MAU TAPI MALU.
“ Aku sudah enggak bisa lagi sama kamu...”. Klik SEND. Mesagges is delivered.
“ Raa...!! “. Oyan berlari tergopoh-gopoh mengejar Raia di koridor sekolah. Tapi Raia enggan menoleh. Ia terus saja berjalan santai sambil memegang beberapa LKS di tangannya. “ RAIA...!! “, panggil Oyan lagi dengan nada agak keras setelah berkali-kali ia memanggil cewek manis yang sudah enam bulan ini jadi kekasihnya, tapi gadis tinggi semampai itu tidak juga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Oyan.
“ Raa....!! please.., apa maksud dari sms kamu tadi malam? “, tanya Oyan dengan napas tersengal-sengal karena berlari mengejar Raia. “ Kamu tahu
“ Aku udah enggak mau pacaran sama kamu lagi, Yan..”, Raia mulai berkata dengan ekspresi serius. Matanya memandang sayu ke arah wajah bingung Oyan. Pandangan sayu khas Raia adalah ia memohon untuk segera melepas masa pacarannya dengan Oyan.
“ Taa..tapi...”, Oyan enggak mampu berkata-kata. Ia menangkap ekspresi memelas Raia.
“ Yan.., thanks yah.., selama ini kamu udah jadi cowok yang baik, tapi kita udah enggak bisa bersama-sama lagi...”, ucap Raia lembut sambil terus menatap Oyan. Dan Oyan yang luluh dengan tatapan Raia hanya bisa mengangguk dan terus memandangi gadis itu melangkah pergi meninggalkannya.
“Gila lu, Ra..., segampang itu Oyan mau di putusin sama elo? “, tanya Gilli kaget saat mendengar cerita kandasnya hubungan
Raia juga mudah jatuh cinta. Mudah pula merayu cowok dan membuat para cowok-cowok lajang itu bertekuk lutut padanya. Raia punya seribu cara untuk meluluhkan mereka. Dan itu salah satu keahlian Raia yang selalu di kagumi oleh Gilli. Gilli tahu betul sifat sahabatnya itu. Jika Raia sudah putus dengan satu cowok, itu bisa di pastikan Raia sedang mengincar seseorang. “ Sooo....who’s the guy?”, tanya Gilli menyelidik. Ia terus menatap serius ke arah Raia. Tapi gadis yang di tanya itu malas mesem-mesem. “Hmm....Ivan!“, jawab Raia tersenyum. “Whaaattt....?,gila Ra...,si Ivan
“ Aku...., sudah lama suka sama Kak Ivan, tapi aku belum berani bilang..”, ucap Raia malu-malu. Ivan yang baru saja selesai latihan basket terlihat terkejut, tiba-tiba Raia sudah menunggunya di dekat lapangan dan memberinya sekotak bekal untuk makan siang juga sebotol air mineral segar. “ Makanya Kak.., aku selalu pakai gelang yang sama kalau Kak Ivan sedang bertanding..”, ucap Raia lagi seraya memperlihatkan gelang anyaman berwarna merah hati yang terlilit di tangan kanannya. Ivan bengong sambil menatap gelang di tangan Raia. Gelang merah hati itu mirip sekali dengan gelang yang sering di pakainya kalau sedang bertanding basket. Dan Ivan menganggap itu gelang keberuntungan. Dan sekarang di hadapannya sudah ada cewek cantik yang terlihat benar-benar menyukai dan nge’fans berat dengan dirinya. Sampai-sampai cewek itu punya gelang yang sama.
“Ra...,nanti malam aku telpon kamu lagi yah..”,kata Ivan tersenyum.Raia mengangguk. Pipinya masih merah merona. Karena tadi sepulang nonton film di bioskop,Ivan mencium keningnya. Dan Raia menyambut ciuman itu dengan terus menggandeng mesra lengan Ivan yang sekarang sudah menjadi pacarnya. Misi berhasil..!!.
Raia dan Gilli berkeliling ke berbagai rak novel di sebuah toko buku di mall. Mereka sibuk mencari novel teenlit terbaru. “Ra...,gue cari komik aja deh..”, kata Gilli yang belum menemukan teenlit yang menarik minatnya dan beralih pergi ke arah rak komik di ujung ruangan. Raia masih sibuk di rak yang menyediakan banyak novel. Ia teliti satu-persatu teenlit yang terlihat seru dan membaca sinopsis novel-novel remaja itu. Semuanya bagus-bagus. Dan rata-rata tema novel itu percintaan. Sesuai selera remaja. Saking banyaknya pilihan teenlit yang bagus, Raia jadi bingung memilih. Sudah ada enam novel yang ada di genggamannya, tapi ia harus memilih tiga di antaranya. Karena Mama tadi pagi sudah memberikan peringatan agar irit membeli novel. Karena novel-novel yang sudah Raia punya menumpuk dan memenuhi kamarnya. Mama pernah mengancamnya agar novel-novel itu di jual di loak atau di berikan ke perpustakaan sekolah. Tapi Raia menolak mentah-mentah. Karena ia begitu gemar membaca teenlit, karena menurutnya di novel-novel itu ia bisa mempraktekkan cara jitu punya pacar ideal.
“Pilih yang ini saja....”. Tiba-tiba ada suara cowok terdengar lembut di telinga Raia. Raia mendonggakkan kepala mencari si empunya suara. Dan bagai di sengat listrik, ia terdiam terpaku. Mulutnya terkunci rapat, tak mampu berkata untuk merespon suara cowok itu. Entah sekarang ada dimana? Raia tak ingat kalau sekarang ia berada di toko buku. Saat ia melihat sosok cowok tak di kenal itu, ia merasa ada di surga. Dan sekarang ada seorang bidadara berada di hadapannya. Atau mungkin cowok itu malaikat?. Entahlah...tapi yang pasti Raia terpana. Terpesona. Dan ada rasa suka yang menggila memenuhi hatinya.
“ Hah..? masa sih? kok gue enggak lihat? “, celoteh Gilli saat Raia menceritakan pertemuannya dengan cowok yang di sangka malaikat berwujud manusia itu. “Yaa ampun Gil...,cowok itu....”, Raia meringis. Bukan meringis kesakitan. Tapi ringisan penyesalan. Karena saat cowok itu berusaha berbicara dengannya, Raia hanya mampu berdiri terpaku dan sama sekali tidak merespon. Dan akhirnya pergilah cowok itu meninggalkannya sendiri di tengah novel-novel yang mengelilingi Raia siang itu. Dan Raia menyesal. Ia pasti tidak akan pernah bertemu dengan cowok tadi. Namanya saja ia enggak tahu, apalagi nomor handphonenya. Dan saat ini Raia hanya sibuk mengutuk dirinya yang begitu bertingkah bodoh di hadapan cowok yang benar-benar mempesona dirinya.
“ Waaaaahhh.....Uuuhh...hhhoooo...”, tiba-tiba semua murid perempuan di kelas Raia
bergemuruh berisik. “
“ Dandy...namanya Dandy....”, bisik anak-anak cewek di kelas. Tapi bisik-bisik tentang Dandy si anak baru bukan hanya terdengar di kelas Raia saja. Tapi sudah terdengar di seluruh sekolah. Semua anak cewek di sekolah Raia sibuk membicarakan tentang Dandy. Tentang ketampanannya, sifatnya yang ramah, senyumnya yang karismatik dan yang pasti tentang keputusannya untuk pindah sekolah di Singapura ke sekolah SMU Raia dan Gilli. Semua berita tentang Dandy tersebar ke seluruh pelosok sekolah. Dan yang paling gencar di bicarakan adalah statusnya yang single.
Dandy sekelas dengan Raia. Dan duduk tepat di sebelahnya. Untunglah teman sebangku Raia sedang ikut pertukaran pelajar di
Dulu Raia punya banyak cara untuk mendekati cowok. Dengan lincah dan manja ia akan sukses menggaet lawan jenis. Tapi kini, di depan Dandy, ia jadi begitu pemalu. Padahal tak bisa di pungkiri, Raia suka semua yang ada di Dandy. Dari senyumnya yang ramah, matanya yang bermakna, hidung bangir khas Shahruk Khan, gayanya yang cool, tingkahnya yang kadang penuh perhatian dan wajahnya Dandy yang begitu mempesona. Dan Raia begitu terhipnotis. Raia ingin selangkah lebih maju dekat dengan Dandy, tapi rasa malu begitu kuat menghalangi langkahnya. Dan Raia selalu bertanya-tanya, apa Dandy sudi berteman dengannya?, padahal mereka sudah berkenalan. Apa Dandy ingin mendekatinya?, kalau di lihat dari senyumnya, seakan bermakna Dandy mau punya hubungan dekat dengan Raia. Aaggh...Dandy, aku mau jadi milikmu..dan aku rasanya sudah gila memikirkan kamu..., ooh Tuhanku tolong aku mengapa ku jadi malu...
“aku yg selalu punya sejuta cara
cara tuk merayu tapi yang terjadi kini aku seperti ini ku bingung sendiri
di kepalaku ada suka yang menggila..sudikah kamu mengenalku mendekati aku...
aku mau tapi maluuu..,ku suka gayamu, tingkahmu,senyummu tapi ku maluuu
tuk katakan padanya...”
“ Raa.., jangan cuma bisa dengerin lagu Gita Gutawa aja dong.., usaha dulu “, nasehat Gilli serius. Gilli memang jadi terheran-heran, kenapa Raia yang dulunya begitu fasih mendekati cowok, jadi minder dan tak ada nyali sama sekali berhadapan dengan Dandy.
Padahal dua bulan sebelumnya saat berkenalan dengan Dandy, Raia dengan mantap mengakhiri cerita cintanya dengan Ivan. Dan hari itu Ivan melepasnya dengan nyanyian Cinta ini membunuhku, milik D’Masive. Dan sekarang Gilli harus berusaha keras membangkitkan kembali gairah Raia merayu cowok pujaan. Setelah bersusah payah, akhirnya Raia mau berhadapan dengan Dandy sepulang sekolah di kantin. Gilli mendukungnya di balik dapur tempat biasa penjaga kantin membuat mie instant.
“ Fighting Ra...”, ucap Gilli menirukan semangat ala film
“Dandy.., aa..aku...”. Raia berhenti berkata-kata. Jantungnya berdegup kencang. Dandy tersenyum memandang Raia dengan mimik heran. “
“ Aku baru saja jadian....sama Donna ”, sahut Dandy dengan senyumnya yang menawan. Raia tambah malu minta ampun. Ia sudah bertingkah bodoh. Dan sekarang Donna, mantannya Ivan yang memenangkan kompetisi ini.Dan sekali lagi Raia hanya mampu bernyanyi.
“Aku yg selalu punya sejuta cara..,cara tuk merayu..
tapi yang terjadi kini aku seperti ini ku bingung sendiri..,
di kepalaku ada suka yang menggila.., sudikah kamu mengenalku mendekati aku...
aku mauuu..tapi maluuu..,ku suka gayamu,tingkahmu,senyummu..
tapi ku malu.., tuk katakan padanya....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar