia berkata,” forget it....”.
Akupun hanya mengangkat bahu tanda lupakan saja obrolan tadi.
Setiap minggu sore selalu kusempatkan untuk berolah raga ringan di teras atas rumah,kegiatan ini sudah rutin ku lakukan selama setahun terakhir ini, karena aku paling malas bangun pagi, maka satu-satunya waktu yang pas untuk menyehatkan badanku yaitu pada sore hari. Cuaca sore ini tumben panas sekali, ku rasa cukup selama 20 menit aku melakukan stretching, lompat tali dan sedikit push-up, akupun segera melepas lelah dan mengambil segelas air dingin dari kulkas.
Saat merebahkan badan di sofa, ku lihat selembar undangan pernikahan berwarna ungu muda tergeletak di atas meja. Segera ku ambil undangan itu, hmmm..cukup manis, pikirku mengamati warna dan bentuk undangan yang berbentuk bunga mawar itu. Tertulis : “Reyhan dan Rossa“.Aku terbelalak, “whattt??? Rossa??? Rossa sepupuku yang masih berumur jagung itu..??? “ pikirku tak percaya.
“ Jangan kaget gitu dong Julia..” suara mama tiba-tiba tambah mengangetkanku
“ Ma...ini beneran..???” tanyaku tak percaya.
“Yaa....iya beneran, orang undangannnya udah ada di depan mata kok masih di bilang bohongan sih, sayang..???” cetus mama
“Tapi
“ Iya..seumur jagung itukan baru kemarin, sekarang dia
“ Rossa itu sudah ketemu jodohnya Jul..” kata mama mulai bercerita.
“ Di jodohkan sama teman papanya, Reyhan itu sudah mapan,religius dan siap cari istri, kebetulan di kenalkanlah sama Rossa, karena Reyhan muslim sejati, makanya sistim pacaran mereka ala Ta’aruf...”
“ Kaya Fachri yang di ayat-ayat cinta???” kataku tak percaya.
“ Semacam itulah..perkenalan mereka cuma 3 bulan kok..dan Rossa ternyata juga sreg jadi di lanjukanlah hubungan mereka ke arah yang serius, biar cepet halalan toyyiban..” kata mama bercanda lagi....
“ Tadinya mama ga nyangka juga Rossa mau cepat menerima pinangan orang, tapi yah namanya jodoh..siapa yang bisa sangka..??” kata mama lagi sambil memandang putus asa ke arahku.., aku sontak kaget melihat ekspresi mama yang terkesan kecewa karena “sepupu remaja” ku melangkahi kakak sepupunya menikah.
“ Kok ngeliatin aku kaya kecewa gitu mah...” tanyaku segera.
Mama hanya mesem-mesem sambil menghela napas.
“ Habisss....desperate nungguin kamu dapet jodoh” kata mama sambil berpura-pura melihat-lihat majalah.
Aduuuh..aku merasa bersalah juga karena sampai sekarang belum-belum juga aku membawa pacar ke rumah dan mengenalkannya ke mama dan papa.., “ kecewa juga Jul..ternyata calon suaminya Rossa lebih memilih Rossa daripada kamu...” terang mama. Apppaaaa......????? lho..lhoo..lho..kok bisa namaku di bawa-bawa???,
“ Tadinya papanya Rossa mau ngenalin Reyhan ke kamu..katanya mungkin cocok karena kalian kan sudah sama-sama dewasa...ternyata eehhh ternyata mama ga sengaja bilang kalo kamu itu hobinya suka ngasih angpao alias kondangan, sebulan bisa 5-6 kali mejeng di resepsi orang apalagi kalo musim kawin, eeehhh...keanehanmu itu yang ga bisa diterima sama Reyhan jadinya berpalinglah dia ke Rossa yang di anggap punya hobi yang lebih manusiawi...”, tiba-tiba hatiku tertusuk mendengar cerita mama, “ kok gitu sih ma..
Aku masih saja memikirkan perkataan mama kemarin sore, sambil menyeruput cappucinno, kulihat jam yang terpasang di dinding café, seharusnya Joshua sudah datang,pikirku..sudah 2 bulan ini Joshua pergi keliling pulau jawa untuk memotret gedung-gedung tua yang memang sudah menjadi hobinya dari dulu dan dia selalu bilang ingin menjelajahi jejak leluhurnya dulu sewaktu orang-orang belanda hijrah ke
Café ini dekorasinya sangat antik, semua ornamennya bernuansa zaman kolonial, di tambah terpajangnya foto-foto hitam-putih suasana
“ Haaiiiii...Jul...” tiba-tiba suara Joshua membuyarkan perhatianku, ciuman kecil mendarat di pipiku...uuppss...tunggguu..tunggu...ciuman kecil??? tumben sekali Joshua menciumku, dari dulu jika kami sudah lama tidak bertemu, biasanya Joshua akan menjitak kepalaku sambil tertawa tanda rasa kangennya, tapi sekarang...kok pipiku di cium..???
“Heeheeehee....akhirnya balik juga ke
“ Jul...heeyy...Julia...hhmmm...kaget di cium pipinya? kaya belum pernah di cium cowo aja” kata Joshua lagi..aku tersadar, “ abiis..tumben banget sih kamu pake nyium-nyium segala...” belaku..” abiiss kangen juga..” kata Joshua lagi..
Sudah hampir 2 jam kami mengobrol di kafe ini, Joshua banyak bercerita tentang pengalamannya selama Java Tour, berlembar-lembar foto dia tunjukkan kepadaku.
“ kamu harus coba masuk ke museum kolonial deh jul...” ide Joshua
“baguusss banget...artistik dan sangat sangat antik..apalagi
“ Beneran jul..??? tanya Joshua ga percaya.
“ Iya...kayanya menarik....” kataku
“ Boleehhh...tapi hobimu kondangan gimana?”
“ Itukan ga setiap hari..kalo kondangan demi mencari soulmate’ku sih teteeupppp” kataku sambil tersenyum, Joshua hanya tertawa kecil.
“Oya..gimana kalo sekarang aja? mumpung kita di sini, kebetulan di samping kafe
Bak seorang guide tour tiba-tiba Joshua bersemangat mengajakku berkeliling menjelajahi
Sudah hampir sebulan aku dan Jo menyalurkan hobi sebagai penjelajah
Dan semenjak aku sudah mengagumi keindahan museum-museum tua itu, aku akhirnya menemukan ide..suatu saat nanti resepsi pernikahanku akan aku adakan di museum saja..yaaa betul..
“ Siaaalll..kenapa bisa lupa, kalo menikah itu harus ada calonnya..???” karena sampai sekarang aku belum juga menemukan seseorang yang bisa mengabulkan keinginanku untuk menikah di museum, bukan hanya itu tentu saja seseorang yang juga sangat mencintaiku.
Entah kenapa hari ini aku tidak bersemangat, padahal hari ini hari bahagia Rossa sebagai pengantin, seharusnya aku menjadi salah satu panitia, Rossapun sudah menyangka aku bakal bersedia sepenuh hati menjadi pendamping pengantin wanita tanpa di minta, tapi kini aku menolaknya dengan halus, saat inipun aku hanya memakai kebaya brukat yang dulu pernah kupakai waktu pernikahan kakak perempuannya Jo, make-up aku lakukan sendiri, entahlah hari ini aku malas make-up ke salon, dengan di temani Jo aku datang ke resepsinya Rossa, dia sangat cantik, dengan mengenakan kebaya ungu ke’emasan kontras dengan undangannya dulu Rossa berdiri dengan anggun menyalami semua undangan, aku terperangah dan tiba-tiba saja iri melihat kebahagiaanya. Jo yang melihatku murung langsung mencium pipiku...lagi.., aku yang tersadar tiba-tiba menarik perhatiannya.
“ Kamu jealous yah..” tanyanya...adduuhh..sial kenapa sih Jo selalu bisa membaca pikiranku? jangan-jangan dia punya indra ke’enam? cuma saja dia tidak pernah mau cerita-cerita, pikirku. Aku mengangguk.
“ Kenapa ga kamu cari aja di sini jul..? lihat deh di sekeliling..banyak lho cowo-cowo cakep..dan aku rasa hampir semuanya bisa mampu mewujudkan keinginanmu menikah di museum...” kata Jo, woow..benar..banyak sekali eksekutif-eksekutif muda di sini, dan hampir semuanya terlihat borju, tapi entah kenapa aku tidak berminat menebar pesona ke mereka. aku masih saja diam, tidak seperti biasanya aku selalu heboh jika datang ke resepsi pernikahan, kali ini aku ingin cepat-cepat pulang.
“ Lagi ga minat Jo...udah ah..nanti-nanti aja nyari cowonya..aku pengen cepet pulang nih...pulang yuk...” ajakku. sebelum aku melangkah keluar Jo menarik tanganku.
“ Nanti aja Jul....aku yakin di sini pasti ada jodohmu..” kata Jo beralasan.
“ Mana buktinya..???” kataku sambil melihat ke sekeliling pria-pria yang berada di ruangan ini, Jo terdiam.
“ Buktinya nih...ada di sini....” kata jo sambil menunjuk dirinya.
aku langsung tertawa...lelucon yang ga lucu ah...
tiba-tiba tangan kanan Jo mengelus pipiku...dan tangan kirinya memegang erat tanganku, dengan wajah serius Jo mulai berkata....
“ Julia..aku tau ini sangat dadakan..tapi kamu harus tahu kalo ini serius...sangat-sangat serius...selama ini aku sangat nyaman berada di sisi kamu..dan 2 bulan kemarin waktu aku java tour, aku merasa ada yang kurang...aku tahu selama ini kita hanya bersahabat, dan aku rasa yang benar-benar bisa mengerti aku luar dalam cuma kamu, kita selalu menghabiskan waktu berdua..dan aku ingin itu berlangsung selamanya, aku ga ingin perempuan lain yang menggantikan kamu sebagai sahabat, juga seseorang yang berarti buatku, juga aku ga ingin laki-laki lain yang menggantikan aku di hati kamu.Intinya Jul....I Love You...., bukan cuma buat hari ini..tapi dari dulu dan selamanya...”. Jo menatapku mesra, wajah gantengnya semakin terlihat jika dia mulai berekspresi serius dan menunggu jawabanku dengan sabar. Wajahku sontak merona.Aku yang terkaget-kaget dengan pengakuannya hanya bisa memeluknya dengan erat.
“ Museum Fatahillah sudah Ok...katering juga sudah fix bisa menyiapkan menu-menu kuno yang kamu minta...” kata Jo sambil menutup laptopnya.
“Baju pengantin ala bangsawan dan Noni Belanda juga tinggal tunggu jadi kok..untung desainernya menyanggupi yah..dan kita tinggal fitting aja...” kataku sambil membolak-balik undangan ala kerajaan belanda lengkap dengan lambangnya yang berwarna hijau gradasi merah, ok..tidak ada yang kurang..undangan sudah perfect...pikirku. “Untung keluarga kita ga nolak di pakaikan baju menneer..” kata Jo tersenyum kepadaku...Aagghhh...bahagianya...akhirnya aku menemukan jodohku..dan benar saja aku menemukannya di saat kondangan, yang tak ku sangka ternyata jodohku adalah Joshua Ribaldy Van Wijk, laki-laki yang pernah mengajukan diri menjadi wedding fotographerku dan sahabat kecilku yang ternyata selama ini mencintaiku dan mampu mewujudkan keinginanku mengadakan acara pernikahan di museum.
Ternyata Jo yang bisa mengerti dan dengan senang hati mengabulkan ide-ide anehku, tadinya aku bersikeras menggunakan dress code kostum ala Meneer belanda dan Nyai Dasima kepada para undangan, dan Jo membujukku halus. ” Jangan sayang... bisa-bisa tak satupun undangan yang hadir, kamu mau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar