
GRIMALD SI PENYIHIR BATUK
Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang penyihir baik hati yang bernama Grimald, ia selalu membantu orang-orang desa yang membutuhkan bantuannya. Siang maupun malam, hujan deras maupun terik, badai salju maupun hujan angin, Grimald tak segan akan pergi ke rumah orang-orang desa untuk membuatkan ramuan untuk orang-orang yang sedang sakit. Untuk itulah orang-orang desa sangat bergantung kepadanya.
Pada hari yang terik datanglah seorang nenek tua yang tergopoh-gopoh, ia mengetuk pintu rumah Grimald yang terbuat dari kayu, Grimald yang sedang membuat ramuan segera membukakan pintu.
“ Tolong aku Grimald...cucuku sedang sakit keras, panas badannya tidak turun juga dari dua hari yang lalu, bahkan tubuhnya selalu menggigil..” kata sang nenek sedih. “Jika ia terus sakit, cucuku tidak akan bisa bekerja , dan kebun coklat tidak akan bisa kami panen..” lanjut sang nenek. “ Tenang saja nek..akan aku buatkan ramuan untuk menyembuhkannya..” kata Grimald, ia pun segera mencari bahan-bahan obat di rak ramuannya yang berjejer rapih. “ Akar-akaran, beberapa pucuk tanaman langka, sedikit cengkeh dan bla..bla..bla...” tangan Grimald sibuk membubuhkan beberapa jenis tanaman ke dalam kuali, mulutnya’pun ikut berkomat-kamit mengucapkan mantra.
Tak lama Nenek yang sedang menunggu di ruang tamu dengan gelisah tiba-tiba merasa tenang ketika melihat Grimald datang dengan membawa sebotol ramuan. Dan Grimald segera memberikan botol ramuan itu kepada sang nenek.
“ Berikan botol ini kepada cucu’mu, ia harus minum ramuan ini pada siang dan malam, dan jangan lupa ia harus banyak beristirahat.” anjur Grimald. Nenek pun langsung menyimpan ramuan itu ke dalam tas’nya dengan berhati-hati agar tidak pecah. “ Terima kasih banyak Grimald..kau memang penyihir yang baik hati.” kata sang nenek. Tetapi sebelum ia sempat keluar rumah, tubuh sang nenek tiba-tiba terkulai lemas, rupanya ia kelelahan karena sudah berjalan jauh. Grimald yang iba segera memberikan segelas air segar, dan ia’pun langsung mengambil tongkat ajaibnya. Dan blaaammmm....tiba-tiba seekor burung gereja yang baru saja melintas di atas rumah ia ubah menjadi seekor keledai. Tak lama Nenek yang sudah merasa lebih segar duduk di atas keledai yang sudah siap mengantarnya ke rumah di desa tetangga. “ Keledai ini cukup kuat dan bisa berjalan cepat, ia bisa membawamu ke rumah tepat waktu, sehingga kau bisa segera memberikan ramuanku untuk cucumu yang sedang sakit, dan ketika kau sudah sampai di rumah, keledai ini akan menjelma kembali ke wujud asalnya...” terang Grimald. Nenek’pun mengangguk dan keledai segera membawanya kembali pulang.
Grimald segera masuk ke rumah..ia memutuskan akan beristirahat sebentar diranjang kayunya yang tergantung di antara tiang-tiang, ranjang itu bisa bergoyang ke kiri dan ke kanan persis seperti tempat tidur bayi. Grimald memang sengaja membuatnya seperti itu agar ia bisa tidur dengan lelap.
Belum lama ia menutup mata, tiba-tiba pintu rumahnya kembali ada yang mengetuk, Ghogo si kucing peliharaan berbulu abu-abu lebat meloncat ke atas tubuh Grimald, ia mengeong-ngeong, memberitahukan Grimald bahwa ia kedatangan tamu. Grimald yang juga mendengar ketukan segera bangun dan membukakan pintu.
Di depan pintu berdiri seorang lelaki, rupanya ia seorang petani dari desa sebrang,
” tolong aku Grimald..ladang sayurku di penuhi oleh tikus-tikus tanah, padahal aku sudah berusaha mengusir mereka berulang-ulang kali, tetapi mereka terus saja memakan semua sayuranku bahkan jumlah mereka semakin banyak , jika terus seperti ini, ladang sayurku bisa hancur dan tidak bisa ku jual ke pasar..dan aku tidak akan bisa memberi makan istri dan anak-anakku...” kata lelaki itu putus asa. Grimald segera masuk kembali ke dapur tempat ia meramu obat-obatan. Ia kembali membuat ramuan, tak lama ia keluar dari dapur dan menemui si petani.
“ Aku akan ikut ke ladang sayuran’mu...” kata Grimald.
“ Boleeh...tentu saja aku akan mengantarmu ke sana” ajak si petani.Grimald segera memakai jubahnya juga topi panjang khas para penyihir.
Tak lama ketika mereka sampai di ladang, si petani segera memperlihatkan kondisi ladangnya yang hancur berantakan, beberapa tanahnya mengering dan bolong-bolong, sayur-sayuran yang tadinya tumbuh segar terlihat layu dan rusak bahkan beberapa sudah ada yang membusuk. Grimald menggeleng-gelengkan kepala, “ hhmm..tikus-tikus ini nakal sekali...” gumamnya. Grimald kemudian mengeluarkan sebotol ramuan yang berupa bubuk dari dalam tas. Ia sebarkan bubuk itu di sekeliling ladang sambil mengucapkan mantra, “ geraldimus growfasshaaa.....shuup..shuuup”
Dan blaammmm..tiba-tiba sayur-sayuran yang hampir mati itu berubah tumbuh menjadi segar kembali, wortel, brokoli, selada, sawi, terong dan beberapa sayuran lainnya tampak begitu cantik karena warnanya yang berwarna-warni.
“ Sekarang tinggal tikus-tikus yang ku beresi ” kata Grimald. Ia mengeluarkan sebuah suling bambu kecil dan meniupnya, “ swwinnggg...swwinngg...” bunyinya yang nyaring bersuara mengelilingi ladang, beberapa saat kemudian muncullah tikus-tikus dari dalam tanah, tikus-tikus itu mencari asal suara. Grimald segera menghentikan bunyi suling itu. “Massshaamala rattatius....” dan tiba-tiba tikus-tikus tanah itu berubah menjadi orang-orangan sawah, mereka berdiri tegak di atas ladang.
“ Orang-orangan sawah ini akan membantumu mengusir burung-burung gagak..” kata Grimald kepada si petani. “ Ooohh..terima kasih Grimald...terima kasih banyak...” ucap si petani. Grimald pun pamit pulang dan kali ini ia pulang tidak dengan tangan kosong, si petani menghadiahi sekeranjang besar sayur-sayuran segar dari ladangnya sebagai ucapan terima kasih.
Sepulangnya dari ladang tiba-tiba kerongkongan Grimald merasa gatal dan ia kemudian terbatuk-batuk. Grimald mencari bahan-bahan untuk di buat ramuan yang bisa menghentikan batuknya. Tetapi kali ini ia gagal. Setelah mencoba beberapa kali ia masih saja terbatuk-batuk, bahkan ia tidak bisa tidur karena kerongkongannya seperti di penuhi akar berduri dan batuknya semakin mengganggu kehidupan Grimald. Ia jadi tidak bisa tidur, memasak bahkan membuat ramuan.
Dan suatu hari seorang gadis kecil lewat melintasi rumah Grimald. Ia bermaksud pergi ke rumah kakeknya membawa sekeranjang limun segar. Langkahnya terhenti karena mendengar suara batuk Grimald. Gadis kecil itupun kemudian berniat mendatangi rumah Grimald.
“Permisiiii....” sapa gadis kecil. Namun tidak ada jawaban, yang ada hanya suara yang terbatuk-batuk, “ halloo..apa di sini ada orang??” tanya gadis kecil itu lagi.
“ Meeooong......” Ghogo kemudian menghampiri si gadis kecil dan berputar-putar manja di kakinya. “ Oohhh..halo kucing manis...” sapa gadis kecil ramah. Ia kemudian menggendong Ghogo. “ Suara batuk siapa itu...?” tanya gadis kecil sambil mengelus-elus Ghogo. Si gadis melongok ke arah dalam rumah dan mencari-cari dimana suara batuk itu berada. Tiba di dalam kamar, gadis kecil melihat Grimald yang sedang terbatuk-batuk duduk di atas kursi goyang, ia tampak lemas dan tidak sehat. Gadis kecil menghampiri Grimald, “ apa kakek sedang sakit..?” tanyanya. Grimald mengangguk, “ batukku tidak mau berhenti ” kata Grimald, “ dan tenagaku sudah hampir hilang...” keluhnya lagi. Si gadis merasa iba.
“ Apa kakek mau limun..? kata ibuku air limun bisa menghentikan batuk”, tawar gadis kecil. “Limun...? kenapa aku tidak berpikir sebelumnya? tapi apa benar-benar manjur?” gumam Grimald. Grimald yang terbatuk-batuk menggangguk kepalanya tanda setuju. Si gadis kecil kemudian mengambil beberapa buah limun dari dalam keranjang, dan ia peras airnya ke dalam gelas. Beberapa menit kemudian gadis kecil memberikan segelas penuh limun kepada Grimald.
“ Kakek bisa meminumnya, agak asam sedikit tapi rasanya cukup segar, aku yang menanamnya sendiri di kebun...” cerita gadis kecil itu. Grimald segera meminum air limunnya sampai habis. Rasanya memang sedikit agak asam tetapi jika di ke’cap,airnya bisa terasa manis. “ Dan sekarang kakek bisa tidur dengan nyaman..dan aku akan segera pulang..” kata gadis kecil sambil menyelimuti tubuh Grimald dengan selimut. ” Terima kasih banyak gadis kecil..kau baik hati sekali..” kata Grimald berterima kasih dan ia pun segera tertidur tanpa menanyakan nama si gadis kecil itu.
Esoknya ketika Grimald terbangun suara batuknya telang hilang, ia coba mengeluarkan suara, dan senangnya suara Grimald sudah kembali, dan tenggorokkanya juga sudah tidak gatal lagi. Dalam hati Grimald berterima kasih kepada si gadis kecil, apa dia seorang malaikat? entahlah datang dari mana dia. Yang pasti mau manusia ataupun penyihir sekalipun jika kita mau berbaik hati menolong orang lain suatu saat jika kita sedang kesusahan pasti kita akan di bantu oleh orang lain juga. Dan Grimald pun yang sudah pulih dan hilang batuknya, kembali ke dapur membuat ramuan dan kembali menolong orang lain yang membutuhkan bantuannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar